Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi Jawa Timur baru saja merampungkan sebuah buku berjudul ‘Moderasi Beragama di Jawa Timur’. Dengan terbitnya buku ini diharapkan bermanfaat untuk kehidupan berbangsa dan bernegara. Terutama sekali tentu dalam kehidupan beragama. Seiring dengan itu, FKUB Jatim terus berupaya untuk mensosialisasikan buku Moderasi Beragama di berbagai instansi, organisasi keagamaan, dan elemen masyarakat lain.
1. Salam sejahtera Bapak, Mohon maaf bisa memperkenalkan diri bapak? Profesi beserta kegiatan bapak?
Perkenalkan saya Pak Hudiyono selaku Kepala Biro Kesra Provinsi Jawa Timur
2. Apa definisi Moderasi Beragama menurut Bapak?
Moderasi beragama menurut saya adalah cara pandang untuk memahami, membangun sikap toleran untuk memperkuat persatuan dan kesatuan antar pemeluk agama
3. Apa tantangan terbesar dalam rangka Membumikan Moderasi Beragama di Jawa Timur?
Terkadang pada masa sekarang ini pemahaman moderasi beragama terlalu berpatokan bahkan melampaui batas sehingga terkadang bertolak belakang dengan esensi ajaran agama. Selain itu, mengajak masyarakat untuk mempunyai pikiran yang sama dan Bersatu paham pun tidak mudah tidaklah mudah, terkadang dimasa sekarang untuk menjadikan satu paham membutuhkan cara paksaan, mencontohkan pemahaman atas nama agama dan Pancasila menjadi bumerangnya, nah ini yang saya harapkan untuk kedepannya tidak akan terjadi Kembali. Adapun yang sedang marak sekarang, ada beberapa masyarakat yang mengatas namakan agama ingin menggantikan ideologi negara yang sudah menjadi kesepakatan bangsa dan seruan nama jihad agama untuk mengkafirkan sesama.
4. Lalu bagaimana menurut Bapak solusi dari tantangan tersebut?
Indonesia ini ialah negara yang memiliki banyak keberagaman dari segala sudut apapun, dan pastinya akan menimbulkan adanya perbedaan, apalagi dengan agama. Dapat diakui bahwa agamalah yang menjadi paling tajam. Itulah mengapa moderasi beragama penting hadir di Indonesia. Moderasi beragama bisa menjadi solusi dalam menciptakan kerukunan, adanya sikap toleransi, dan diharap tidak ada kekerasan atas perbedaan cara pandang. Adapun cara yang bisa dilakukan di kehidupan sehari-hari, yaitu lebih menegakkan sikap tenggang rasa, yang mana tenggang rasa ialah cermianan sikap menghargai dan menghormati orang lain, pada saat ini mengharuskan kita bertindak adil kepada sesama. Selain itu, kita sebagai masyarakat harus menjaga keseimbangan antara kebebasan beragama dengan komitmen kebangsaan untuk menumbuhkan cinta tanah air.
5. Kalau begitu, Urgensi pedoman buku Moderasi Beragama ini sangat perlu ya Pak?
Menurut saya jika dilihat dari masyarakat sekarang ini, pedoman buku beragama ini sangat penting dan saya berharap buku ini mampu meluruskan konsep beragama yang baik dan benar.
6. Apa harapan Bapak untuk diadakannya buku Moderasi Beragama?
Dengan diadakannya buku moderasi beragama ini, diharapkan akan menjadi perekat antara semangat dengan komitmen berbangsa dan bernegara.
7. Siapa tokoh perancang dan pemroduksi buku yang hebat ini?
Buku ini disepakati Bersama oleh tokoh agama dan tokoh masyarakat, maka harus disosialisasikan sampai ke bawah. Pemerintah dalam hal ini Gubernur Jatim, Bu Khofifah Indar Parawansa meminta agar pengaruh negative dari permasalahan agama bisa segera dikomunikasikan dengan baik
8. Di masyarakat masih ditemui konsep pemahan agamanya yang kurang benar, menurut Bapak bagaimana untuk menanggapi masalah ini?
Agar kesalahan konsep beragama yang tidak benar tidak meluas, maka Bu Gubernur berpesan agar antar tokoh agama dan tokoh masyarakat bisa ‘nyambung-nyekrup’. Hal itu bertujuan untuk menjelaskan konsep-konsep yang benar itu seperti apa menurut buku Moderasi Beragama ini.

