Prof. Philip K. Widjaja
Sungguh tidak mudah dari mana saya harus memulai untuk menceritakan sebuah negara yang semua orang tahu namanya, Palestina, namun sedikit sekali orang tahu keberadaannya dan kondisinya. Perjalanan saya ke Palestina dibagi dua kali, dan memasuki dua wilayah Palestina yang terbelah di kanan dan kiri negara Israel. Satu di wilayah timur bernama Tepi Barat (karena di tepi barat sungai Jordan). Satu lagi wilayah yang sangat kecil di wilayah barat disebut Gaza, ada di tepi Laut Mediteranian.
Tepi Barat dikuasai kelompok Palestina aliran Fatah, dan Gaza dikuasai kelompok Hamas yang lebih keras. Dulu seluruh tanah yang sekarang jadi Israel dan Palestina itu diserahkan oleh Inggris kepada bangsa Palestina. Waktu itu hampir seluruh orang Yahudi bermigrasi keluar dari tempat asal mula ke Eropa dan lainnya, sudah lebih dari seribu tahun yang lalu. Setelah perang dunia pertama, apalagi setelah perang dunia kedua, Eropa mendorong orang Yahudi kembali ke tanah Palestina yang jaman dahulu pernah ditempati. Tahun 1948 berdirilah negara Israel. Baru 40 tahun kemudian orang Palestina ikut deklarasi sebagai negara dengan wilayah yang saya sebut sudah terpisah, yaitu Tepi Barat dan Gaza.
Wilayah Gaza yang di tepi laut dikenal rakyatnya sangat gigih berjuang. Mereka selalu bentrok dan berperang dengan Israel di Gaza. Garis negaranya tidak mundur sejengkalpun walau border ke darat Israel berkawat duri. Wilayah lautnya tidak bisa melaut karena berjajar kapal perang yang mengembargo. Sedangkan wilayah Tepi Barat jauh lebih luas dan bersikap lebih lunak. Saat ini banyak tanah dibeli atau dicaplok oleh Israel. Jadi, wilayah Palestina di Tepi Barat bagaikan serpihan kecil-kecil. Sebagian besar dari sisa wilayah Tepi Barat itu dikelo Palestina tapi, meski pada kenyataannya dikuasai Israel. Agak bingung bukan?
Diantara orang Israel ada yang Muslim, bahkan juga dari suku Arab. Demikian sebaliknya, diantara orang Palestina banyak juga yang beragama kristiani dan juga berasal dari suku Yahudi. Di Tepi Barat, Israel dan Palestina hampir tidak jelas.
Pintu Pemeriksaan di Border Rafah - Gaza -nya. Orang Palestina banyak yang bekerja di perusahaan orang Israel. Bahkan, ada yang berprofesi sebagai pegawai pemerintahan Israel.
Perjalanan saya pertama ke Palestina yang di Gaza (juga disebut Gaza Strip) sekitar tahun 2007. Dimulai dari kota Cairo, ibukota Mesir. Saya berangkat dini hari menuju utara ke arah Port Said, kota yang merupakan ujung utara Terusan Suez. Selanjutnya, belok kiri menelusuri jalan tepi pantai utara Semenanjung Sinai untuk menuju Rafah, perbatasan dengan Gaza. Perjalanan menempuh 7 jam, di daerah Sinai yang luasnya sekitar setengah pulau Jawa tapi kepadatan penduduk tidak sampai 1% dibanding Jawa. Perjalanan sangat sepi dan membosankan. Sepanjang jalan hanya tampak kuningnya pasir dan tanah.
Setiba di perbatasan yang disebut Rafah, teman saya seorang warga Mesir turun dari mobil. Dia mencoba untuk mengurus cara masuk ke Gaza, yang terkadang bisa tapi lebih sering gagal. Setelah lama berdebat, dia kembali dengan tidak berdaya. Itu berarti kita gagal masuk Gaza. Pemeriksaan yang luar biasa ketat bukan di sisi Mesir, namun justru di sisi Palestina. Touris biasanya sama sekali tidak diijinkan lewat. Namun, kunjungan dengan alasan lain kadang bisa kadang gagal. Sangat tergantung keputusan petugas jaga. Yang pasti bisa masuk adalah para pengunjung rutin seperti pembawa logistik dan pedagang local. Atau membawa surat yang menunjukkan ada hubungan keluarga dengan orang Palestina yang tinggal di wilayah Gaza.
Pada kesempatan lain tahun 2011, saya berkesempatan menuju Palestina wilayah Tepi Barat (juga disebut West Bank) melalui Yordania. Berangkat dari kota Amman dengan mobil menuju arah barat. Tidak sampai setengah jam masuk ke jalan perbatasan bernama King Hussein Bridge yang sempit. Selanjutnya, melalui pemeriksaan perbatasan dengan Palestina dan masuk ke kota Jericho. Di perbatasan ini penjaganya adalah petugas Israel. Meski touris ke Yerusalem cukup banyak, namun sangat sedikit yang melewati jalur ini. Mereka yang datang dari manca negara biasanya langsung mendarat di Ibu kota Israel, yaitu Tel Aviv dan memulai acaranya.
