Selamat Datang di Website resmi Forum Kerukunan Umat Beragama Provinsi Jawa Timur

Survei Pengembangan Ekonomi Kreatif Di Desa Moderasi Beragama

Nurul Lathifah

Bendahara FKUB JATIM

Pandemi Covid-19 melanda seluruh penjuru dunia menyebabkan perubahan dalam setiap aspek kehidupan. Salah satunya adalah aspek perekonomian masyarakat. Pemulihan ekonomi sangat diperlukan untuk pemberdayaan perekonomian. Itu bertujuan agar potensi industri kembali meningkat. Sehingga roda perekonomian Jawa Timur kembali kembali berputar sebagaimana mestinya. Dalam situasi ini dibutuhkan pengembangan bidang ekonomi dan industri kreatif. Itulah bagian penting dari acara Silaturrahim Nasional (Silatnas) Organisasi Perempuan Keagamaan yang digelar di Batu, 18-19 Desember 2020 silam.

Hadir dalam Silaknas Gubernur Khofifah Indarparawansa dan Ketua FKUB Jatim A. Hamid Syarif. Untuk menindaklanjuti acara ini, FKUB Jatim melakukan penelitian awal tentang kegiatan ekonomi kreatif di desa beragam agama sebagai upaya peningkatan ekonomi di masa pandemi dengan mengedepankan kerukunan antar umat beragama. Adapun kawasan/kampung/desa yang dijadikan pilot project adalah yang memiliki karakteristik penduduk dari berbagai agama.

Berdasar hal itu dipilih Desa Wirotaman, Kecamatan Ampel Gading, Kabupaten Malang, sebagai lokasi penelitian. Desa ini berada di perbatasan Malang dan Lumajang. Desa ini dikenal memiliki tanah yang subur. Posisinya tidak jauh dari gunung tertinggi di pulau Jawa, yaitu Gunung Semeru. Sebagian besar masyarakat Desa Wirotaman bekerja sebagai petani. Hasil bumi terbesar adalah kopi, pisang, cengkih, dan nilam (minyak nilam). Di sektor peternakan, produksi hewan ternak yang terutama adalah kambing, sapi, dan ayam. Di desa ini ada empat agama dianut masyarakat, yaitu Islam, Hindu, Kristen, dan Katolik.

Selain itu, ada juga Desa Pancasila, yaitu Desa Sukoreno, Kecamatan Umbulsari, Kabupaten Jember. Ini adalah satu desa dengan tiga agama dan satu aliran kepercayaan, yakni Islam, Hindu, Katolik, dan Kepercayaan Sapta Darma. Di desa ini juga ada beberapa keluarga dengan penganut agama yang berbeda-beda, Desa Pancasila ini terletak sekitar 44 kilo meter dari Stasiun Jember. Bisa ditempuh dalam satu jam perjalanan dari Stasiun Jember. Jeruk siam merupakan komoditas unggulan dari petani di desa Sukoreno.


Survey Awal

Hasil survei awal Tim Peneliti FKUB pada 4-5 Juni 2021 di Desa Wirotaman atau Desa Keberagamaan Umat Beragama, Kecamatan Ampelgading, Kabupaten Malang memiliki potensi yang bagus di bidang perekonomian. Desa ini berpenghuni kurang lebih 5.000 jiwa. Warga desa ini pemeluk agama Islam, Hindu, dan Kristen. Potensi unggulan daerah yakni dalam bidang pertanian, perkebunan dan peternakan. Mayoritas penduduk Desa Wirotaman mata pencahariannya adalah sebagai petani dan berkebun. Hasil perkebunan meliputi kopi, buah salak, buah pisang, dan kayu.

Pemasaran kopi berbentuk biji kopi mentah dipasarkan di tengkulak Desa Dampit dengan harga yang sangat murah sehingga kurang berdampak pada perekonomian warga. Selain itu, terdapat pengolahan buah pisang menjadi kripik pisang dengan pemasaran di Surabaya dan Sidoarjo. Jenis buah pisang Desa Wirotaman adalah raja nangka, tanduk, susu, ambon, kepok, dan mas. Pisang raja nangka diolah menjadi keripik pisang. Sedangkan, pisang-pisang lainnya dikonsumsi sebagai buah sehari-hari.

Kendala mendasar terkait pengolahan hasil kebun adalah keterbatasan pengetahuan warga desa (Kades) mengenai pemasaran barang atau produk olahannya. Dalam kaitan itulah, kepala desa menginginkan ada produk tersendiri untuk mengangkat nama Desa Wirotaman agar bisa meningkatkan pendapatan perkapita warga.

Produk yang dimaksudkan adalah produk yang tidak mengikuti perkembangan model (trend). Salah satu produk yang diinginkan Kades adalah usaha bidang konveksi pakaian dalam.

