Selamat Datang di Website resmi Forum Kerukunan Umat Beragama Provinsi Jawa Timur

Diseminasi Moderasi Beragama

Biyanto, Ainul, Naryo, Dading, Roziqin

Pemerintah Provinsi Jawa Timur (Pemprov Jatim) bersama Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Jatim terus berupaya mendiseminasikan konsepsi moderasi beragama kepada berbagai kalangan. Diseminasi (dissemination) berarti kegiatan yang ditujukan kepada kelompok target atau individu agar mereka memperoleh informasi, memiliki kesadaran, menerima, dan akhirnya memanfaatkan informasi tersebut. Diseminasi konsep moderasi penting seiring telah diluncurkannya buku Moderasi Beragama di Jawa Timur. Buku ini diharapkan menjadi pedoman untuk mewujudkan harmonisasi antar umat sekaligus menangkal potensi radikalisme dan terorisme.

Tentang Buku Moderasi

Buku Moderasi Beragama di Jawa Timur merupakan karya tim penulis FKUB Jatim. Buku ini dapat menjadi rujukan penting untuk mewujudkan nilai-nilai moderasi dalam beragama di Jatim khususnya, dan negeri ini pada umumnya. Dalam rangkaian kegiatan sosialisasi buku Moderasi Beragama, Kepala Biro Kesejahteraan Rakyat Setdaprov Jatim Hudiyono menuturkan, Gubernur Jatim Kholifah Indar Parawansa terus mendorong terwujudnya moderasi beragama dalam membina hubungan baik antar umat.

Karena itu, melalui buku ini diharapkan masyarakat luas memahaminya. “Buku ini dirancang oleh para tokoh lintas agama, akademisi, pemerintah dengan membahas aspek teologis, sosiologis, antropologis, dan yuridis,” tutur Hudiyono. Mantan Pejabat Bupati Sidoarjo ini optimis, buku Moderasi Beragama dapat menjadi solusi untuk menciptakan kerukunan, harmonisasi sosial, dan kebebasan dalam menjalankan kehidupan beragama.

Buku Moderasi Beragama memaparkan secara rinci pembahasan tentang moderasi beragama, mulai dari konsep, urgensi, landasan teologis dari agama-agama, serta perspektif yuridis dan antropologi-sosiologinya.

Buku ini juga menguraikan beragam indikator moderasi beragama dan ruang lingkup penerapannya dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Lebih rinci, buku ini memberikan contoh-contoh ruang lingkup penerapan nilai-nilai moderasi beragama dalam kehidupan keluarga, tempat ibadah, lembaga Pendidikan, dan masyarakat.

Lebih menarik lagi, buku ini menghadirkan berbagai model atau praktik baik (best practices) dalam membumikan nilai-nilai moderasi beragama di Jatim. Buku ini menampilkan contoh berupa model desa sadar kerukunan, kearifan lokal (local wisdom), seni budaya, literasi, dan kemah pemuda lintas agama. Beberapa model pembumian nilai-nilai moderasi beragama itu penting dikembangkan secara terus-menerus. Harapannya, di setiap kabupaten atau kota pada saatnya memiliki model-model penerapan moderasi beragama.


Sosialisasi di Lima Bakorwil

Untuk menyebarluaskan informasi mengenai nilai-nilai moderasi beragama itulah, maka pada Sabtu (11/9/2021), FKUB Jatim menyelenggarakan kegiatan Sosialisasi Buku Moderasi Beragama. Kegiatan dilakukan secara serentak di lima badan koordinasi wilayah (Bakorwil). Kelima Bakorwil itu adalah Madiun, Bojonegoro, Malang, Pamekasan, dan Jember. Tim sosialisasi buku yang ditugaskan meliputi narasumber, moderator, dan panitia yang semuanya dari FKUB Jatim.

Dalam rapat persiapan kegiatan, Ketua FKUB Jatim A Hamid Syarif berpesan, “Sosialisasi ini strategis untuk membumikan nilai-nilai moderasi beragama. Penting ditekankan bahwa yang dimoderasi itu bukan agamanya, melainkan pemahaman umat terhadap agama.” Pesan Ketua FKUB ini penting untuk disampaikan pada pengurus FKUB se Jatim dan tokoh-tokoh lintas agama yang diundang dalam acara sosialisasi. Untuk menyiapkan kegiatan sosialisasi agar berlangsung dengan baik tim yang ditugaskan berangkat sehari sebelumnya.

 “Diperlukan sikap agar setiap orang untuk memiliki wawasan moderat dalam hidup bermasyarakat, beragama, berbangsa, dan bernegara. 

