Pelajar atau pemuda hari ini merupakan pemimpin yang akan datang (student today leader tomorrow). Begitulah kata-kata bijak yang bisa kita baca dari berbagai sumber. Karena itu, tidak ada salahnya menjadikan pemuda sebagai sumber harapan terhadap kepemimpinan masa depan bangsa. Dalam kaitan itulah Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Jawa Timur menyelenggarakan kegiatan pengenalan moderasi beragama di kalangan pemuda lintas agama. FKUB Jatim meyakini bahwa program ini penting untuk mewujudkan kehidupan umat beragama yang terbuka, toleran, saling menghormati dan menghargai pada masa mendatang.
Kegiatan yang diselenggarakan secara simultan di tiga daerah ini bertujuan untuk menyiapkan generasi muda agar pada saatnya menjadi pemimpin yang berpandangan luas dalam melihat persoalan kemajemukan atau pluralitas. Sejak dini pemuda harus menyiapkan diri hidup dalam lingkungan masyarakat yang beragam dalam hal agama, faham keagamaan, etnik, dan budaya. Dengan berpandangan luas dan terbuka itu kita berharap pemimpin yang akan datang, baik pemimpin formal maupun informal, dapat menyelesaikan persoalan pluralitas masyarakat secara damai.
Dalam edisi kali ini kegiatan FKUB Jatim difokuskan pada anak-anak muda. Mereka secara khusus diundang untuk mendapatkan paparan mengenai pentingnya nilai-nilai moderasi beragama. Kegiatan yang diikuti pemuda lintas agama dari berbagai latar belakang sosial ini sekaligus menjadi ajang perjumpaan secara informal di antara umat beragama. Mereka yang jarang bertemu diperjumpakan melalui kegiatan FKUB ini. Berikut dilaporkan kegiatan bertajuk: Sosialisasi Moderasi Beragama untuk Generasi Muda di tiga daerah badan koordinator wilayah (Bakorwil) yang menjadi pusat kegiatan.
Sosialisasi dinilai salah satu cara yang tepat untuk mentransfer pengetahuan tentang moderasi beragama. FKUB Jatim termasuk salah satu lembaga yang telah mensosialisasikan moderasi beragama pada level tokoh agama dan masyarakat serta tokoh perempuan pada pertengahan tahun 2021. Pada tahun 2022, FKUB Jatim memperluas level sosialisasi, yakni pada kelompok pemuda/generasi muda lintas agama di lima Bakorwil. Pada tahap pertama, ada tiga Bakorwil: yaitu Bakorwil Jember ditempatkan di Hotel & Resort Utama Raya Situbondo dan Bakorwil Madura bertempat di Azanastyle Hotel, Pamekasan. Dua kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal yang sama, yaitu 4 Juni 2022. Agenda dilanjutkan tanggal 11 Juni 2022 di Bakorwil Bojonegoro yang ditempatkan di Hotel Swiss Belin Airport Juanda Sidoarjo. Selanjutnya, pada 16 Juni 2022 diselenggarakan kegiatan serupa di Wilayah Kediri. Acara ditempatkan di Hotel Grand Surya, Kediri.
Pamekasan dikenal daerah penghasil sapi kerapan, khususnya di wilayah Madura. Pamekasan juga dikenal dengan daerah yang panas dan tandus, lebih-lebih pada musim kemarau. Dampaknya, sawah dan ladang akan terlihat kering dan tandus. Namun, pada saat dilaksanakan acara FKUB Jatim di Pamekasan (4 Juni 2022), cuaca sangat sejuk dan bersahabat. Acara itu bernama: Sosialisasi Moderasi Beragama untuk Generasi Muda. FKUB Jatim pun dapat melangsungkan acara pengenalan moderasi beragama kepada generasi muda lintas agama dengan baik. Kegiatan diselenggarakan di Azanastyle Hotel, Pamekasan. Kegiatan bertujuan untuk meningkatkan pemahaman keagamaan yang moderat bagi para pemuda lintas agama di Pamekasan. Kegiatan sekaligus sebagai perekat dan perjumpaan secara informal anak-anak bangsa dalam membangun negerinya.
