Hari ini, agama makin mudah dipelajari berkat perangkat teknologi dan sistem informasi yang ada. Dahulu, kebanyakan dari masyarakat yang mengandalkan guru atau tokoh spiritual di daerahnya. Di era ini kita bisa saja mencari literatur, atau mengikuti aliran apa saja yang dianggap sesuai, dari satu tempat yang jauh.
Namun, cara mengenal agama sebetulnya tidak mudah. Kita perlu memahami latar belakang sejarah, mengetahui kondisi apa yang sedang terjadi, dan mengapa keluar Ayat-ayat Suci yang dimaksud. Barulah kita bisa dengan lebih jernih melihat tafsiran/terjemahan dalam bahasa modern, apakah sesuai dengan makna waktu itu, atau perlu dilakukan adaptasi yang sesuai dan terukur.
Dengan kondisi pemahaman yang berbeda-beda, ada sebagian manusia kemudian berusaha menggali lebih dalam perbedaan itu untuk mencari kesamaan atau menjelaskan apa substansi dalam ajaran. Sayangnya, lebih banyak orang tidak demikian, mereka lebih mudah mempercayai informasi yang ada di mana-mana. Terutama dalam padatnya ritme kehidupan modern, mereka cenderung cari yang mudah dibaca (easy reading), ringan dan menarik, secara singkat atau bahkan sepotong-potong. Akibatnya, sebagian orang melihat agama lebih liberal, sebagian yang lain melihatnya tanpa ingin perubahan, di antaranya, mudah sekali kemudian dimanfaatkan kepentingan tertentu menjadi golongan yang lebih ekstrem.
Konsep Ehipassiko yang ada dalam Samyutta Nikāya, Dhajagga Sutta Buddha menekankan pentingnya penyelidikan terhadap Dhamma atau Ajaran Buddha sendiri. Ehipassiko dari bahasa Pali ‘ehipassika’ artinya datang dan lihat. Maka dalam kitab suci Buddha selalu beliau mengawali kalimat dengan ‘sebagai yang saya lihat dan dengar’. Di zaman sekarang, tidak semua orang dapat melakukan hal serupa, namun makna dari kalimat itu sebetulnya adalah check and recheck, mencari tahu kepada sumber yang dapat dipercayai sebelum langsung mempercayai.
Sekalipun dalam membaca kitab suci. Interpretasi kalimat demi kalimat pada kitab suci secara holistik dapat memberikan pemahaman yang lebih umum dan sesuai konteks, sehingga kita dapat menjabarkannya dalam aspek-aspek kehidupan secara tepat.
Ajaran Agama Buddha dalam Kaitan dengan Moderasi
Moderasi Agama belakangan ini mulai banyak diperbincangkan, setelah program moderasi agama resmi diangkat oleh kerja sama beberapa kementrian. Tujuannya untuk dapat menata kembali kehidupan beragama yang tidak ekstrem, adil, berimbang, dan tetap dalam bingkai keutuhan empat pilar berbangsa dan bernegara, yakni Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, NKRI, dan UUD 45. Untuk Indonesia yang luas ini, terdiri dari banyak suku, agama, dan kearifan lokal yang dapat dimanfaatkan, maka kita membutuhkan jalan tengah yang sejuk.
Khotbah awal Sang Buddha telah membuka pencerahan tentang ajaran jalan tengah (Majjhima Patipada) di antara ekstrim kanan dan ekstrim kiri.
Dengan jalan menghindari kedua ekstrem tersebut, agar manusia dapat memiliki pandangan terang, pengetahuan yang tinggi, ketenteraman, pengetahuan khusus, Penerangan Sempurna, atau disebut Kesadaran Nibbana.
Jalan tengah agama Buddha harus berpegang erat pada delapan Langkah (aryasanghika) berikut.
Semua tindakan-tindakan moral (Sila) harus jelas dan positif:
(1) ucapan yang benar (samma vaca),
(2) perbuatan yang benar (samma kammanta), dan
(3) mata pencaharian yang benar (samma ajiva).
Moral dalam alam kerohanian ada kebenaran untuk direnungkan (Samadhi):
(4) berkehendak yang benar (samma vayama),
(5) kesadaran yang benar (samma sati), dan
(6) konsentrasi yang benar (samma samadhi).
Pencapai pengetahuan kebijaksanaan dibagi dua tahap (Panna):
(7) pengetahuan yang benar mengenai kenyataan (samma ditthi), dan
(8) motivasi yang benar (samma samkappa).
Dalam hal ini, umat Buddha diminta dapat mengembangkan Brahma Vihara atau sifat-sifat luhur yang terdiri dari Cinta Kasih (metta), Belas Kasihan (karuna), Rasa Simpati (mudita), dan Keseimbangan Batin (upekkha). Upekkha inilah yang mengharuskan punya pertimbangan yang lurus, pandangan yang adil atau tidak berat sebelah dalam menjalani kehidupan, dan sifat-sifat luhur ini dimulai dari setiap individu.
Ajaran Buddha sendiri menghindari ekstrem dalam beragama, bukan hanya memeluk apa yang diyakini, namun harus respek kepada yang beragama lain. Maklumat/Dekrit Raja Asoka pada Prasasti Batu Kalinga XXII mencatat sikap ini dengan jelas:
"Bila kita menghormati Agama kita sendiri, janganlah mencemoohkan dan menghina agama lain. Seharusnya kita menghargai pula agama-agama lainnya."
Moderasi Agama
Sebuah cara dalam menyukseskan moderasi agama adalah komunikasi. Seperti yang sudah kita pahami bersama, bahwa komunikasi akan menghubungkan satu dan lain, baik interfaith, intrafaith, atau antara kita dengan ekstrem kanan, atau ekstrem kiri. Komunikasi yang baik merupakan ice breaker, dan akan lanjut untuk saling tukar pemikiran, di sanalah proses untuk mendapat pemahaman yang tepat agar terselamatkan dari jalan yang salah, menemukan jalan yang lebih adil dan berimbang di antara kanan dan kiri.
Hal lain yang juga sangat diperlukan adalah menambah wawasan dan pengetahuan, makin sempit pandangan seseorang biasanya dibarengi dengan sifatnya yang makin ekstrem. Maka perbanyak kesempatan agar mengenal dunia yang lebih luas, aspek dan dimensi yang lebih banyak, serta dengan mata sendiri mengetahui benar salahnya sebuah kejadian, akan membuat banyak yang ekstrem kanan atau kiri menyesuaikan diri di jalan tengah.Namun selain itu, catatan sangat tepat dari KH Ahmad Siddiq dalam buku Khitthah Nahdliyyah, bahwa intisari untuk mencapai moderasi agama tidak lepas dari: Moderat (al-tawassuth) harus disandingkan dengan al-i'tidal (bersikap adil) dan al-tawazun (berimbang).