Berikut reportase kegiatan sosialisasi buku Moderasi Beragama di Jawa Timur yang dilaksanakan di lima Bakorwil.

1. Bakorwil Madiun

Sosialisasi buku Moderasi Beragama untuk Bakorwil Madiun dilaksanakan di Hotel Suncity Mall, Kota Madiun. Tim yang ditugaskan adalah Biyanto (narasumber), KH Ahsanul Haq (moderator), serta FX Rubbyjanto, IGK Budiarta, Abdul Ghafur, Lia Hilyatul Masyrifah, dan Khorul Insani (panitia). Peserta yang diundang dalam kegiatan di Bakorwil Madiun adalah pengurus FKUB serta tokoh lintas agama dari daerah kabupaten Madiun, Magetan, Ngawi, Ponorogo, Trenggalek, Tulungagung, Pacitan, Kediri, Kota Madiun, dan Kota Kediri.

Kegiatan dibuka secara resmi oleh KH Ahsanul Haq mewakili FKUB Jatim.

Kyai Ahsan menekankan pentingnya keterlibatan tokoh-tokoh agama yang tergabung dalam FKUB di daerah. “Bapak-bapak tokoh lintas agama yang tergabung dalam FKUB harus memiliki pemahaman yang lurus mengenai moderasi beragama. Bahwa yang dimoderasi itu adalah pemikiran atau pemahaman umat terhadap ajaran agama agar sesuai dengan perkembangan zaman. Yang dimoderasi itu bukan agamanya. Itu karena agama berasal dari wahyu Allah Swt,” tegas Kyai Ahsan.

Peserta tampak bahagia dapat bersua di kegiatan tatap muka di tengah-tengah pandemi. Mereka saling bertegur sapa, santai, dan membincang perkembangan pandemi di daerah masing-masing. Selanjutnya, peserta mengikuti sesi paparan materi buku Moderasi Beragama dengan narasumber Wakil Ketua FKUB Jatim, Biyanto.

Sesi pemaparan materi dimoderatori Kyai Ahsan. Dalam paparannya, Biyanto yang juga Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya ini menekankan pentingnya moderasi sebagai bagian dari cara mengkonter ekstremisme dan radikalisme dalam beragama.

Menurut Biyanto, moderasi merupakan jalan tengah atau posisi tengahan dari dua sifat ekstrem. Biyanto mencontohkan, “Sifat dermawan merupakan karakter positif karena berada di tengah diantara sifat kikir dan boros. Dapat dikatakan bahwa sifat dermawan adalah bagian dari karakter moderasi beragama.” Biyanto melanjutkan, “Dalam kehidupan di tengah pandemi ini karakter moderasi beragama sangat penting agar tetap sehat. Karakter moderasi beragama di tengah pandemi dapat dicontohkan dengan memakai masker, menjaga jarak, rajin mencuci tangan, dan mengikuti vaksin.”

Setelah paparan materi, peserta tampak antusias mengajukan pertanyaan. Diantara pertanyaan diajukan Mujahidin dari FKUB Kota Madiun. Dia menanyakan, “Apakah kami dari daerah bisa menyelenggarakan kegiatan serupa dengan difasilitasi oleh FKUB Jatim, sekurang-kurangnya berkaitan dengan buku sebagai materi atau bahan sosialisasi?” Pertanyaan juga disampaikan Sukri dari FKUB Kabupaten Blitar. Dia menanyakan, “Bagaimana kiat menjalin kemitraan strategis dengan komunitas aliran kepercayaan di daerah yang belum masuk di FKUB. Apalagi kelompok ini sangat dinamis dan terus menunjukkan eksistensinya di tengah-tengah masyarakat?" Dia juga mengajukan permohonan pada FKUB Jatim untuk membantu komunikasi dengan pemerintah kabupaten/kota agar kegiatan FKUB daerah lancar.

Semua pertanyaan, saran, dan harapan dijawab narasumber dan moderator. Biyanto menuturkan, "Terkait fasilitas pemerintah kabupaten/kota terhadap kegiatan FKUB di daerah, kata kuncinya adalah membangun komunikasi yang baik. Dengan begitu, pengurus FKUB harus rajin berkomunikasi dengan pemerintah kabupaten/kota." Sementara itu, beberapa peserta juga menyarankan perbaikan materi buku Moderasi Beragama. FKUB Jatim berkomitmen untuk menyempurnakan buku ini sehingga dapat menjadi rujukan FKUB daerah, tokoh lintas agama, lembaga pendidikan dan civil society lainnya dalam membumikan nilai-nilai moderasi beragama.

