KH. Syafruddin Syarif
Berdasarkan data statistika, jumlah penduduk yang tersebar di desa Ngadiwono sebanyak 2.050 dari 819 KK (Kartu Keluarga). Dilihat dari agama penduduk, penganut Hindu (1448 jiwa), Muslim (576 jiwa), dan Kristen (26 jiwa). Menurut Pak Atim selaku kepala desa Ngadiwono, kerukunan umat beragama sangat guyub dan rukun di desa ini. Sejak awal para leluhur menempati desa ini telah tercipta kerukunan yang terus tumbuh dan berkembang sampai sekarang. Mengenai tahun persisnya warga desa tidak mengerti. Yang diingat oleh anak cucunya di desa ngadiwono sudah rukun dan terus berkembang. Kondisi itulah yang dipertahankan sampai saat ini, khusunya terkait adat-istiadat yang sudah mengakar dan tumbuh berkembang di masyarakat.
Seiring dengan berkembangnya peradaban khususnya di desa Ngadiwono, fenomena perkawinan silang antar agama sudah terbiasa tanpa ada pertentangan akibat perkawinan antar umat beragama. Sehingga perkembangan agama di Desa Ngadiwono juga sangat beragam dan menjadi terbiasa di masyarakat setempat. Yang menarik, desa Ngadiwono, kecamatan Tosari masih menjunjung tinggi nilai adat dan budaya yang dibawa leluhur.
Suatu contoh, pada era pandemi Covid-19 yang mengguncang semua negara belahan dunia sehingga mengakibatkan meninggalnya jutaan orang. Di desa Ngadiwono memiliki sebuah kepercayaan adat, yakni ketika ada musibah atau keadaan terdesak masyarakatnya menggunakan pakaian serba hitam. Ada juga sesaji-sesaji yang dibuat warga desa sebagai penangkal bencana atau musibah.
Menurut Pak Atim, warga desa ketika ada hajatan atau acara lain semua ikut bergotong royong, saling membantu, tidak memandang dari suku, ras, agama, keturunan, dan lain sebagainya. Untuk itu, sikap gotong royong di desa ini disebut “sayan”. Menurut Pak Trubus, salah satu tokoh di desa tosari, pada suatu ketika ada pembangunan masjid baru di desa Tosari semua warga saling bergotong royong. Hal itu yang dinamakan “sayan” menurut Pak Trubus. Bahkan pada pembangunan masjid, pekerjanya hampir 80% warga Hindu. Yang menarik, tidak ada pemberian berbentuk uang/upah ataupun materi lainnya. Hal itu karena semua didasarkan atas toleransi, tanpa berharap imbalan berupa apapun. Sejak Pak Trubus lahir, kerukunan itu benar-benar nyata dan tidak ada rekayasa. Hal ini terus dipupuk sampai kepada anak cucunya kelak akan terus dipertahankan menjadi budaya dan adat-istiadat dalam mempertahankan warisan budaya leluhurnya.
Karena budaya dan tradisi yang sudah berkembang di masyarakat desa Ngadiwono berjalan sejak nenek moyang mereka dan terus ditularkan dan diwariskan sebagai bentuk kerukunan umat beragama. Sesepuh atau pemangku adat di desa Ngadiwono menuturkan, entah kepala desanya yang bijak atau alamnya yang suci. Ketika ada orang-orang yang vokal/ berpedoman ekstrim terhadap sebuah toleransi dalam beragama. Yang jelas orang tersebut tidak lama menghuni di desa ini. Entah ada masalah dengan masyarakat atau tidak nyaman berada di desa ini. Kepala adat menyampaikan bahwa negara Indonesia ini alamnya di atas awan. Biarkan negara ini berkembang sesuai Pancasila. Jangan sekali-sekali merubah semboyang “Bhineka Tunggal Ika”. Demikian penuturan pemangku adat desa.
Di kecamatan Tosari ada 8 desa. Rata-rata desa yang beragama Hindu dan sisanya Islam. Di kecamatan Tosari, 65% beragama Hindu dan 35% Muslim. Yang menjadi perhatian di masyrakat umum yaitu, salah satu desa Podo Koyo kecamatan Tosari. Meski desa ini mayoritas Hindu, tetapi kepala desanya Muslim. Mengapa di desa Podo Koyo memilih pemimpin beragama Islam? Padahal, mayoritas warganya beragama Hindu. Menurut Camat Kecamatan Tosari, disini yang dilihat bukan agamanya apa, melainkan dia bisa membawa kerukunan beragama atau tidak. Disamping itu, pilihan juga berdasarkan pada kemampuan sesorang dalam memobilisasi potensi masyarakat.
[https://id.m.wikipedia.org/wiki/Berkas:MelastiSuku_Tengger_Bromo.jpg](https://id.m.wikipedia.org/wiki/Berkas:MelastiSuku_Tengger_Bromo.jpg)

