Drs. H.A Hamid Syarif, MH.
Ketua FKUB JATIM
Majalah FORUM edisi tahun 2022 ini mengangkat topik "Perjumpaan Antar Umat Beragama". Tema ini sengaja dipilih untuk melihat kembali beragam praktek baik yang dilakukan antar umat beragama dalam merawat hubungan yang harmonis di tengah keragamaan agama, paham keagamaan, etnik, dan budaya. Tekanannya dalam hal ini adalah praktik-praktik baik yang bertumbuh dan berkembang di tengah-tengah masyarakat. Pertanyaannya, mengapa harus praktik-praktik baik?
Jawaban pertanyaan di atas adalah karena semua kita meyakini bahwa setiap agama pasti mengajarkan pentingnya pemeluk agama itu membangun suasana kehidupan yang harmonis dengan sesama. Tetapi memang selalu ada kesenjangan antara ajaran dan praktiknya dalam kehidupan. Karena itu, melalui tema yang diangkat dalam edisi kali ini, Majalah FORUM mengajak pada pembaca yang budiman untuk mengamati secara seksama praktik-praktik baik perjumpaan antar umat beragama dan antar penganut paham keagamaan.
Di antara praktik baik itu adalah perjumpaan-perjumpaan informal dalam berbagai bentuk, seperti: saling mengunjungi tempat ibadah, saling bersilaturrahim ke kantor ormas keagamaan, bersama-sama terlibat dalam kegiatan sosial kemanusiaan, pengembangan ekonomi kreatif, penampilan seni budaya, dan bahkan permainan olahraga. Perjumpaan-perjumpaan secara informal ini penting diperbanyak agar antar pemeluk agama dan penganut berbagai paham agama bisa sesering mungkin saling bertemu dan bertegur sapa.
Harus diakui, sejauh ini kita belum banyak melakukan perjumpaan-pejumpaan informal tersebut. Padahal kalau diamati, sesungguhnya sangat banyak peluang antar umat beragama bisa bertemu secara informal dalam berbagai kegiatan yang ada di tengah-tengah masyarakat. Yang paling sering dilakukan umat beragama adalah kegiatan dialog yang dikemas dalam perdebatan-perdebatan teologi, forum-forum ilmiah, dan perjumpaan formal lainnya. Padahal, dalam perjumpaan-perjumpaan itu hubungan antar umat beragama terasa sangat formal, kaku, kurang mencair, bahkan memicu munculnya kecurigaan (prejudice).
Kesimpulan tersebut ada benarnya. Apalagi tatkala kita menyaksikan perjumpaan dalam bentuk dialog yang dikemas dalam perdebatan-perdebatan teologis antar umat beragama. Model perjumpaan dalam bentuk perdebatan teologi sudah saatnya dikurangi karena terasa kurang produktif. Itu karena dalam setiap perdebatan teologi selalu disertai ketegangan, hubungan yang memanas, dan perasaan bahwa agama dan kelompoknya yang paling benar dan unggul. Sementara agama dan kelompok yang lain diposisikan salah dan inferior. Di sinilah awal mula terjadinya fenomena klaim kebenaran (truth claim) antar umat beragama dan penganut beragam aliran kepercayaan yang ada di tengah-tengah masyarakat.