Pemahaman moderasi beragama sangat diperlukan bagi pemuda lintas agama. Di samping itu, juga dilaksanakan pertemuan dengan pengurus FKUB Kabupaten Pamekasan di hotel tempat kegiatan. Pertemuan bertujuan untuk mengetahui perkembangan hubungan antar umat beragama di Pamekasan pada khususnya, dan masyarakat Madura secara umum. Seperti diketahui, sekalipun Islam sebagai agama yang mayoritas dipeluk masyarakat Madura, namun hal itu tidak menutup kemungkinan terjadinya insiden kekerasan bernuansa perbedaan agama dan faham keagamaan. Di Madura selalu tersimpan solidaritas kemanusiaan yang sangat tinggi sehingga nyaris tidak pernah terjadi ketegangan antar umat beragama yang disebabkan perbedaan keyakinan antar pemeluk agama yang sudah diakui atau ditetapkan pemerintah.
Jika ada, peristiwa itu biasanya bukan disebabkan karena perbedaan keyakinan, namun faktor yang lainnya. Untuk itulah acara FKUB Jatim di Pamekasan ini sekaligus bertujuan untuk meningkatkan kerukunan antar umat beragama dan antar penganut faham keagamaan. Kegiatan dilakukan dalam bentuk pertemuan pengurus FKUB Jatim dengan perwakilan pengurus FKUB Pamekasan, Bangkalan, Sampang dan Sumenep. Pengurus FKUB bersepakat bahwa beragama harus mampu menghadirkan kerukunan umat yang dilandasi dengan pemahaman yang baik terhadap nilai-nilai moderasi. Selain bersilaturrahim dengan pengurus FKUB Madura raya, rombongan FKUB Jawa Timur juga mengadakan Sosialisasi Moderasi Beragama yang secara khusus diperuntukkan bagi generasi muda. Acara dibuka Kepala Bakesbangpol Kabupaten Pamekasan. Sebagai narasumber dari FKUB Jatim adalah Prof Dr PHILIP K Widjaya.
Dalam paparannya, Prof Philip di antaranya mengatakan; "Di era digital ini generasi mudah lebih mudah beradaptasi. Sayangnya, generasi muda belum memiliki kemampuan untuk menganalisa kebenaran informasi, kurang pengalaman membedakan hoax dan kebenaran, serta logika dan cara berpikirnya terkadang kurang tepat." Di sinilah wawasan mengenai moderasi beragama penting bagi generasi muda. Pemahaman mengenai moderasi beragama bagi generasi muda adalah hal yang urgen. "Mereka adalah para pelaku dan pemimpin pada masa mendatang. Masa depan kita sebenarnya ada di tangan mereka. Karena itu, agar mereka memiliki kemampuan melihat masalah secara jernih, maka kemampuan mereka harus selalu ditingkatkan," tambah Prof Philip. Semua ini dilakukan agar mereka mampu hidup rukun damai di tengah perbedaan. Langkah ini tidak dapat ditunda lagi, apalagi diabaikan. Itu karena negeri ini sedang menghadapi bahaya ekstremisme dalam berbagai bentuk. Sementara, salah satu pihak yang mudah terpapar ekstremisme itu adalah kaum muda.
Bakorwil Jember
Kegiatan Sosialisasi Moderasi Beragama bagi Generasi Muda se Bakorwil Jember yang dilaksanakan pada tanggal 4 Juni 2022 bertempat di Hotel & Resort Utama Raya Situbondo secara keseluruhan berjalan dengan baik dan sangat gayeng. Pembukaan sesuai dengan rundown acara, yaitu pukul 09.00 WIB. Acara diawali dengan doa bersama menurut agama dan keyakinan masing-masing yang dipandu oleh MC. Dilanjutkan lagu wajib Indonesia Raya yang berkumandang menggema sebagai bukti bahwa perbedaan di Indonesia ini adalah anugerah dan rahmat Allah yang harus disyukuri. Kemudian sambutan pembukaan yang serasa sangat istimewa karena langsung oleh Ketua FKUB Jatim, Drs KH A Hamid Syarif MH (Kyai Hamid).