Menurutnya, pakaian dalam adalah produk yang tidak berganti-ganti model sebab dipergunakan untuk menutupi bagian dalam tubuh seseorang. Usulan Kades sudah disampaikan melalui badan Jasmas. Namun, belum ada tanggapan karena memerlukan biaya yang besar. Padahal Kades juga kesulitan dalam mengatur dana desa. Selain itu, penjahit di Desa Wirotaman dikerjakan oleh kaum perempuan. Pekerjaannya bersifat musiman, terutama saat musim sekolah. Apabila musim sekolah sudah usai, mereka kembali bertani dan berkebun.

Beberapa keterbatasan dalam mengolah hasil perkebunan Desa Wirotaman selain disebabkan pemasaran juga karena pendidikan warganya yang masih rendah.



Jenjang pendidikan warga desa ini hanya setingkat sekolah dasar dan SLTA. Ibu-ibu Desa Wirotaman juga ada kegiatan Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK). Namun, hal itu belum berjalan secara efektif. Diantara kegiatannya adalah penyuluhan desa terkait pengolahan hasil kebun dan memperluas jaringan pemasarannya.

Kaum perempuan di Desa Wirotaman kebanyakan menjadi pekerja migran di Negeri Jiran pada masa usia belasan tahun. Banyak kaum perempuan yang bisa menjahit dan memasak. Dengan modal kemampuan ini pengembangan ekonomi kreatif di desa ini memang seharusnya dimulai dari kaum perempuan. Dari tangan kaum perempuan perekonomian warga Desa Wirotaman diharapkan meningkat. Apalagi pemasaran hasil pengolahan kebun belum tergarap secara maksimal. Jangkauan penjualan terbatas hanya secara lokal. Proses pemasaran melibatkan antar tetangga dan tengkulak di desa, belum keluar daerah.


Survey Kedua

Pada tanggal 11-12 Juni 2021, Tim Peneliti FKUB Jatim melakukan survei lanjutan di desa Sukoreno, kecamatan Umbulsari, kabupaten Jember. Jember adalah salah satu kabupaten sentra penghasil jeruk siam yang memiliki potensi untuk dikembangkan. Sementara itu, Sukoreno merupakan desa dengan keberagaman umat beragama. Warga di desa ini memeluk agama Islam, Kristen, Katolik, Sapta Dharma, dan Hindu. Mayoritas warga desanya adalah petani jeruk siam. Desa ini dikenal dengan daerah penghasil jeruk siam terbaik.

Selain jeruk siam, desa Sukoreno juga menghasilkan hasil perkebunan buah pisang dan papaya. Jenis pisang yang dihasilkan adalah pisang raja dan pisang tanduk. Jenis pepayanya adalah pepaya california. Pengembangan pada jeruk siam Jember dapat dilakukan melalui kegiatan usaha tani jeruk siam yang didukung dengan adanya kelompok tani. Keberadaan kelompok tani ini diharapkan dapat meningkatkan produksi jeruk siam di kabupaten Jember. Produksi jeruk siam di kabupaten ini memiliki potensi besar untuk dikembangkan.

Jeruk siam selain dipasarkan buahnya juga diolah menjadi sirup jeruk. Pemasaran produk sirup jeruk melalui koperasi desa Sukoreno. Disamping itu, pemasaran buah jeruk juga dibedakan menjadi beberapa grade: A (besar), B (sedang), dan C (kecil). Penjualan sirup di Desa Sukoreno dilakukan melalui dua cara, yakni: kop-erasi dan langsung ke konsumen. Harga perbotol sirup ini mencapai Rp 15.000,00. Harga ini tergolong terjangkau semua kalangan masyarakat sehingga bisa menikmatinya. Sementara harga buah jeruk sangat fluktuatif, sesuai dengan kondisi cuaca. Harga buah jeruk mulai Rp 2.500,00 hingga Rp 7.000,00 rupiah. Harga tergantung dari jenis dan grade-nya.

Sejauh ini, promosi untuk sirup jeruk hanya sebatas di daerah Jember dan belum dilakukan secara meluas. Dari hasil survei awal ini diperoleh data bahwa terdapat potensi ekonomi di dua desa tersebut. Potensi ekonomi ini dapat dikembangkan menjadi produk unggulan di daerah asal dilakukan secara kreatif dan inovatif. Dengan begitu, produk unggulan tersebut bernilai jual tinggi (value-added). Setelah mensurvei potensi dua desa tersebut langkah selanjutnya dalam pengembangan ekonomi kreatif adalah mengadakan pelatihan socialpreneur yang disesuaikan dengan potensi masing-masing desa. Semoga ini menjadi program lanjutan FKUB Jatim.

Do you have any doubts? chat with us on WhatsApp
Hello, How can I help you? ...
Click me to start the chat...