2. Bakorwil Bojonegoro

Sebagian anggota FKUB Jatim yang bertugas di Bakorwil Bojonegoro telah meluncur ke tempat acara pada Jum’at Sore (10/09/2021). Tim berangkat dari Islamic Centre Surabaya menuju Hotel Ayola, Mojokerto. Tim yang bertugas ke Bakorwil Bojonegoro berjumlah tujuh orang yaitu, Kasno Sudaryanto, Ainul Yaqin, Lo Ferdy Henry Loyalty, Yudhi Dharma Santosa, Nur Aini, Dading Jayaning S., dan Nur Badina. Meski acara masih akan diselenggarakan esok harinya, tim datang lebih awal untuk mempersiapkan segala sesuatunya agar lebih baik.

Dipilihnya kota Mojokerto sebagai tempat penyelenggaraan kegiatan karena posisinya relatif di tengah. Wilayah kerja Bakorwil 2 Bojonegoro membentang dari utara ke selatan meliputi delapan daerah: Tuban, Bojonegoro, Lamongan, Jombang, Kota Kediri, Kabupaten Kediri, Kabupaten Mojokerto, dan Kota Mojokerto. Pagi hari Sabtu (11/09/2021), peserta dari tujuh daerah itu sudah mulai berdatangan. Suasana kehangatan cukup terasa, karena sudah lama tidak ada kegiatan tatap muka selama Pandemi. Pertemuan tatap muka kali ini bisa menjadi obat kejenuhan. Itu karena meskipun selama pandemi kegiatan tetap berjalan, tetapi diselenggarakan secara daring.

Acara Sosialisasi Buku Moderasi Beragama di Bakorwil Bojonegoro dibuka oleh Ainul Yaqin, mewakili Ketua FKUB Jatim. Acara dilanjutkan paparan narasumber, Kasno Sudaryanto. Dari masing-masing kabupaten/kota hadir lengkap sesuai jumlah utusan yang diundang. Kegiatan ini memperoleh respon yang baik dari peserta. 

Peserta dari FKUB kabupaten/kota menginginkan agar kegiatan seperti ini bisa ditindaklanjuti di daerahnya masing-masing. Namun, mereka juga menginginkan agar buku ini dicetak lebih banyak dan dikirim ke kabupaten/kota sebagai bahan sosialisasi.

Sejumlah peserta memberikan masukan dalam kegiatan ini. Diantaranya disampaikan Imam Ghozali dari Lamongan. Dia mengusulkan agar ada penyempurnaan buku ini sebelum dicetak ulang untuk diperbanyak. Ketika mendeskripsikan wilayah Arek, Imam Ghozali merasa kurang berimbang. Di Lamongan hanya menyinggung perkembangan Muhammadiyah yang mewakili kalangan santri modernis, tetapi tidak menyinggung santri tradisionalis, yakni kaum Nahdliyin yang tidak kalah dinamisnya. Agar ada nuansa seimbang Imam Ghozali mengusulkan deskripsi seperti ini juga dimasukkan.

3. Bakorwil Malang

Sosialisasi buku Moderasi Beragama untuk Bakorwil Malang dilaksanakan di Hotel Harris. Acara ini dihadiri oleh anggota FKUB Kabupaten/Kota se wilayah Pembantu Gubernur di Malang, meliputi: Kota Malang, Kabupaten Malang, Kota Batu, Kota Pasuruan, dan Kabupaten Pasuruan. Tim yang bertugas adalah Philip K Widjaya (narasumber), I Ketut Sudiarta (moderator), serta Pdt. Natael Hermawan, Sunaryo, Wikrama Ahmed, dan Cahaya Purnama (panitia). Pembukaan acara dilakukan oleh I Ketut Sudiarta mewakili FKUB Jatim.

Dalam sambutannya, I Ketut menyatakan bahwa tujuan kegiatan sosialisasi moderasi beragama adalah menumbuhkembangkan sikap toleransi antar dan inter umat beragama di Jatim. I Ketut juga menyatakan, "Mengingat Provinsi Jatim memiliki pertumbuhan penduduk yang cukup tinggi, khususnya yang ada di kota-kota besar, maka tidak mengherankan jika banyak dengan berbagai latar belakang agama dan budaya datang ke kota. Mereka berasal dari berbagai macam suku bangsa dan etnis yang ada di Indonesia. Untuk itulah, perlu diatur tata kehidupan yang harmonis agar masyarakat tenteram dan damai. Disinilah nilai-nilai moderasi beragama sangat dibutuhkan."