Dalam sambutannya, Kyai Hamid memiliki harapan yang sangat besar terhadap peran generasi muda secara umum di Jatim dan terkhusus di Bakorwil Jember untuk ikut serta menjadi agen pegiat kerukunan minimal di levelnya saat ini, yakni kaum milenial. "Organisasi Pemuda Lintas Agama harus memberikan contoh yang terbaik dalam lingkungannya, untuk kemudian menularkan virus-virus toleransi dan kerukunan kepada siapapun temannya, dimanapun komunitasnya dan kapanpun berkesempatan untuk berinteraksi," tegas Kyai Hamid.
Memasuki paparan materi tentang Moderasi Beragama disampaikan Dr Kasno Sudaryanto MAg. Peserta tampak sangat antusias dalam mendengarkan paparan dari narasumber. Mengawali paparannya, Pakde Kasno, sapaan akrab Dr Kasno, mengajak kepada generasi muda untuk proaktif dalam memandang perbedaan. "Perbedaan adalah sebuah keniscayaan yang merupakan kondrat yang tidak bisa dihindari. Kaum muda hendaknya mampu mensyukuri dan mengelola kodrat ini menjadi bermakna dalam kehidupan. Generasi millenial hendaknya memiliki kepekaan terhadap sesama untuk saling mengenal dan bukan untuk saling mencurigai; mengembangkan sikap menghargai dan bukan sikap membenci; bersama-sama membangun sinergi dan kepercayaan untuk saling berbagi, membangun kebersamaan, mengesampingkan perbedaan dan peduli akan pentingnya kerukunan, baik intern maupun antar umat beragama," tegas Pakde Kasno.
Lebih lanjut Pakde Kasno mengupas terkait beberapa indikator moderasi beragama, yakni: Pertama, Komitmen Kebangsaan. Artinya, hendaknya cara pandang, sikap dan praktik beragama dilandasi nilai-nilai Pancasila sebagai ideologi negara. Kedua, Toleransi. Artinya, memberi ruang kepada orang lain mengekspresikan keyakinan dan pendapatnya walaupun berbeda dengan apa yang diimani. Ketiga, Anti Kekerasan. Artinya, tidak memaksakan keyakinannya kepada orang lain. Anti kekerasan berarti melawan arrogansi agama dan radikalisme. Keempat, Menghargai Kebudayaan Lokal. Artinya, menghargai praktik keagamaan yang mengakomodasi kebudayaan lokal dan tradisi. Kelima, Inklusifitas. Artinya, setiap pemeluk agama memandang pemeluk agama lain sebagai sesama makhluk ciptaan Tuhan. Sehingga mampu memperlakukan pemeluk agama lain dengan sikap baik, empati, penuh kasih sayang, dan sikap saling menghormati.
Memasuki sesi tanya jawab, moderator membagi dalam beberapa sesi. Sesi pertama, pertanyaan seputar radikalisme, mengapa masih muncul dan bagaimana solusinya serta bagaimana seharusnya generasi muda lintas agama memposisikan diri untuk ikut serta menciptakan kerukunan umat beragama. Sesi kedua, pertanyaan/masukan menyasar tentang pentingnya pembentukan Forum Kerukunan Generasi Muda Lintas Agama setiap kabupaten/kota di Jawa Timur agar memudahkan sinergi dan komunikasi dalam menyatukan visi dan misi generasi milenial di bidang kerukunan umat beragama. Sesi ketiga, berisi usulan pentingnya pertemuan khusus dalam membahas regulasi untuk disampaikan ke PKUB Pusat tentang keberlangsungan eksistensi keberadaan FKUB di Kabupaten/Kota. Hal itu karena masih ada FKUB di beberapa kabupaten/kota yang kurang mendapatkan perhatian dari pemerintah setempat. Bahkan, dalam melaksanakan kegiatan harus dilakukan swadaya mandiri alias urunan dari kantong pribadi pengurus.
