Untuk agama penganut yang terbesar adalah Islam menyusul kristen, Katolik, Hindu, Budha, Kong Hu Cu, aliran kepercayaan, dan penghayat. Namun alih-alih bahwa suatu agama bersifat tunggal, suatu agama yang sama pun terdiri dari berbagai macam komunitas, denominasi, dan kelompok-kelompok yang berbeda. Jika kemajemukan ini tidak dilihat sebagai kekayaan, kemajemukan dapat melahirkan potensi lain, yaitu potensi perpecahan.
Jika masih ada narasi intolerasi sampai saat ini. Berarti sadar atau tidak, bangsa kita saat ini masih ada yang mengingkari kebhinekaan. Hidup tidak lagi sesuai dengan nilai-nilai budaya dan cita-cita mulia kehidupan berbangsa seperti yang digariskan para pendiri bangsa. Masalah-masalah yang berkaitan dengan rasa persaudaraan semakin terkikis, tetapi egoism/ekstrimisme golongan semakin mencuat.
Indonesia adalah negara yang masyarakatnya sangat religius dan sekaligus majemuk. Meskipun bukan negara berdasar agama tertentu, masyarakat kita sangat lekat dengan kehidupan beragama. Nyaris tidak ada satu pun urusan sehari-hari yang tidak berkaitan dengan agama. Itu mengapa, kemerdekaan beragama juga dijamin oleh konstitusi kita. Nah, tugas kita adalah bagaimana menjaga keseimbangan antara kebebasan beragama itu dengan komitmen kebangsaan untuk menumbuhkan toleransi. Di sinilah arti penting Moderasi Beragama.
Konsep Moderasi Beragama
Kita kupas terlebih dulu secara bahasa. Moderat adalah sebuah kata sifat, turunan dari kata moderation, yang berarti tidak berlebih-lebihan atau sedang. Kata moderasi sendiri berasal dari bahasa Latin moderatio, yang berarti ke-sedang-an, tidak kelebihan, dan tidak kekurangan, alias seimbang. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata moderasi didefinisikan sebagai pengurangan kekerasan, atau penghindaran keekstreman.
Maka, ketika kata moderasi disandingkan dengan kata beragama menjadi moderasi beragama, istilah tersebut berarti pada sikap mengurangi kekerasan, atau menghindari keekstreman dalam cara pandang, sikap, dan praktik beragama. Karenanya, kalau mau dirumuskan moderasi beragama itu adalah cara pandang, sikap, dan praktik beragama dalam kehidupan bersama, dengan cara mengejawantahkan esensi ajaran agama—yang melindungi martabat kemanusiaan dan membangun kemaslahatan umum, berlandaskan prinsip adil, berimbang, dan menaati konstitusi sebagai kesepakatan berbangsa.
Jadi, moderasi beragama adalah proses memahami sekaligus mengamalkan ajaran agama secara adil dan seimbang, agar terhindar dari perilaku yang menyimpang yang tidak ada diajarkan di dalam agama. Suatu proses memahami sekaligus mengamalkan ajaran agama secara adil dan seimbang agar terhindar dari perilaku yang menyimpang yang tidak ada diajarkan di dalam agama. Seperti, menghakimi seseorang tanpa menanyakan terlebih dahulu apa permasalahannya, merampas yang bukan miliknya, dan sebagainya. Hal ini perlu kita pahami dengan cara pandang dan sikap moderat dalam beragama, karena ini sangatlah penting bagi kita dalam kehidupan sehari-harinya. Terkhususnya di negara Indonesia yang memiliki beranekaragam suku bangsa dan agama. Dalam hal ini tentunya akan mudah munculnya perselisihan pendapat dan konflik yang timbul di tengah-tengah masyarakat, tidak hanya dengan suku dan agama yang berbeda, tetapi sering kita jumpai perselisihan pendapat dan konflik juga timbul di dalam suku dan agama yang sama. Sehingga menimbulkan kesenjangan di dalam ruang lingkup bermasyarakat.
Mengelola Potensi Konflik
Keragaman, di bidang apapun, memang pasti menimbulkan adanya perbedaan, apalagi yang terkait dengan agama. Dan, harus diakui bahwa perbedaan itu, apalagi yang tajam dan ekstrem, di mana pun selalu memunculkan potensi konflik. Kalau tidak dikelola dengan baik, potensi konflik seperti ini bisa melahirkan sikap ekstrem dalam membela tafsir klaim kebenaran versi masing-masing kelompok yang berbeda.
