Selamat Datang di Website resmi Forum Kerukunan Umat Beragama Provinsi Jawa Timur

Perayaan Hari Besar Keluarga Berbeda Agama


Oleh: Sugiran

Sekretaris LPCR Pimpinan Daerah Muhammadiyah Situbondo

Perbedaan suku, ras, dan agama sudah lama ada di Indonesia. Slogan "Bhinneka Tunggal Ika" menunjukkan bahwa sejak dulu masyarakat Indonesia berbeda-beda, namun tetap menjadi satu. Perbedaan tidak menghalangi terciptanya kerukunan antar umat beragama. Saling menghormati keyakinan menjadi salah satu kunci kerukunan itu. Tetapi, bagaimana jika perbedaan itu terjadi dalam lingkungan keluarga dekat. Mungkin tidak mudah dilaksanakan kalau rasa saling menghormati keyakinan tidak tertanam kuat.

Saya dan istri Maria Gorreti merupakan pemeluk agama Islam. Kami tinggal di rumah sederhana di kawasan Perumahan Griya Panji Mulya, Desa Curah Jeru, Kecamatan Panji, Kabupaten Situbondo Jawa Timur. Putri pertama kami Ars Hafizhah Ramadhanita (20) saat ini sedang kuliah semester V di Prodi Kedokteran Gigi Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Sedangkan putri kedua Nailah Hafidz Salsabila (12) saat ini memasuki jenjang SMP kelas 1 di Pondok Pesantren Al-Ishlah Bondowoso Jawa Timur.

Saat ini saya merupakan pengurus Muhammadiyah di Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Situbondo. Tepatnya, sebagai Sekretaris Lembaga Pengembangan Cabang dan Ranting (LPCR). Juga sebagai bendahara di Panti Asuhan Muhammadiyah Tunas Melati yang berlokasi di Kecamatan Kapongan, Kabupaten Situbondo. Sedangkan istri saya merupakan anggota Pimpinan Ranting Aisyiyah (PRA) Griya Panji Mulya yang membina TK Aisyiyah Bustanul Athfal (ABA) 3 Panji Kabupaten Situbondo.

Saya berasal dari keluarga yang beragama Hindu. Orangtua dan kakak saya yang tinggal di Desa Sukoreno, Kecamatan Umbulsari, Kabupaten Jember masih beragama Hindu hingga kini. Terdapat dua Pura yang tidak jauh dari rumah orangtua. Sementara adik saya yang tinggal di Tanjung Pinang Kepulauan Riau sudah mengikuti jejak saya memeluk agama Islam. Istri saya berasal dari keluarga beragama Katolik. Kedua Orang tua yang saat ini tinggal di Perumahan Griya Putri Kencana Kota Jember masih pemeluk Katolik. Sebanyak tiga saudara, tepatnya kakak istri saya sudah beragama Islam, sementara satu kakaknya tetap memeluk Katolik.

Bisa dibayangkan bagaimana rumitnya kalau misalkan tidak ada saling menghormati keyakinan masing-masing. Mungkin sudah bubar hubungan keluarga itu. Tetapi, alhamdulillah hingga kini dua keluarga besar ini dengan latar belakang agama yang berbeda bisa menjalin hubungan kekeluargaan yang baik. Bahkan, tetap akrab seperti tidak ada perbedaan apa-apa. Saling membantu kepada saudara yang sedang membutuhkan bantuan tanpa memandang perbedaan keyakinan. Bahkan keponakan saya yang beragama Katolik terkadang gaya manjanya minta ampun, seperti anak sendiri.

Mungkin ada pembaca yang masih bertanya-tanya: Bagaimana dengan perayaan hari besar keagamaan atau hari raya? Jawabnya, tetap tidak ada masalah. Saya dan istri serta kedua putri kami terbiasa mudik tiga kali dalam setahun. Mungkin janggal bagi yang tidak terbiasa. Tetapi, kami biasa menjalani itu setelah menikah pada tahun 2000 silam. Kok bisa tiga kali mudik? Pertama, ketika orangtua saya merayakan Hari Raya Nyepi. Kami datang biasanya bukan pada hari H, karena keluarga masih melakukan ritual Nyepi. Jadi biasanya menunggu hari Minggu karena anak-anak libur sekolah. Layaknya hari raya yang lain, aneka kue terhidang di ruang tamu maupun ruang keluarga. Kami biasanya menginap semalam karena esoknya anak-anak harus sekolah.

Ketika suara adzan sholat lima waktu berkumandang, saya berpamitan kepada orangtua dan kakak untuk pergi ke masjid shalat berjamaah. Yang pasti meminjam sepeda motor kakak untuk meluncur ke masjid. Sesaat kemudian kakak saya memanggil keponakannya. Fisa dan Nailah cepetan shalat, itu ayahmu sudah berangkat ke masjid. Begitu gaya kakak saya mengingatkan keponakannya. Ibu saya juga suka mengingatkan cucunya untuk rajin menjalankan perintah agamanya. "Ndang shalat Fisa karo Nailah iku. Nek gak sholat iso digegeri ayahmu," begitu ibu saya mengingatkan cucunya. Dan, yang pasti menu masakan enak disiapkan untuk menyambut kami. Intinya apa yang disukai cucunya dibuatkan. Tentu hanya menu halal yang disajikan untuk kami.

Begitu juga ketika tiba perayaan Natal. Saya bersama keluarga mudik ke rumah mertua di Kota Jember. Ini mudik kedua. Biasanya akhir tahun bersamaan dengan liburan sekolah, sehingga betul-betul mudik sambil liburan. Aneka kue hari raya juga tersaji rapi di ruang tamu dan ruang keluarga. Aneka menu masakan tersaji di meja makan. Jadi hari raya bergabung dengan liburan menikmati masakan istimewa dari mertua. Menu-menu yang tersedia semuanya halal secara Islam. Jadi, tidak ada keraguan untuk menyantapnya.

Jika waktu shalat tiba, saya berpamitan ke mertua untuk shalat di masjid terdekat. Alhamdulillah, masjidnya sangat dekat dengan rumah mertua. Jadi, cukup berjalan kaki. Mertua juga mengingatkan istriku dan cucunya untuk segera shalat karena sudah terdengar suara adzan. Ketika berbincang santai, istriku juga sering mengingatkan mertua untuk menjalankan agama sebaik-baiknya. Untuk tetap ke gereja setiap Minggu. Jadi, kami terbiasa saling mengingatkan untuk menjalankan perintah agama masing-masing dengan sebaik-baiknya.

Bagaimana jika Hari Raya Idul Fitri tiba. Ini mudik ketiga yang paling heboh. Saya mudik ke rumah orang tua sekaligus ke mertua. 

Tradisi memohon maaf kepada orangtua termasuk mertua saat lebaran terus kami lakukan hingga kini. Uniknya, aneka kue lebaran juga tersedia di rumah orangtua dan mertua. Selain kedatangan kami sebagai anaknya, tamu-tamu dari tetangga kiri kanan banyak yang silaturahmi. Mereka menghormati hari raya anak dan menantunya dengan menyajikan aneka kue lebaran. Tentu tak lupa masakan yang enak-enak dan halal. Tiga kali mudik dalam setahun tentu berefek ke anak-anak kami. Dalam setahun mereka menerima angpao tiga kali.

Bagaimana dengan Anda?

Do you have any doubts? chat with us on WhatsApp
Hello, How can I help you? ...
Click me to start the chat...