Dr. Ongky Setio Kuncono, SH., SE., MM, MBA
Sabda Nabi Khonghucu, "Seorang Junzi terhadap persoalan dunia tidak mengiyakan atau menolak mentah-mentah. Hanya kebenaranlah yang dijadikan ukuran" (Lun Yu Jilid IV:10). Di sisi lain bahwa setiap tindakan manusia harus mengacu pada rasio/akalnya berlandaskan pada kebenaran. "Orang harus berpikir benar, barulah dapat berhasil" (Ajaran Besar BAB Utama:2).
umat Khonghucu, Kebajikan adalah jalan menuju Tuhan. Jikalau konsep ini diterapkan dalam kehidupan beragama maka akan tercipta tatanan masyarakat yang damai dan harmonis.
Ada lima Kebajikan dalam agama Khonghucu yakni Ren, Yi, Li, Zhi, dan Xin seperti pada infografis di atas.
Secara umum moderasi beragama adalah pandangan dan sikap mental yang tidak konservatif dan tidak liberal melainkan di tengah-tengah antara konservatif dan liberal. Sikap tengah atau Zhong dalam pandangan Khonghucu itu tidak ektsrem melainkan harmoni. Sikap harmoni bukan plin plan, bukan ragu ragu tetapi prinsip yang tepat benar.
Sikap mental harmoni menjadi ajaran agama Khonghucu dalam menghadapi setiap persoalan agar bisa diselesaikan dengan harmonis pula. Maka setiap insan Khonghucu (Junzi) wajib bersikap dan bertindak harmoni dalam setiap langkahnya. Orang yang terlalu ekstrem dianggap kaku, kurang luwes dan tidak bisa hidup secara harmonis di lingkungan masyarakat. Sebaliknya, orang yang luwes bisa menyesuaikan diri di dalam lingkungan pergaulan yang bersifat majemuk. Sikap luwes dan tidak kaku itulah yang menjadi modal dasar dalam hidup bermasyarakat, berbangsa bahkan bernegara.
Dalam pandangan Khonghucu bahwa hidup secara luwes itu dilandasi kebenaran sebagai ukurannya. Kebenaran bukan keraguan, melainkan sebagai pertimbangan untuk menentukan segala sesuatunya. Setiap langkah dan tindakannya harus berhati-hati, artinya dalam menyikapi segala sesuatunya tidak yes or no, melainkan kebenaran itu sendiri sebagai tolok ukurnya.
Moderasi Beragama Pendekatan Khonghucu
Seperti pada infografis di atas, ada beberapa hal pendekatan yang bisa diambil sebagai landasan moderasi beragama sebagai berikut.
1. Konsep Wei De Dong Tian
Konsep ini menjadi salam dalam agama Khonghucu yang artinya Hanya Dengan Kebajikan Tuhan Berkenan. Secara umum mereka menyebut sebagai salam Kebajikan. Artinya, segala langkah, tindak tanduk dan perbuatan manusia harus berdasarkan Kebajikan karena bagi
a. Ren = Cinta Kasih, dalam pergaulan hidup kita dituntut untuk bercinta kasih kepada siapa saja. Cinta kasih hendaknya menjadi pedoman dalam kehidupan manusia. Bahkan seorang yang bercinta kasih harus bisa mencintai orang yang justru kadang membuat hati kita jengkel atau orang yang justru meremehkan kita.
b. Yi = Kebenaran, segala tingkah laku dan perbuatan manusia harus didasarkan pada kebenaran. Jikalau nilai kebenaran ini dipergunakan sebagai pedoman moderasi beragama tentu akan menjadikan kehidupan ini sesuai dengan apa yang kita inginkan bersama.
c. Li = tata susila atau tata krama, yakni sikap dan perbuatan manusia harus selalu memiliki etika moral atau adat istiadat atau tata krama yang benar sehingga terciptanya kehidupan yang memiliki peradaban.
d. Zhi = Kebijaksanaan, seorang harus menerapkan sikap bijaksana dalam menghadapi kehidupan di masyarakat. Sikap bijaksana akan menjadi tauladan bagi masyarakat.
e. Xin = dapat dipercaya, kejujuran, kepercayaan menjadi hal utama dalam setiap pergaulan. Jika kejujuran ini diterapkan akan terciptakan kehidupan yang terbuka dalam masyarakat.
