Tahun 2011, aksi demo serentak anti pemerintah yang disebut Arab Spring terjadi di Aljazair, Mesir, dan Tunisia, juga merembet ke Libya, maklum, empat negara itu sambung menyambung bertengger di bagian utara benua Afrika. Aksi tersebut berhasil dengan sangat cepat melengserkan pimpinan tertinggi negeri itu Kolonel Muammar Qaddafi, yang telah berkuasa selama 42 tahun. Negara ini selanjutnya masuk ke dalam perang saudara yang sangat panjang, sampai bulan Juli 2020 belum lama ini, Pemerintah Persatuan Bangsa-Bangsa mengumumkan telah berhasil menguasai Tripoli, ibukota Libya.
Saya beruntung bisa kunjungi Libya sebelum perang saudara, yaitu pada tahun 2008. Waktu itu ada pertemuan di Mesir yang saya hadiri. Di kala itu saya cukup akrab dengan rekan di Kedutaan Besar R.I. di Kairo, juga rekan kerja saya orang Mesir. Maka atas bantuan para pihak saya bisa mengunjungi Libya untuk pertama kalinya, didampingi rekan orang Mesir yang saya sebut tadi.
Kesan pertama memasuki negara yang dipimpin Kolonel Qaddafi, di mana dia seorang yang sangat anti pada dunia barat, adalah sama sekali tidak ditemukan bahasa Inggris. Pengisian form kunjungan di bandara tidak ada yang versi Inggris, demikian pula pemandangan ketika kita memasuki kota.
Kalau di Mesir kita beranggapan, 90% orang Mesir tinggal di wilayah bantaran Sungai Nil, yang seluas hanya 10% negara Mesir. Di Libya sama juga, 90% orang tinggal di pantai utara dekat Tripoli yang merupakan 10% luas negara. Maklum, sisanya adalah bagian dari Gurun Pasir Sahara, dan semi gurun pasir. Beberapa kota kecil ada di tengah semi gurun, ya karena merupakan persinggahan perjalanan dan terdapat oase atau sumber air.
Kesan pertama tanah terbuka tanpa rumput dan tanaman ada di mana-mana, maklum, pemandangan seperti ini sudah biasa di negara sekitar. Baru berubah setelah memasuki wilayah Tripoli yg lumayan teduh. Jalanan dalam kota cukup bagus, tidak terlalu lebar tapi juga tidak sesempit di Kairo. Mobil yang lalu-lalang cukup bagus, atau boleh dikatakan jauh lebih bagus dari Kairo yang penuh dengan kendaraan sangat kuno seperti Fiat 124 dan Peugeot 504, yang sama adalah kurangnya ketertiban di jalanan.
Secara umum, kota Tripoli yang berada di tepi Laut Mediterania (Laut Tengah) tergolong sejuk dan hijau, Kota Tripoli kuno sangat kental kesan budaya Arab, sedangkan perkembangan zona baru terkesan cukup modern. Maklum, 90% penduduk Libya yang berjumlah enam juta jiwa lebih adalah keturunan Arab, dan lebih dari 95% penduduknya adalah Muslim Sunni.
Satu hal yang dapat kita lihat adalah bendera Nasional Libya dapat ditemui di mana-mana, demikian pula foto ukuran besar pimpinan mereka Kolonel Qaddafi. Maklum, waktu saya berkunjung, Sang Kolonel masih berkuasa dan dia menjadi tokoh dunia yang sangat frontal anti negara barat.
Konsekuensinya adalah berbagai embargo telah diterapkan oleh negara barat dan sekutunya, namun Libya yang saya temui, ternyata jauh lebih cantik dari apa yang saya bayangkan sebelumnya, apalagi ibukotanya.
Saya bermalam di sebuah hotel tidak jauh dari Kedutaan Besar Indonesia, kebanyakan hotel menggunakan nama bahasa Arab, sebagai bahasa Nasional, sehingga saya juga kerepotan untuk menghafalkannya, kondisi kamar bukan standar hotel di sini, tapi kental sekali nuansa bahwa kita sedang ada di sebuah negara Arab. Demikian juga makanan yang disajikan pada makan paginya, menu standar Timur Tengah sangat menonjol. Bersyukur saya kebetulan sangat suka dengan makanan tersebut, jadi tidak ada masalah, malah kenikmatan yang saya dapatkan. Makanan di luar hotel juga demikian, membuat perjalanan saya selama tiga hari sungguh mengendapkan kenangan yang indah.
