Fela Layyin
SMK Muhammadiyah 8 Siliragung Banyuwangi
SMK Muhammadiyah 8 Siliragung atau biasa dikenal dengan sebutan SMK Models terletak di ujung Selatan Kabupaten Banyuwangi. Berdiri sejak tahun 2002, saat ini sudah menapaki usia 19 tahun. Kurun waktu 19 tahun SMK Models terus berbenah untuk menjadi sekolah unggul. Pada 2021 sekolah ini terpilih menjadi salah satu SMK Pusat Keunggulan.
Sekolah yang saat ini dinahkodai Muhlas Efendi, ST sejak 2006 mengalami peningkatan kualitas mutu pendidikan yang sangat membanggakan. Gebrakan awal yang dilakukam oleh kepala sekolah ketika pertama kali menjabat adalah adanya penambahan tugas yang membidangi khusus untuk Ismuba (Al Islam Kemuhammadiyahan dan Bahasa Arab). Bidang ini dipercayakan pada Wakil Kepala (Waka) Ismuba. Tugas Waka Ismuba berkaitan erat dengan kegiatan keagamaan, penanaman ibadah dan akidah, serta menumbuhkan semangat membangun kemajuan sekolah Muhammadiyah kepada seluruh peserta didik di SMK Models.
Kenapa harus ada Waka Ismuba? Menjawab pertanyaan ini, Muhlas Efendi menyatakan bahwa hal itu sejalan dengan visi sekolah yang berbunyi "terwujudnya lulusan berakhlak mulia, terampil, dan mandiri". Karena itu, sekolah ini harus selalu menunjukkan bahwa pendidikan karakter akhlak mulia adalah ujung tombak peradaban. Membangun karakter akhlak mulia adalah tugas semua pendidik. "Meski begitu, saya ingin ada satu tim khusus yang *concern* menangani masalah ini. Ruh Al Islam dan Kemuhammadiyahan memiliki peranan penting yang menunjukkan sebagai identitas sekolah Muhammadiyah," begitu penegasan Muhlas Efendi.
Masih menurut Muhlas Efendi, bahwa dari cakupan tiga visi sekolah itu kemudian diterjemahkan dalam bentuk formulasi misi sekolah menjadi tiga katagori yaitu, sukses ibadah, sukses pembelajaran, dan sukses penempatan kerja. Yang sangat unik dari SMK Models adalah ternyata tidak semua peserta didik beragama Islam. Itu karena sekolah ini menerapkan sistem moderasi beragama dan multikulturalisme. Sekolah ini menerima siswa tidak berdasarkan agama, suku, dan ras. Penerapan prinsip moderasi beragama dilakukan dengan cara sekolah memfasilitasi dan mengakomodir semua kebutuhan peserta didik tanpa ada perbedaan, bahkan dalam hal pembelajaran agama sekalipun.
Menurut data terbaru tahun 2021, sekolah ini menerima siswa non-Muslim dengan rincian: Kristen (12 peserta didik), Hindu (21 peserta didik), dan Buddha (2 peserta didik). Proses pembelajaran agama bagi peserta didik non-Muslim disediakan guru agama sesuai dengan agamanya masing-masing. Ketika waktunya pelajaran Al Islam siswa non-Muslim diberi 2 pilihan: mau tetap di dalam kelas ikut dengan teman-temannya yang beragama Islam atau belajar di perpustakaan. Ternyata mayoritas memilih untuk ikut di dalam kelas, duduk diam mendengarkan pelajaran.
Wujud toleransi beragama di SMK Models diterapkan pada proses pelaksanaan ibadah. Setiap hari Jumat, peserta didik yang Muslim melaksanakan shalat Jumat berjamaah di masjid sekolah. Sementara peserta didik yang beragama Kristen, Hindu, dan Budha masuk kelas sesuai dengan agamanya, untuk mendapatkan pelajaran agama yang dipandu oleh guru agama sesuai dengan agamanya. Ketika adzan Jumat tiba, biasanya peserta didik bercanda dengan mengatakan bahwa kita "Seamin Tapi Tak Seiman."
