Selamat Datang di Website resmi Forum Kerukunan Umat Beragama Provinsi Jawa Timur

Tanah Surga (POTENSI EKONOMI DI DESA SADAR KERUKUNAN)

Nurul Lathifah
Bendahara FKUB Jawa Timur

Masa pandemi virus corona (Covid-19) memberikan dampak terhadap perekonomian di berbagai negara. Akibat pandemi Covid-19 itu banyak negara yang mengalami kemerosotan perekonomian. Salah satunya adalah Indonesia. Usaha mengatasi permasalahan sosial dengan menggunakan pendekatan *entrepreneurship* menjadi sebuah solusi yang efektif untuk mengentas kemiskinan. Harapan kita, pada tahun ini semoga sudah masuk era endemic. Sehingga dengan begitu, kita bisa mengucapkan selamat tinggal pandemi Covid-19. Semoga wabah ini benar-benar segera berakhir. Saatnya perekonomian bangkit dalam memperbaiki ekonomi negeri ini.
Pemulihan ekonomi sangat diperlukan pemberdayaan perekonomian. Hal itu bertujuan agar potensi industri kembali meningkat. Sehingga roda perekonomian Jawa Timur kembali berputar sebagaimana mestinya. Kemampuan perempuan dalam menghasilkan pendapatan melalui kegiatan ekonomi produktif (berwirausaha) berdampak pada pendapatan keluarga mereka. Bahwa melalui aktivis keagamaan perempuan diharapkan ada keteduhan, kedamaian, solidaritas, dan persaudaraan. Sehingga mereka semua dapat menjadi inisiator dan pelopor untuk membangun kekuatan ekonomi yang sebetulnya dimiliki oleh masing-masing organisasi perempuan keagamaan.

Sebagai tahap awal program dari FKUB Provinsi Jawa Timur di bidang pengembangan ekonomi kreatif dalam moderasi beragama yaitu survei potensi ekonomi dalam desa sadar kerukunan umat beragama. Kali ini yang menjadi destinasi adalah di Desa Ngadiwono, Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan. Desa Ngadiwono ditetapkan oleh Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kemenag) Provinsi Jawa Timur sebagai Desa Sadar Kerukunan Umat Beragama di Jawa Timur pada tahun 2021.

Menurut Kepala Desa Ngadiwono, Bapak Atim Priyono, Desa Ngadiwono ditetapkan sebagai Desa Sadar Kerukunan Umat Beragama lantaran telah memenuhi tiga kriteria penting. Pertama, dalam satu desa harus terdapat lebih dari satu agama yang dianut oleh masyarakat. Di desa ini, warganya memeluk agama Hindu, Islam, dan Kristen. Kedua, dipersyaratkan juga adanya tempat ibadah yang beragam. Kebetulan di desa ini terdapat tiga bangunan tempat ibadah dari agama yang berbeda. Warga desa berbeda agama pun dapat menunaikan ibadah sesuai agama masing-masing di rumah ibadah yang ada di desa.

Ketiga, dipersyaratkan di desa tersebut tidak pernah terjadi konflik antar pemeluk agama satu dengan yang lain. Dengan kata lain, di desa ini warganya hidup dengan penuh kedamaian, rukun, saling menghargai dan menghormati. Kerukunan di desa Ngadiwono sudah tumbuh sejak dahulu kala. Semua itu terjadi karena kesadaran masing-masing warganya dalam menumbuhkan sikap rukun, toleransi, dan damai antar warga. Menurut data statistik (jatim.kemenag.go.id:2021). Desa Ngadiwono memiliki tiga rumah ibadah yang berbeda keyakinan, yaitu: 7 bangunan Pura, 2 Masjid, 1 gereja Kristen. Adapun data pemeluk agama di Desa Ngadiwono, yakni: 4032 jiwa (Hindu), 1144 jiwa (Islam), dan 56 jiwa (Kristen).

Mayoritas pekerjaan masyarakat desa Ngadiwono adalah petani sayur. Produksi utama warga desa adalah kentang, gubis, dan wortel. Selain itu, ada potensi lain yaitu Bunga Tarika, Bunga Kasia, Baby Kol yang memiliki banyak manfaat. Berbagai jenis tanaman ini bisa tumbuh subur dengan mudah di desa ini. Tetapi saying sekali, warga desa tidak ada yang menanam karena dianggap belum menjanjikan secara ekonomi. Itu karena pemasarannya juga belum ada.

Tersedia juga tanaman ercis atau kapri dan peterseli. Warga desa pernah menanam berhektar-hektar. Tetapi, setelah panen tidak ada yang membeli. Hasil panen dihargai dengan harga yang sangat murah. Karena itu, warga trauma untuk menanam tanaman tersebut dan beralih ke usaha yang lain. Warga desa hanya berfokus pada tanaman yang menjanjikan saja. Di samping sayur mayur, potensi wisata juga bisa dikembangkan di desa ini karena lokasi desa yang berhawa dingin dan dekat dengan wisata Gunung Bromo.

Kelemahan desa ini terkait perekonomian, terutama persoalan pemasaran hasil panen. Di desa ini banyak sekali potensi ekonomi dalam bentuk sayur mayur dan kebutuhan pokok lainnya. Tetapi, untuk pasar masih terdapat kekurangan. Padahal jika diibaratkan tanah di desa ini laksana Tanah Surga. Tanaman jenis apapun akan tumbuh subur. Kini, yang dibutuhkan warga desa adalah pendampingan secara berkelanjutan. Itu penting agar warga desa dapat memanfaatkan secara maksimal kondisi alam lingkungan. Pendampingan juga penting diarahkan untuk membantu memasarkan hasil tani warga di desa ini.
Dengan demikian, sejatinya banyak sekali potensi ekonomi yang dimiliki oleh desa Ngadiwono yang bisa dikembangkan menjadi ekonomi kreatif yang menjanjikan. Sehingga bisa meningkatkan perekonomian warga desa setempat. Semoga program pengembangan ekonomi kreatif ini bisa berlanjut ke tahap berikutnya. Salam Ekonomi Moderasi!

Salam Ekonomi Moderasi!
Do you have any doubts? chat with us on WhatsApp
Hello, How can I help you? ...
Click me to start the chat...