2. Konsep Zhong Shu
Zhong artinya satya secara vertikal terkait satya kepada Tuhan (Tian) sebagai Khalik Pencipta Alam. Sedangkan Shu yang berarti tepasalira bersifat secara horisontal yang menjalin hubungan antar manusia. Tepasalira yang mengandung pengertian 'apa yang tidak baik buat diri sendiri janganlah diberikan kepada orang lain'.
Tepasalira jelas dijabarkan dalam Kitab Zhong Yong Bab XII:3, hal 29 berbunyi: "Satya dan Tepasalira itu tidak jauh dari Dao (Jalan Suci), apa yang tidak diharapkan mengena diri sendiri janganlah diberikan orang lain".
Kelima Kebajikan di atas harus dijalankan secara bersama-sama. Sebagai contoh orang harus bercinta kasih yang diimbangi dengan etika moral atau sebaliknya orang harus jujur berdasarkan kebenaran.
3. Konsep Semua Saudara
Di samping konsep Zhong Shu, ada beberapa konsep lain dalam agama Khonghucu yang bisa menjadi landasan, yakni ajaran agama Khonghucu di mana ada pendidikan tanpa perbedaan, jauh dari diskriminasi, melainkan menganggap bahwa kita semua adalah saudara. "Di empat penjuru lautan, semuanya saudara" (Lun Yu Jilid XII: 5, hal 120).
4. Konsep Tidak Mengharuskan dan Kukuh
Hidup berkeluarga secara harmonis baik dalam keluarga, masyarakat bahkan negara bagaikan laksana alat musik yang ditabuh harmonis, tidak fals, melainkan seiring dan selaras. Nyaman dilihat dan juga nyaman didengarkan, indah dipandang dan indah dirasakan di dalam hati. Gambaran keharmonisan itu tercermin dalam masyarakat yang beragam tapi damai bagai bunga-bunga yang ada ditanam bunga (buka Zhong Yong Bab XIV:2, hal 31).
Begitu pula dalam penerapan pergaulan yang plural ini perlu dihindari sikap yang "mengharuskan dan kukuh" (Lun Yu IX: 4). Sikap tidak mengharuskan dan kukuh bisa dijabarkan tidak memaksakan kehendak orang lain.
5. Konsep kepentingan umum
Konsep ini menjadi landasan bagi ajaran agama Khonghucu di mana adanya pengutamaan kepentingan umum di atas kepentingan diri sendiri. Mengutamakan kewajiban ketimbang mendepankan haknya. Dalam konteks yang lebih luas lagi adalah mengutamakan kepentingan umum ketimbang kepentingan kelompoknya.
Memang konsep ini tidak mudah dilakukan, melainkan harus menjadi keutamaan yang dijaga dan dipelihara, minimal manusia tidak lagi ego. Mencoba meletakkan posisinya sebagai bagian dari kelompok besar yang harus diutamakan.
Dalam Lun Yu Jilid II: 14, hal 60, tertulis: Nabi Bersabda, "Seorang Junzi mengutamakan kepentingan umum, bukan kelompok; seorang rendah budi (Xiao Ren) mengutamakan kelompok, bukan kepentingan umum". Apabila sikap mengutamakan kepentingan umum ini menjadi landasan kuat dalam kehidupan moderasi beragama, tentu akan terjalin hubungan yang harmonis di antara pemeluk agama yang berbeda-beda itu.