Bakorwil Bojonegoro
Pagi itu suasana gayeng terdengar di aula Cristina, Hotel Swiss Bellin Sidoarjo. Sebanyak 42 pemuda pemudi lintas agama/iman dari tujuh kabupaten kota di Jawa Timur. Kegiatan ini didampingi oleh satu orang pengurus FKUB. Dia hadir mengikuti Sosialisasi Moderasi Beragama untuk Generasi Muda yang dilaksanakan oleh FKUB Jatim. Kontingen dari kota udang hadir kompak berseragam biru hitam tulisan GEMA yang mencolok besar.
Kegiatan yang dimulai pada pukul 09.15 ini dibuka secara resmi oleh FX Rubbyjanto, dari bidang pendirian rumah ibadah FKUB Jatim. Sebelumnya, menjelang detik-detik pelaksanaan kegiatan pengurus FKUB Jatim yang hadir melakukan perombakan formasi tim yang bertugas. Sedianya yang akan membuka acara adalah Sekretaris FKUB Jatim, Ir Tamhid Mashudi. Namun, beliau beralih menjadi narasumber karena Dr Udji Asiyah MSi tidak bisa hadir karena jatuh saat hendak berangkat menuju tempat kegiatan.
Pemaparan materi dari Sekretaris FKUB Jatim itu mengingatkan kembali tentang praktek baik moderasi beragama yang sudah sejak dulu dilakukan di Indonesia. Namun, pemahaman agama yang dangkal dan emosi yang belum matang bisa membuat kegaduhan di media sosial yang dapat merusak kehidupan toleransi antar umat beragama. "Tulisan huruf hijaiyah bisa jadi bahasa Arab. Namun, belum tentu ayat Al-Qur'an," imbuh beliau disambut tawa para peserta karena di slide muncul foto sandal yang bertuliskan yamiin yang berarti kanan dan syimal yang berarti kiri dan diberi komentar nitizen sebagai kegiatan yang terkutuk karena menganggap bahwa itu adalah lafadz Allah yang akan terinjak kaki.
Selain itu, beliau juga menuturkan; "Kadangkala ada perbedaan dalam melaksanakan praktek beribadah. Namun selayaknya hal ini membuat umat saling bermusuhan," imbuhnya sambil menayangkan foto bersama Grand Syaikh Al-Ahzar Mesir, Prof DR Quraish Shihab, dan beberapa tokoh agama Islam yang lain sedang sholat berjama'ah. Uniknya dalam foto itu tampak posisi sendekap tangan masing-masing tokoh tersebut berbeda-beda.
Pada saat moderator Nur Ainy membuka sesi pertanyaan langsung disambut dengan antusias oleh peserta. Sembilan orang memberi pertanyaan, menyampaikan ide dan membagikan cerita baik tentang moderasi beragama di daerahnya. Diantaranya, ada usulan tentang digitalisasi informasi moderasi beragama. Bahkan, kesiapan menjadi relawan kontens disampaikan oleh Sutrisno dari Tuban dan Hizkia dari Surabaya. Banyak cerita baik tentang moderasi beragama yang disampaikan peserta.
Misalnya, "Di Mojokerto ada cafe religi. Cafe ini bukan merujuk pada nama tempat tapi menggambarkan suasana santai berbincang generasi muda lintas iman untuk lebih mengenal antar mereka," ujar Roisul Abror. Di kecamatan Krembung, ada masjid, pura dan gereja yang lokasinya berdekatan. "Pada awalnya posisi gereja ada di sebelah barat masjid. Hal ini membuat umat Muslim merasa kurang sreg ketika sholat 'menghadap' ke gereja," ujar Dodik dari kota Petis Sidoarjo. "Akhirnya Pengurus masjid mengkomunikasikan hal ini dengan pihak gereja sehingga terjadi kesepakatan bahwa lokasi masjid bertukar tempat dengan gereja," imbuh pemuda berbadan tegap ini.