Sedikit perbedaan adalah, makanan Libya yang bersumber dari negara Arab ada campuran budaya dari Laut Tengah dan Itali. Tripoli berawal dari sebuah kota pelabuhan, mungkin berjarak sekitar Surabaya sampai Banjarmasin, adalah negara kepulauan Malta, lanjut adalah Selatan Itali. Mungkin sejarah Libya pernah dijajah Itali, maka tidak jarang di menu ada Makaroni asal Itali, di samping makanan lokal seperti Cous-cous semacam mashed potato campuran daging sapi atau kambing, sup Shorba yang merah tua, atau Roti Maryam yang disebut Bazin, di samping ada makanan pencuci mulut yang manisnya amit-amit, Asida.
Kota tua Tripoli ada di ujung pantai paling utara, sama seperti Surabaya dimulai dari Pelabuhan Ujung Galuh, Jakarta dimulai dari Pelabuhan Sunda Kelapa, dan di sanalah sejarah kota yang paling tua berada. Saya diajak menelusuri kota tua itu, yang sebagian jalannya cukup sempit dan kuno sekali, jadi hanya pejalan kaki saja. Salah satu yang paling ikonik adalah Kastil Merah yg dijadikan museum, sekeliling itu banyak pasar yang disebut bazar, orang berjualan macam-macam di toko kecil, kaki lima atau dihamparkan di lantai, kebanyakan yang dijual adalah produk lokal. Dalam kota tua, ciri khas lain adalah cukup banyak masjid yang bersejarah panjang, namun di zaman Qaddafi, wanita Muslim tidak semuanya menggunakan hijab, mereka termasuk yang paling “liberal” dari semua negara di Afrika Utara.
Saya juga dapat kesempatan mengunjungi sebuah tempat yang sangat bersejarah, Leptis Magna, yang terletak sekitar 130 km dari Tripoli. Leptis Magna konon dibangun oleh Kerajaan Roma, pada sekitar abad ke 1 atau ke 2, maka nuansa Roma kuno sangat jelas. Dia juga sebuah kota pelabuhan pada jamannya, yang terletak di sebelah timur Tripoli.
Di area yang sekitar 200 hektar luasnya ini, telah dipotret oleh Unesco sebagai World Heritage yang dilindungi.
Sekalipun jaman dahulu kala pernah jadi pelabuhan besar, ibu kota kerajaan, namun kerusakan sudah dimulai sekitar 1400 tahun yang lalu sejak kota ini ditinggal oleh penghuninya. Pada Abad ke 17 ditemukan oleh peneliti arkeologi Prancis, menarik perhatian benua Eropa, Inggris masuk dan hampir membongkar seluruh situs dibawa pulang untuk museum-museum mereka, sisa puing-puing sampai hari ini tetap mengagumkan, bahkan dianggap sebuah situs bangunan Romawi yang paling utuh di sekeliling Laut Tengah.
Sewaktu saya di sana, tidak ramai oleh para pengunjung, mungkin karena situsnya cukup luas. Terlihat ada zona tertentu diberi pagar untuk keperluan galian penelitian yang sedang berlangsung.
Masih ada situs berserakan, belum ada upaya pemugaran yang dilakukan. Di antara situs itu termasuk Theater yg megah, Gerbang Arc Tiberius, Severan Basilica (Gereja), Hadrianic Bath (tempat mandi umum), Severan Forum (lapangan), Colosseum (pertunjukan pertarungan manusia dengan binatang buas), gerbang mewah Arc de Triomphe, museum, tiang-tiang dan sebagian dinding yang sangat megah masih berdiri dengan tegak, seperti masih ingin menyampaikan kisah kebesarannya pada masa silam. Saya berjalan berkeliling di dalamnya, merasa seperti waktu ditarik mundur hampir 20 abad yang lalu dan menyaksikan hiruk pikuknya pasukan Roma hilir mudik.
Sebetulnya pada perjalanan pulang ke Tripoli, rencana mampir di kota kuno Sabratha, sayang sekali waktu tidak mengizinkan, ditunda pada satu waktu yang tepat di kemudian hari.
Saya bayangkan kapan bisa berkunjung ke Libya lagi, sebuah negara yang unik dan kental budayanya, mendoakan segera sembuh dari luka perang saudara yang panjang, mengembalikan Libya menjadi bersih dari pada kekumuhan saat ini. Akan asyik sekali bila saya berkhayal berkunjung bersama teman saya Bapak Trias Kuncahyono, Wapimred Kompas yang sudah malang melintang di dunia Timur Tengah dengan banyak karya tulis termasuk politik Libya. Atau mungkin teman lain KH. Muhyiddin Junaidi, Waketum MUI yang pernah kuliah di Libya, mungkin beliau akan mencerahkan saya panjang lebar kehidupan dan budaya dengan asyiknya. Pinjam kalimat Jenderal Douglas MacArthur: I shall return.