Kegiatan ibadah para peserta didik di SMK Models bisa dikontrol lewat buku pengendali siswa, yang disebut sebagai buku ibadah. Buku ibadah ini berisi tentang aktivitas kegiatan praktik ibadah seluruh peserta didik. Jika beragama Islam, maka setiap hari akan dicek apakah ikut berjamaah dhuhur di sekolah. Karena seluruh peserta didik diwajibkan shalat dhuhur berjamaah di masjid sekolah. Kegiatan praktik ibadah lainnya yang diperiksan dalam buku ini seperti hafalan Juz 'Amma apakah tuntas atau tidak, absensi Pengajian Ahad Pagi, kegiatan praktik shalat gerhana, dan shalat jenazah. Semuanya bisa dilihat lewat buku ibadah sehingga orang tua mengetahui aktivitas ibadah anak-anak ketika di sekolah.
Bagi peserta didik yang non-Muslim juga berlaku hal yang sama, mereka mendapatkan buku ibadah. Ketika selesai pembelajaran agama, guru agama akan memberikan tanda tangan dan stempel pada hari itu juga sebagai bukti kehadiran. Kegiatan mingguan di Pura, Gereja, dan Vihara mereka diharuskan meminta tanda tangan dan stempel dari tempat ibadah untuk dilaporkan kepada Waka Ismuba sebagai pengganti Pengajian Ahad Pagi yang diwajibkan bagi peserta didik beragama Islam.
Mahgdalena Cristine Jayanti salah satu peserta didik yang beragama Kristen, mengatakan bahwa dia sangat senang bisa sekolah di SMK Models. SMK Models memberikan ruang gerak bagi saya untuk mengeksplore semua hobi saya, bahkan menjadi prestasi yang mengharumkan nama sekolah. Puji Tuhan saya bisa juara 1 dan 2 untuk lomba Panjat Tebing, menjadi atlit Futsal putri, dan perwakilan penari Gandrung Sewu tingkat Kabupaten," kata Cristine. "Dari sini terbukti bahwa SMK Model tidak membedakan perlakuan terhadap saya meskipun saya non-Muslim. Saya sekolahnya juga memakai jilbab, akhirnya menjadi kebiasaan jika keluar rumah mau main saya juga pakai jilbab," tambah Cristine disertai canda tawa.
"Saya awalnya takut mendaftar di SMK Models, karena selain beragama Kristen, saya juga berasal dari etnis Tionghoa. Sedangkan yang sekolah di SMK Models mayoritas adalah dari Jawa. Ternyata ketakutan saya tidak terbukti, saya dapat bergaul baik dengan semua teman, tidak ada bullying verbal tentang perbedaan fisik dan agama saya," ujar Danes Denanta dari Jurusan Teknik Kendaraan Ringan.
Heri Purnomo dari kelas XII Teknik Bisnis dan Sepeda Motor mengaku bangga bersekolah di SMK Models. "Saya Hindu dan saya bangga dengan identitas agama saya. Di SMK Models saya tergabung dengan ekstrakurikuler Karawitan atau seni Jawa tradisional, ekstra karawitan di sekolah saya sering mendapat job manggung. SMK Models adalah pilihan sekolah terbaik tanpa memandang perbedaan agama," tegas Heri.
Beberapa testimoni di atas menunjukkan bahwa penerapan moderasi agama di SMK Models sudah membumi. Karena itulah sekolah ini pernah mendapatkan penghargaan The Most Leading Favorite Islamic School Program in Education Quality Excellent 2019. Penghargaan ini diberikan oleh Indonesian Achievement Center. Penilaiannya mengacu pada empat kriteria, yaitu: Quality, Performance, Responsibility, Tranparency, dan Attractiveness. Ini adalah pencapaian yang sangat baik SMK Models. Sehingga bagi wali siswa tidak ada keraguan lagi untuk menyekolahkan putra-putrinya di SMK Models. (Fela Layyin)