Setelah acara pembukaan, dilanjutkan dengan paparan materi oleh Prof Philip Wijaya. Tampil sebagai moderator di sesi ini adalah I Ketut Sudiarta. Dalam paparannya, Prof Philip mengingatkan bahwa warga Jawa Timur ini sangat beragam dari segi agama, paham keagamaan, budaya, dan etnik. Dalam hal budaya, mereka menjaga eksistensinya sampai saat ini. Mereka juga terus memelihara keberadaan budayanya. Apalagi daerah-daerah di wilayah Bakorwil Malang. Selain memiliki daya tarik di bidang turisme, daerah Malang Raya dan Pasuruan Raya mulai tumbuh menjadi kota perdagangan. Sebagai kota perdagangan, biasanya warganya sangat beragam. 

“Karena beragamnya agama, paham agama, suku, dan budaya itulah maka nilai-nilai moderasi beragama mutlak diperlukan. Dengan demikian, moderasi beragama harus mampu menjadi perhatian dari semua stakeholder di Jatim. Hal itu penting agar kerukunan masyarakat untuk hidup damai dan harmonis bisa terwujud,” tegas Prof Philip. Setelah paparan, kegiatan sosialisasi buku dilanjutkan dengan tanya jawab. Sesi tanya jawab yang dipandu I Ketut Sudiarta pun berlangsung gayeng disertai humor-humor segar.

4. Bakorwil Pamekasan

Sosialisasi buku Moderasi Beragama di Bakorwil Pamekasan berlangsung istimewa. Itu karena tempat acara dilaksanakan di Hotel Swiss Belinn, Juanda, Sidoarjo. Tim yang ditugaskan dalam kegiatan di Bakorwil Pamekasan adalah Ongky Setio Kuncono (narasumber), Udji Asiyah (moderator), serta KH Jazuli Nur, Pdt. Yefta Hadi Sugianto, Rahmawaty, Thoriqul Huda, dan Deddy Andrianto (panitia). Hadir sebagai peserta dalam kegiatan ini adalah pengurus FKUB dari Kota Surabaya, Kabupaten Sidoarjo, Gresik, Bangkalan, Sampang, dan Sumenep.

Acara sosialisasi dimulai dengan pembukaan yang disampaikan Udji Asiyah mewakili FKUB Jatim. Selanjutnya, Udji Asiyah juga tampil sebagai moderator dalam sesi paparan materi. Dalam kesempatan itu, hadir sebagai narasumber yang juga tim penulis buku Moderasi Beragama adalah Ongky Setio Kuncono. Ketua Majelis Tinggi Agama Konghucu Indonesia (Matakin) Jatim tersebut menjelaskan, buku ini mendorong agar setiap umat beragama dapat lebih menghargai perbedaan dalam masing-masing keyakinan. Konsepsi ini tidak menjurus pada satu agama tertentu.

Menurut Ongky, “Semua agama memiliki titik ekstrem masing-masing yang juga berpotensi dipahami secara konfrontatif. Karena itulah, memahami agama tidak hanya cukup secara tekstual. Tetapi juga tidak bisa kita memahami agama dengan rasional saja dan meninggalkan tekstualnya.”

Masing-masing harus berjalan dengan tetap menghargai perbedaan dalam masyarakat." Setelah paparan, sesi dilanjutkan tanya jawab. Sesi ini berlangsung menarik dan penuh antusias.

Sementara itu, Anggota FKUB Jatim KH A Jazuli Nur menambahkan, kerukunan umat beragama merupakan sangat penting dalam menjaga suasana yang kondusif di Jatim. Itu karena jika konflik antar umat beragama dipecah, maka dampaknya sangat besar. “Maka upaya preventif harus dilakukan salah satunya dengan konsep moderasi beragama yang ditulis dalam buku ini,” tutur dia. KH Jazuli yang juga Wakil Ketua PWNU Jatim tersebut berharap, sikap radikalisme itu tidak muncul dari agama manapun. Sehingga situasi di Jatim akan tetap kondusif.

5. Bakorwil Jember

Bakorwil kelima tempat dilaksanakannya sosialisasi buku Moderasi Beragama adalah Jember. Dengan personil lengkap dan berbekal semangat yang luar biasa, Tim Sosialisasi Moderasi Beragama di Bakorwil Jember dipimpin langsung Ketua FKUB Jatim, A. Hamid Syarif. Anggota tim lainnya adalah KH Syafrudin Syarif (Wakil Ketua) dan Tamhid Masyhudi (Sekretaris). Secara berurutan mereka bertugas sebagai narasumber dan moderator. Disamping itu, juga bertugas sebagai panitia adalah Nurul Lathifah, Moh. Fatoni, Khoirur Roziqin, dan Silfia Herlina.