Perjalanan Daerah
Saat itu, saya dianggap aneh oleh orang-orang pedagang dan pekerja tatkala melewati pos penjagaan perbatasan Jericho. Tidak jelas teman pengantar maju menjelaskan apa. Namun, saya bisa lancar melewati imigrasi. Paspor saya pun tidak diberi stempel imigrasi apapun, hanya ditempel secarik kertas kecil. Perjalanan ke Palestina ini sangat singkat. Saya hanya melewati kota Jericho, mampir di Bukit Temptation (Bukit Percobaan) yang berjarak sepuluh menit, dan menghabiskan dua jam di jalan yang padat menuju kota Yerusalem.
Kota Jericho sebetulnya sebuah kota unik. Ini adalah kota tertua di dunia, yang dihuni terus-menerus sekitar 10.000 tahun (baca: seratus abad) sampai sekarang. Jericho sekaligus adalah kota terendah di dunia karena berada rata-rata 300 meter di bawah permukaan laut. Tidak banyak yang bisa dilihat, kecuali kota kunonya mungkin menarik bagi mereka yang paham sejarah. Demikian pula waktu mengunjungi Bukit Temptation. Di tempat ini hanya ada beberapa bangunan sederhana di lereng. Akhirnya, saya dan rombongan tiba di Yerusalem tatkala hari sudah gelap.
Esoknya barulah mulai beraktivitas di bagian kota tuanya. Disini setiap sudut/jangkal adalah sejarah yang sangat kental. Di kota tua ini, sejauh mata memandang hampir semua bangunan berdinding batu yang berwarna coklat muda. Saya mengunjungi beberapa sudut kota, termasuk pasar dan keramaian di lorong-lorong yang sempit, tentu juga ke Masjid Al-Aqsa. Dari kejauhan kubahnya berwarna keemasan yang sangat menarik dan mengagumkan. Masjid ini telah dibangun sekitar 13 abad yang lalu. Berulang kali hancur dalam perang, lalu setiap kali dibangun kembali menjadi makin indah dan besar. Hanya sebagian kecil saya bisa melihat dalamnya masjid ini. Termasuk sebuah lorong yang sangat mewah, dari dinding sampai langit-langit penuh ukiran dan gambar bergaya Eropa. Beberapa bagian lantai dalam keadaan tergali dan ada gundukan tanah, mungkin sedang dalam renovasi. Saya tidak bisa masuk keliling dan berfoto karena saya bukanlah seorang Muslim.
Tentu tidak akan ketinggalan mengunjungi Tembok Ratapan, sebuah tembok besar, yang di belakang tembok ini adalah halaman Masjid Al-Aqsa. Tembok batu ini dibangun ketika Masjid Al-Aqsa masih sebagai tempat ibadah orang Yahudi, sehingga bagian dasar mungkin sudah berusia 4.000 tahun. Bagian tengah dibangun pada abad ke-8 dan bagian paling atas dari batu kecil merupakan bangunan abad ke-16. Tembok ini memiliki arti yang sangat penting bagi orang Yahudi, seperti juga Masjid Al-Aqsa bagi Kaum Muslim. Sejarah Yerusalem yang rumit, mengingatkan saya pada sebuah buku tulisan Karen Armstrong yang sangat asyik dibaca, Jerusalem: One City, Three Faiths.
Bagian dari kota Kuno JerichoTembok Ratapan dan Masjid Al-Aqsa berkubah Keemasan
Di Palestina tidak ada mata uangnya sendiri. Mereka memakai uang Israel, yaitu Syikal. Barang-barang kebanyakan dari Israel. Toko-toko orang Palestina biasanya tutup pada hari Jumat. Esoknya, Sabtu buka kembali. Sedangkan toko orang Israel tutupnya hari Minggu. Makanan disini mirip dengan di Lebanon. Rasa Timur Tengah namun kuat juga intervensi rasa barat, mungkin karena disini orang Israel cukup lama tinggal di Eropa, sementara lebih dari setengah orang Lebanon memang tinggal di Eropa sampai saat ini. Waktu untuk menyoba aneka kuliner tidak banyak, karena saya hanya semalam saja disini, dengan bermalam di hostel kelas backpacker sangat sederhana tapi cukup mahal.
Sepintas, dalam perjalanan singkat saya, tidak terlihat ketegangan atau konflik. Yang terlihat orang Palestina hidup berdampingan dengan orang Israel. Biasa-biasa saja, hanya sering berjumpa beberapa tentara Israel bersenjata lengkap berpatroli. Namun, kita semua tahu, bahwa konflik di daerah itu tidak pernah berhenti selama ribuan tahun. Sejarah yang terlalu panjang saling tumpang tindih, membuat semua pihak sulit untuk mengurut kembali kekusutan ini. Siapa yang benar dan siapa yang salah.
Indonesia punya peran penting dalam masalah ini. Sikap Indonesia jelas dan tegas sejak awal: membantu pihak Palestina yang lemah dan tertindas. Berbagai upaya Indonesia telah dilakukan, baik melalui diplomasi internasional ataupun bantuan dari rakyat/organisasi kemasyarakatan untuk membangun rumah sakit Indonesia di Gaza dan Hebron (Tepi Barat).
Bantuan kemanusiaan juga tidak pernah henti hingga kini. Saya sendiri terlibat beberapa aktivitas pemberian bantuan itu. Karena itu, saya cukup sering diundang Kedubes Palestina di Jakarta dalam berbagai kegiatan. Konflik yang tidak berujung ini juga jelas terasa adanya campur tangan negara super power dalam bentuk yang sangat eksplisit.