Konflik yang berlatar belakang perbedaan klaim kebenaran tafsir agama, tentu daya rusaknya akan lebih dahsyat lagi, karena agama itu amat berkaitan dengan relung emosi terdalam dan terjauh di dalam jiwa setiap manusia. Itulah mengapa moderasi beragama sangatlah penting. Ia bisa menjadi solusi untuk menciptakan kerukunan, harmoni sosial, sekaligus menjaga kebebasan dalam menjalankan kehidupan beragama, menghargai keragaman tafsir dan perbedaan pandangan, serta tidak terjebak pada ekstremisme, intoleransi, dan kekerasan atas nama agama.
Dengan adanya cara pandang dan sikap moderat inilah keragaman dapat disikapi dengan bijak serta toleransi dan keadilan dapat terwujud, karena di dalam diri kita sudah mengandung prinsip moderasi, yaitu keadilan dan keseimbangan.
Semangat Toleransi Melemah
Indonesia adalah negara dengan beragam agama dan kepercayaan, juga mazhab dan aliran, tentunya perselisihan pendapat, dan konflik mudah sekali muncul dengan sendirinya. Sebagai bangsa yang masyarakatnya amat majemuk, kita sering menyaksikan adanya gesekan sosial akibat perbedaan cara pandang masalah keagamaan. Ini tak ayal dapat mengganggu suasana rukun dan damai yang kita idam-idamkan bersama. Intoleransi bisa menguat.
Mengapa intoleransi menguat? Intoleransi bukanlah sebuah sikap yang tiba-tiba turun dari langit. Beberapa faktor utama bisa dilihat sebagai penyebabnya. Menurut Bagong Suyanto (Guru Besar Unair Surabaya; Jawa Pos, 23 Februari 2019), secara garis besar, semua faktor yang mengakibatkan semangat toleransi di masyarakat cenderung makin melemah dan masyarakat seolah selalu dibayangi potensi konflik.
Pertama, karena titik silang yang menyempitkan berbagai kelompok masyarakat yang berbeda dari segi agama, etnis maupun golongan untuk dapat saling menyapa belum berkembang dan bahkan cenderung makin hilang. Zona sosial yang memungkinkan antarumat yang berbeda dapat bertemu dan saling mengenal lebih mendalam umat yang lain, tidak banyak tercipta sehingga menimbulkan jarak sosial.
Kedua, karena demarkasi antar kelompok masyarakat yang berbeda cenderung makin tegas, kaku. Alih-alih saling bersilaturahmi untuk memperdalam pengenalan dan menghilangkan syak wasangka, dalam kenyataan yang berkembang, justru stigma dan rasa curiga. Hanya karena dipicu soal sepele, jangan kaget jika masyarakat yang berbeda tiba-tiba meletup dan terlibat dalam konflik yang menegasi. Di kota besar, misalnya sudah menjadi tren umum, antar kelompok yang berbeda tinggal dan mengembangkan aktivitas yang terpisah. Warga masyarakat yang berbeda dari segi etnis, agama dan status sosial cenderung hidup terpisah dan mengembangkan aktivitas hanya di seputar kelompoknya sendiri.
Ini semua fakta yang kita hadapi. Moderasi Beragama sangat penting dijadikan pembahasan di dalam mengelola kehidupan beragama. Dikarenakan dengan semakin pesatnya perkembangan teknologi informasi, kita sebagai masyarakat yang milenial dalam konteks kehidupan bermasyarakat, dengan adanya moderasi ini harus dipahami sebagai komitmen bersama, untuk menjaga keseimbangan di tengah-tengah kehidupan masyarakat. Yang memiliki suku, etnis, budaya, agama yang berbeda, tetapi harus mau saling mendengarkan satu sama lain, serta saling belajar melatih kemampuan mengelola dan mengatasi perbedaan di antara setiap orang. Sikap dan perilaku kita yang mencerminkan sebuah bangsa yang memiliki suku, dan agama yang berbeda, tetapi tidak terlepas dari nilai-nilai luhur, sebagaimana leluhur bangsa Indonesia sebelumnya yang menjunjung tinggi kejujuran, mandiri, saling menghargai, santun dalam bertutur kata, bersikap dan berperilaku, disiplin, bertanggung jawab, berbhineka (menerima adanya perbedaan budaya, mempelajari budaya lain yang bertujuan untuk menghindari sebuah konflik).