"Pada saat perayaan Nyepi ogoh-ogoh diarak masyarakat penganut berbagai agama yang ada di desa Laban kecamatan Menganti," ujar Krisna Ardiantoro. "Sehingga desa itu mendapat predikat Desa Kerukunan di Kabupaten Gresik," imbuh Abdul Muis dari FKUB Gresik. Sedangkan Hasan Basri dari Sidoarjo menginformasikan aneka gerakan yang dilakukan oleh FKUB Sidoarjo, yaitu FKUB Peduli, Gema FKUB dan Satgas Kerukunan. "FKUB peduli mengajak perusahaan yang ada di Sidoarjo untuk memberikan sebagian dana CSR untuk kegiatan kerukunan umat beragama," ulasnya. "Selain itu, satgas pemuda rutin memberikan laporan kepada FKUB tentang kondisi toleransi beragama di 18 kecamatan," imbuhnya.
Kegiatan hari Sabtu, 11 Juni 2022 itu ditutup dengan pembacaan pantun moderasi beragama oleh moderator; Kado dibungkus selembar pita, Pita dibeli saat belanja bersama mama, Sungguh Indah negeri kita, Jika kita mau toleransi dengan sesame; Ada hewan namanya Rakun, Jangan dianggap sebagai hama. Mari kita hidup rukun, saling toleransi beragama. Pada akhir sesi disambung dengan foto Bersama. Peserta yang didominasi generasi muda membuat sesi ini berlangsung seru karena pengambilan gambar diambil dengan berbagai pose.
Mereka yang mempunyai akun di media sosial (medsos) langsung membuka ponsel untuk membuat konten. Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh peserta dari kabupaten Mojokerto untuk membuat kontent vlog tentang moderasi beragama dengan narasumber. Sedangkan tim dari Sidoarjo langsung membuat reportase berita. Benar-benar khas anak millennial yang akrab dengan dunia medsos. Semoga konten mereka mempercepat menyebarluaskan informasi moderasi beragama untuk generasi muda lainnya.
Wilayah Kediri
Pada Selasa, 16 Juli 2022, Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi Jawa Timur kembali menyelenggarakan kegiatan sosialisasi moderasi beragama di Wilayah Kediri. Acara ini ditempatkan di Hotel Grand Surya, Kediri. Acara ini merupakan kelanjutan dari program FKUB Jatim tahun sebelumnya dengan pengembangan sasaran. Untuk kali ini sasaran sosialisasi nilai-nilai moderasi beragama adalah generasi muda. Sementara di tahun sebelumnya sasarannya adalah para tokoh agama dan tokoh masyarakat. Kemudian dilanjutkan pada majelis-majelis agama, serta kalangan perempuan.
Kegiatan sosialisasi di wilayah Kediri dan sekitarnya diikuti oleh utusan FKUB dari enam Kabupaten dan kota yang meliputi: Kabupaten Kediri, Kota Kediri, Kabupaten Tulungagung, Kabupaten Trenggalek, Kabupaten Jombang, dan Kabupaten Nganjuk. Sementara itu, dari FKUB Jatim yang menghadiri acara ini adalah Dr I Ketut Sudiartha MPd.H, Dr Ongky Setio Kuncoro, Ainul Yaqin M.Si, Sunaryo, dan Mas Rama. Acara dibuka pukul 08.30 tepat oleh Ainul Yaqin. Acara dilanjutkan dengan paparan oleh nara sumber utama yang disampaikan oleh Dr I Ketut Sudiartha.
Dalam paparannya, nara sumber banyak menguraikan peran generasi muda dalam mendi-seminasikan nilai-nilai moderasi beragama. "Kenapa FKUB melibatkan generasi muda?" tanya Dr I Ketut. Jawabnya, "Tentu karena rekam jejak generasi muda yang sudah terbukti di sepanjang sejarah bangsa yang memainkan peran penting dalam setiap event perjuangan. Bahkan, jauh sebelum Indonesia diproklamirkan," tambah Dr I Ketut. Setelah paparan narasumber, acara dilanjut dengan sesi diskusi.