Terasa sangat istimewa, tim Jember diisi pimpinan level 1 FKUB Jatim. Sama dengan di Bakorwil lainnya, mereka juga menyampaikan materi moderasi beragama dalam berbagai sudut pandang. Termasuk tinjauan teologi masing-masing agama. Tim harus berangkat lebih awal untuk mempersiapkan ugo rampe yang diperlukan dalam pelaksanaan sosialisasi. Jum’at sore sekitar pukul 15.00 WIB, tim berangkat dari Islamic Centre Surabaya menuju tempat kegiatan di di Hotel Aston, Jember. Setelah menempuh perjalanan sekitar lima jam, tim sampai di tempat kegiatan.

Pada Sabtu (11/9/2021), peserta mulai berdatangan, baik dari daerah terdekat maupun terjauh, yakni Kabupaten Banyuwangi, Kabupaten Probolinggo, Kota Probolinggo, Lumajang, Bondowoso, Situbondo, dan Jember sebagai tuan rumah. Sekitar pukul 09.00 WIB, acara Sosialisasi Moderasi Beragama dihantarkan oleh Nurul Lathifah selaku Master of Ceremony (MC). Acara dimulai dan dibuka langsung oleh Ketua FKUB Jatim, A. Hamid Syarif. Beliau menekankan pentingnya moderasi bagi umat beragama disebabkan dua faktor utama, yakni: 1) Indonesia merupakan bagian dari bangsa dunia (global); 2) Sistem yang ada di Indonesia adalah demokrasi yang memungkinkan setiap warga memiliki kebebasan.

“Dua faktor inilah yang kemudian menimbulkan persinggungan antara kepentingan setiap orang untuk memperoleh haknya. Dalam situasi ini diperlukan sikap agar setiap orang untuk memiliki wawasan moderat dalam hidup bermasyarakat, beragama, berbangsa, dan bernegara,” tutur Kyai Hamid. Selanjutnya, sesi paparan materi Moderasi Beragama dipandu Tamhid Masyhudi. Selaku Moderator, Tamhid mengantarkan dengan penekanan bahwa antara tekstual dan kontekstual hendaknya selalu sejalan dan seiring agar tidak saling bertabrakan. Disinilah pentingnya implementasi nilai-nilai moderasi beragama.

Dalam paparan materi, KH Syafrudin Syarif selaku narasumber menekankan bahwa indikasi moderasi dapat dilihat dari: 1) komitmen kebangsaan, 2) toleransi saling menghargai, 3) anti kekerasan, 4) akomodatif terhadap kebudayaan lokal, 5) inklusifitas (sikap saling memahami antara pemeluk agama yang satu dengan yang lain). Paparan materi ini disambut antusias peserta. Begitu antusiasnya dalam mengikuti paparan dan dialog, sampai tidak terasa waktu yang terjadwal sudah lewat dari yang seharusnya. Panitia pun mengingatkan kepada moderator untuk membatasi audiens dalam memberikan pertanyaan maupun masukan terkait buku moderasi beragama.

Catatan Akhir

Dari sosialisasi buku Moderasi Beragama di lima Bakorwil tampak sekali antusiasme peserta. Mereka menyambut baik kegiatan FKUB Jatim, meski berlangsung di tengah suasana pandemi. Mereka mengharapkan agar acara serupa dapat dilaksanakan di setiap FKUB. Untuk itulah mereka meminta FKUB Jatim dapat memfasilitasi, terutama buku yang menjadi materi kegiatan. Peserta juga memberikan banyak masukan terkait materi, redaksi bahasa, gambar atau ilustrasi, dan layout untuk bahan perbaikan sebelum buku dicetak ulang dan diedarkan ke daerah.

Antusiasme peserta dapat dipahami karena topik moderasi beragama memang menarik. Topik ini penting untuk mewujudkan kehidupan bermasyarakat, khususnya di Jawa Timur, hingga warganya berkarakter moderat. Apalagi sejujurnya harus diakui, di sejumlah daerah masih sering terjadi insiden radikalisme dan terorisme bernuansa agama. Dalam kondisi inilah peran tokoh agama penting untuk menjadi bagian gerakan membumikan nilai-nilai moderasi beragama. Biyanto, Ainul, Naryo, Dading, Roziqin

Do you have any doubts? chat with us on WhatsApp
Hello, How can I help you? ...
Click me to start the chat...