Dalam konsep ini menjelaskan pentingnya meneliti hakikat tiap perkara. Mencoba mengkaji secara teliti setiap persoalan yang muncul dengan hati yang dingin, secara terang, sehingga didapatkan suatu kesimpulan yang benar. Konsep ini juga menjelaskan bagaimana dalam menghadapi persoalan tidak mudah menolak atau menerima, yes or no, melainkan berpedoman pada garis kebenaran melalui pengkajian yang mendalam.
Konsep ini bisa kita lihat dari Ajaran Khonghucu yang tertera dalam Kitab Lun Yu Jilid IV:10, hal 70: Nabi bersabda, "Seorang Junzi terhadap persoalan di dunia tidak mengiyakan atau menolak mentah-mentah. Hanya Kebenaranlah yang dijadikan ukuran".
7. Konsep menegakkan orang lain
Dalam konsep ini mengajarkan akan pentingnya membantu orang lain tegak. Upaya supaya agar orang lain pun bisa merasakan apa yang sedang kita rasakan. Kemajuan dan kesuksesan kita harus juga bisa diikuti oleh orang lain. Jika pola pikir ini diterapkan dalam kehidupan moderasi beragama sudah barang tentu akan tumbuh jiwa kekeluargaan dan kebersamaan.
Konsep ini tertuang dalam Kitab Lun Yu Jilid VI: 30, 3, hal 85, yakni: "Seorang yang berperi Cinta Kasih ingin dapat tegak, maka berusaha agar orang tegak; ia ingin maju, maka berusaha agar orang lainpun maju".
8. Konsep Yin Yang
Konsep keselarasan, keserasian dan keharmonisan yang bersifat tengah, bukan ekstrem. Dengan konsep Yin Yang, tidak memandang hitam dan putih, melainkan lebih melihat pada jalan tengah yang seimbang.
Jika konsep Yin Yang ini diterapkan dalam moderasi beragama tentu akan lebih berpikir pada pertimbangan tengah yang lurus dan adil. Dengan konsep Yin Yang tidak akan berpikir kerdil dan pendek, sebab melihat kebaikan pun tentu menyadari ada kejelekan begitu pula sebaliknya di dalam kejelekan tentu ada kebaikan. Wawasan inilah yang menjadikan seorang berpikir secara lengkap serta memiliki pertimbangan yang matang.
Dalam Kitab Yak King, Babaran Agung (B) IV:28, hal 154, mengatakan: "Di dalam trigram YANG, positif terkandung lebih banyak unsur IEM, negatif. Di dalam trigram IEM, terkandung lebih banyak unsur YANG, positif".
Semoga dengan konsep-konsep Moderasi Beragama pendekatan Khonghucu bisa digunakan pedoman dalam pergaulan di masyarakat yang majemuk ini.
Di samping 8 poin di atas, ada dua hal penting yang tidak bisa kita tinggalkan di mana masalah agama yang menyangkut akidah atau pokok ajaran agama jangan dibicarakan atau didebatkan karena hal itu menyangkut prinsip agama masing-masing. Pertama, dalam konteks ini Nabi Khoncu dengan tegas mengatakan: "Berlainan Dao (Jalan Suci) jangan didebatkan". Artinya, bahwa menghormati perbedaan menjadi hal utama yang harus dijunjung tinggi. Perbedaan menjadi faktual yang harus diakui karena kita semua memang berbeda.
Kedua, agama Khonghucu menentang kekerasan dalam menyelesaikan suatu permasalahan melainkan mengedepankan ketauladanan untuk bisa mengubah seseorang yang jelek menjadi baik. Dalam Kitab Shi Su, Ji Kang Zi bertanya tentang pemerintahan kepada Nabi Kongzi, "Bagaimanakah bila dibunuh orang-orang yang ingkar dari Jalan Suci, untuk mengembangkan Jalan Suci?", Nabi Kongzi menjawab, "Kamu memangku jabatan pemerintahan mengapa harus membunuh? Bila kamu berbuat baik, niscaya rakyat akan mengikuti baik, dan kebajikan rakyat laksana rumput kemana angin bertiup, di situlah rumput mengarah" (Lun Yu XII :1 & 2).