Diskusi yang dimoderatori Dr Ongky terasa gayeng. Selain pertanyaan, banyak pendapat dan masukan yang disampaikan peserta. Kritik disampaikan Lukman peserta dari kota Kediri. "Kok dari dulu senangnya sosialisasi dan sosialisasi", sindirnya. "Tetapi begitu mau membuat acara yang bersifat aksi nyata selalu saja dananya tidak ada", lanjutnya. Menyambung itu, seorang peserta dari unsur pemuda yang juga mewakili kaum perempuan dari Jombang mengusulkan kegiatan yang lebih nyata tidak hanya diskusi, tetapi misalnya membuat perkemahan pemuda lintas agama.
Sementara itu, Solihin Nasrudin Ketua FKUB Nganjuk mempertanyakan istilah moderasi beragama. Mengapa tidak memakai istilah moderasi umat beragama. Kemudian dari utusan Tulungagung mengkritik, "Kok tidak fokus saja pada Pancasila. Kenapa sejak reformasi seolah-olah Pancasila ditinggalkan", pungkasnya. Menanggapi semua pertanyaan dan pendapat peserta, Dr I Ketut Sudiartha selaku narasumber menegaskan bahwa justru berbicara moderasi beragama adalah bentuk pendaratan pengamalan nilai-nilai Pancasila. Kedudukan Pancasila sebagai falsafah dan dasar negara sudah final, tidak akan diubah, dan itu terdapat dalam pembukaan UUD 1945. Tetapi, bagaimana Pancasila itu tidak berhenti pada hafalan sila-sila ataupun butir-butir P4, misalnya, namun terwujud dalam kehidupan. Maka, disinilah nilai-nilai moderasi menjadi salah satu yang perlu terus dikembangkan. Acara kali ini akhirnya ditutup pada pukul 12.00 WIB dan dilanjutkan dengan foto bersama dan makan siang.
Bakorwil Malang
Sosialisasi Moderasi Beragama bagi Generasi Muda Lintas Agama di Bakorwil Malang dilaksanakan pada hari Sabtu, 16 Juli 2022, bertempat di Harris Hotel & Conventions Malang. Acara ini diikuti sekitar 49 peserta dari 7 Kabupaten/Kota yaitu Kota Malang, Kabupaten Malang, Kota Batu, Kabupaten Pasuruan, Kota Pasuruan, Kabupaten Blitar dan Kota Blitar. Pelaksanaan Sosialisasi berjalan lancar dan kondusif. Acara diawali dengan pendaftaran peserta yang diatur oleh panitia.
Sesuai jadwal, acara dimulai pukul 08.00 di bawah tangungjawab Budiartha dan Lo Ferdy. Acara selanjutnya pembukaan kegiatan sosialisasi oleh Bapak Drs A Hamid Syarif MH selaku Ketua FKUB Provinsi Jawa Timur. Dalam sambutannya, Kyai Hamid, sapaan akrab beliau, berharap kepada generasi muda untuk ikut berperan serta sebagai pegiat kerukunan pada level generasi Milenial. Kyai Hamid juga berharap kepada para tokoh agama untuk membimbing dan membina generasi muda.
KH Ahsanul Haq MPdI selaku moderator memandu sessi tanya jawab. Moderator memberikan waktu seluas-luasnya bagi peserta untuk menyampaikan pertanyaan maupun masukan, saran dan kritik serta informasi peran generasi muda di daerah masing-masing. Banyak masukan dari perwakilan delegasi generasi muda kabupaten/kota yang menyampaikan banyak hal tentang kerukunan, keguyuban dan kegiatan maupun potensi daerah. Begitu gayengnya diskusi, tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 12.00 Wib, sehingga kegiatan sosialisasi harus diakhiri. Moderator selaku penanggung jawab pelaksanaan sosialisasi menyampaikan kesimpulan dan sekaligus menutup acara mewakili Ketua FKUB. Kegiatan selanjutnya adalah foto bersama dan ramah tamah.
(Biyanto, Aini, Ainul, Sunaryo, Rozikin).