Menjawab Tantangan Moderasi Beragama
Salah satu ayat Alkitab yang dapat dikutip dalam upaya mewujudkan komitmen Indonesia bersatu adalah Yeremia 29:7 ”Usahakanlah kesejahteraan kota kemana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada Tuhan, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu”. Konteks ayat ini adalah pembuangan yang dialami oleh masyarakat Israel di tengah pembuangan Babilonia selama 70 tahun. Komunitas Kristiani jelas mengalami nasib yang berbeda dengan Israel pada abad keenam Sebelum Masehi tersebut, karena komunitas Kristiani tidak sedang dalam pembuangan ketika berada di tengah bangsa Indonesia.
Namun ada beberapa hal yang bisa dianggap sejajar dan saling beresonansi, misalnya adalah keberadaan komunitas kristiani sebagai minoritas. Bangsa Israel pada masa itu pun menjadi minoritas di Babilonia. Harus diakui kondisi minoritas ini rentan pada ketidakadilan. Tapi penulis Yeremia mengajak kondisi ini bukan sebagai pemicu resistansi dan pesimisme, tetapi justru menjadi semangat untuk hidup bersama yang lain mewujudkan kesejahteraan kota di mana mereka tinggal. Tidak dapat dipungkiri bahwa tempat di mana mereka tinggal menjadi makmur, maka kondisi ini pun akan membawa dampak bagi kehidupan komunitas minoritas ini. Mengusahakan kesejahteraan bersama menggeser titik tekan dari melulu melihat diri sebagai minoritas yang menderita menuju sekalipun minoritas tetapi tetap bisa memberikan sumbangsih bahkan dampak bagi kehidupan bersama. Minoritas menjadi bagian komunitas bersama.
Resonansi lain yang juga bersejajar adalah keberadaan kita dan ‘yang lain’. Ayat tersebut menunjukkan bahwa kita dan yang lain memang berbeda. Tetapi kita tidak selalu perlu dilihat sebagai sebuah kenyataan yang eksklusif. Kita bisa bergerak bersama yang lain untuk sebuah tujuan bersama. Perspektif yang juga ikut bergeser selain dari minoritas menuju komunitas bersama adalah panggilan untuk menerima yang lain yang berbeda dalam mewujudkan cita-cita bersama. Rumah Bhineka.
Dalam semangat Moderasi Beragama, kedirian meluruh menjadi semangat menerima keberadaan yang lain, terbuka pada yang lain, eksklusif menjadi inklusif.
Opini
Langkah mewujudkan cita-cita bersama ini, dapat dilakukan dengan beberapa pendekatan. Pertama, menanamkan cara pandang, sikap dan perilaku berbasis nilai toleransi. Sikap intoleran pada umumnya lahir dari penolakan dan ketakutan, atas ketidakpahaman dalam menyikapi perbedaan budaya, bangsa, dan agama. Ketidakpahaman tersebut mengiringi individu untuk bersikap arogan dan melebih-lebihkan diri atau kelompoknya. Gagasan tersebut diajarkan dan dipelajari di masa kecil dari lingkungan, baik itu sekolah, keluarga, maupun masyarakat. Oleh sebab itu, dibutuhkan pendidikan yang mengajarkan anak untuk berpandangan terbuka dan tertarik untuk memahami perbedaan yang ada. Terlebih untuk menghindari pemaksaan terhadap anak untuk bersikap toleran, namun ditekankan pada realitas perbedaan yang ada. Sehingga anak dapat belajar memahami perbedaan di kehidupan sekitar dan belajar untuk bersikap toleran tanpa harus adanya pemaksaan. Pendidikan toleransi juga dibutuhkan semua umur, mengingat pendidikan tidak hanya di bangku sekolah saja. Namun bisa diterapkan di rumah, organisasi masyarakat, pelatihan kerja, penegakan hukum, hubungan masyarakat, dan lainnya.
Kedua, minoritas tapi tidak inferior. Ketika berhadapan dengan semakin maraknya sikap intoleran, janganlah kita menunggu pemerintah atau institusi untuk bergerak mengatasinya. Kita semua bagian dari solusi. Kita memang minoritas namun tidak boleh merasa inferior. Perilaku intoleran bisa dilawan dengan aksi damai, tindakan yang membawa pesan arti kehidupan pluralisme yang sebenarnya dengan semangat persatuan. Aksi damai tersebut bisa berupa tindakan yang mengajak masyarakat untuk melawan intoleransi bersama-sama, mengorganisasi jaringan pergerakan, menunjukkan serta mendemonstrasikan solidaritas kepada korban perilaku intoleran, menolak propaganda kebencian. Tindakan-tindakan tersebut bisa dilakukan semua orang jika ingin mengakhiri perilaku intoleran, kerusuhan, dan kebencian.
Ketiga, menjalin silaturahmi. Membangun relasi demi menghilangkan kemungkinan munculnya jarak sosial dan rasa saling curiga. Berinisiatif menjalin silaturahmi dan membudayakan dialog dengan semua pihak. Di sinilah diperlukan kerja sama dengan organisasi moderat di Indonesia dalam memperkuat nilai-nilai kebhinekaan di sekolah-sekolah negeri. Jadi, dapat disimpulkan bahwa upaya penanggulangan intoleransi antar umat beragama adalah tanggung jawab bersama. Peran sinergis antara keluarga, sekolah, pemimpin agama, dan pemerintah perlu diwujudkan.
Keempat, komitmen “Indonesia sebagai rumah bersama”. Kesadaran bahwa Indonesia sebagai rumah bersama diharapkan bisa memupuk persaudaraan sejati. Rumah bukan sekadar tempat, tetapi rumah adalah suasana. Rumah menunjukkan pribadi-pribadi yang berbeda tinggal dalam sebuah atap bersama mewujudkan hidup bersama. Adalah benar, disiplin nasional perlu ditegakkan dan moral bangsa diperbaiki. Hal itu akan bisa diwujudkan jika keadilan bisa ditegakkan tanpa harus memandang perbedaan dan latar belakang.
Berdiri tegaknya negeri ini butuh ditopang oleh kebhinekaan. Berdirinya negeri ini, karena para pendiri negara menerima perbedaan sebagai fakta dan menghormatinya. Semangat kerukunan sesungguhnya bukanlah hal baru bagi bangsa Indonesia. Bangsa yang demikian majemuk ini sulit bisa bersepakat mendirikan sebuah negara yang tidak sekuler dan tidak negara agama, akan tetapi bersepakat mendirikan negara kebangsaan (nation state). Akan tetapi dalam perjalanan hidup bangsa indonesia, ide kerukunan ini sering mengalami pasang surut. Pemahaman masyarakat yang paling dominan adalah kerukunan pasif, yaitu kehidupan masyarakat yang heterogen akan tetapi sedikit sekali langkah-langkah untuk membangun semangat kebersamaan menuju kerja sama sosial. Oleh karena itu, maka dipandang sudah seharusnya dibangun budaya kerukunan aktif, yaitu (1) setiap umat beragama meyakini secara absolut ajaran agama yang diyakininya dan tidak membuka diri meragukan keyakinannya; (2) mengakui, menghargai, menghormati keberadaan ajaran agama lain yang dianut oleh saudaranya yang berbeda agama atau aliran organisasi keagamaan namun berupaya ikut menikmati suasana kesyahduan, ketika saudara yang berbeda agama tersebut mengamalkan keyakinannya atau merayakan hari besar keagamaannya.
Atas dasar itu, maka prasyarat terwujudnya kerukunan umat beragama dalam komitmen mewujudkan Indonesia sebagai rumah bersama adalah semangat pembacaan teks-teks ajaran agama yang dirujuk kepada kitab sucinya selalu didasari semangat cinta dan kasih sayang. Ajaran Kristen berpusat pada kasih. Ajaran Kristen selalu mengedepankan kasih dalam segala halnya. Jika kasih ini ditegakkan maka komitmen tersebut tidak mustahil.
Injil Matius 22 ayat 37-40:
Kasihilah Tuhanmu dengan segenap hatimu dan dengan segenap akal budimu. Inilah hukum yang terutama dan paling utama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.
Penutup
Moderasi beragama harus kita jadikan sebagai sarana mewujudkan kehidupan beragama dan berbangsa yang rukun, harmonis, damai, toleran, serta taat konstitusi, sehingga kita bisa benar-benar menggapai cita-cita bersama menuju Indonesia maju.
Untuk itu, melalui moderasi beragama, mari kita jaga persatuan dan kesatuan negara Republik Indonesia ini, yang telah diperjuangkan dengan penuh pengorbanan, termasuk oleh tokoh dan umat beragama, para pahlawan kita.
Salam Kerukunan
Literatur:
1. Pdt. Natael Hermawan (Merawat Kebhinekaan)
2. Prof. Dr. Oman Fathurahman, M. Hum (Kenapa Harus Moderasi Beragama)
3. Dr. Maulana Malik Rokan (Moderasi Beragama)

