Selamat Datang di Website resmi Forum Kerukunan Umat Beragama Provinsi Jawa Timur

Berjalan Bersama, Berdialog, dan Mendengar

FX Rubbyjanto Suganda

Anggota Bidang Pendirian Rumah Ibadah (PRI) FKUB Jawa Timur

Sangat bersyukur ditakdirkan lahir, tinggal dan menjalani kehidupan di negeri tercinta, yang masyarakatnya sangat majemuk. Menurut sensus BPS tahun 2010 ada 1.340 suku bangsa di Indonesia. Juga ada 6 agama serta berbagai aliran kepercayaan pada Tuhan Yang Maha Esa. Memang harus diakui bahwa kemajemukan dan plurarisme, akhir-akhir ini menjadi sesuatu yang harus dipertahankan dan bahkan diperjuangkan Kembali. Toleransi terkadang seakan hanya menjadi sebuah slogan, serta milik kalangan dan kelompok atau golongan tertentu. Di tingkat masyarakat bawah seringkali muncul berbagai kasus dan persoalan intoleran, teristimewa persoalan yang dikaitkan dengan agama dan tempat ibadah.

Moderasi beragama yang digaungkan pemerintah melalui Kementerian Agama, bukanlah sesuatu yang berlebihan. Pemerintah dalam tahun Toleransi Sedunia, kembali mengajak masing-masing umat beragama yang ada di Indonesia untuk memahami dan menjalani ajaran agamanya secara benar dan tidak berlebihan. “Nostra Aetate”, sebuah dokumen Gereja Katolik yang dikeluarkan dalam Konsili Vatikan II, berbicara khusus tentang bagaimana hubungan Gereja Katolik dengan agama-agama lain. Gereja Katolik menyadari bahwa ia tidak berjalan sendiri di dunia. Gereja Katolik mengakui bahwa kebenaran-kebenaran juga ada dalam agama lain, yang menghantar umat manusia untuk menemukan Tuhan.

Ditegaskan; “Agamaku adalah agamaku, dan agamamu adalah agamamu”. Ungkapan ini sebenarnya mau mengingatkan kembali pada kita, bahwa perbedaan yang ada dalam hidup beragama di bumi nusantara tidak perlu diperdebatkan. Karena dalam sejarah perjalanan bangsa Indonesia, pluralisme sudah ada dan sudah mewarnai kehidupan masyarakat bangsa Indonesia. Akan tetapi menjadi penting untuk diperhatikan bersama, jangan masuk dalam kaidah dan ajaran agama lain, apalagi mencampuradukkan satu ajaran agama dengan ajaran agama lain. Melihat realitas situasi yang ada dan berkembang, maka membangun persaudaraan yang sejati, menjadi prioritas gerakan bersama yang harus tercipta, antar lintas agama, suku, golongan dan juga lintas budaya, guna mengantisipasi berbagai paham yang dapat mengoyak kerukunan dan kedamaian bangsa yang sudah ada. Ini semua akan terealisasi dengan cara: “Berjalan Bersama, Berdialog dan Mendengar”.


Berjalan Bersama

Terbayang bagaimana bila kita menempuh perjalanan jauh seorang diri, tanpa teman perjalanan, berjalan sendiri, akan membuat kita jenuh, bosan dan tentu akan melelahkan. Sangat berbeda, bila berjalan bersama, tentu akan ada dialog dan secara bergantian untuk berbicara dan tentunya juga saling mendengar. Ada suka cita, berbagi dan lain sebagainya, yang membuat perjalanan menjadi lebih menyenangkan.

Pada hakekatnya manusia adalah mahluk sosial, yang dalam kehidupannya saling membutuhkan satu dengan yang lain. Mulai dalam sebuah keluarga, di tengah masyarakat, sebagai umat beriman, sebagai warga bangsa, bahkan dalam dunia usaha serta pekerjaan, dan seterusnya. Disinilah kita diminta terus membangun relasi, menjalin komunikasi serta bertumbuh dalam kebersamaan. Namun perlu diingat, tidak semua hubungan dalam sebuah relasi akan berlangsung selamanya, serta dapat berjalan dengan baik dan langgeng. Begitu juga dalam hal berkomunikasi, maksud serta tujuan kita baik, namun tidak selalu dapat diterima dan direspon dengan benar dan penuh sukacita.

Untuk itu, tidak ada salahnya terus belajar, bagaimana sikap dan cara, dengan siapa dan untuk apa kita berelasi, tidak sekedar berjalan bersama. Dalam berjalan bersama, dibutuhkan sikap sehati dan sepikir, juga kerendahan hati. Dengan demikian tidak ada sikap egois dan maksud tujuan untuk kepentingan-kepentingan tertentu, apalagi memanfaatkan dan mencari keuntungan pada teman seperjalanan. Untuk mencapai apa maksud dan tujuan dalam berjalan bersama, dibutuhkan gerak bersama. Saling memberi masukan serta berani menegur dengan baik dan bijak. Agama Katolik menuntun umatnya, bagaimana bersikap menjadi seorang katolik yang dalam kehidupan sehari-hari dapat berjalan bersama dengan Allah Tritunggal Mahakudus (Bapa, Putra dan Roh Kudus) sebagai sumber iman.

Berjalan bersama Tuhan artinya, melangkah dalam iman dan persatuan dengan Tuhan dalam menapaki kehidupan. Berjalan ke arah yang benar, menjauhi segala larangan Nya, berfokus pada bimbingan dan arahan Tuhan Yesus Kristus, bergantung serta berharap pada pertolongan-Nya, karena Ia sebagai Gembala Yang Baik. “Kasih” yang diajarkan dan diminta Tuhan Yesus Kristus wajib diimplementasikan oleh umat Kristiani dalam kehidupan sehari-hari, mengasihi yang Tuhan Yesus Kristus perintahkan bukan saja untuk ditujukan pada umat yang seiman, bukan juga untuk orang yang sesuku atau segolongan, namun pada semua orang tanpa terkecuali, bahkan pada orang yang memusuhi dan membenci pada kita sekalipun.

Dengan demikian semakin jelas, bahwa umat Katolik, harus bisa dan berani membuka diri, menerima dan dapat berjalan bersama, dengan siapapun tanpa ada perbedaan. Tidak sekedar berjalan bersama, namun membangun dan menjaga harmonisasi ini yang sungguh sangat penting dan harus diperhatikan. Sebagai umat Kristiani, tetap berupaya untuk memberi kesaksian sebagai murid-murid Tuhan Yesus Kristus (Martyria) yang penuh kerendahan hati.

Berdialog dan Mendengar

Keberagaman suku, golongan dan keberadaan pluralisme agama, bila disadari dengan sungguh-sungguh akan membuahkan dan membangun toleransi. Setiap pribadi juga harus mengakui, bahwa setiap agama dengan para pemeluknya, mempunyai hak yang sama sebagai warga bangsa dan terhadap Undang-Undang. Maka, yang harus dibangun adalah perasaan dan sikap untuk saling menghormati antar umat pemeluk agama. Kebersamaan pada pluralisme dapat tercipta karena adanya toleransi. Karena dalam toleransi selalu ada rasa saling menghormati setiap individu tanpa melihat latar belakang, mau bersikap terbuka terhadap perbedaan yang ada, tidak pula memaksakan kehendak, saling membantu dan tidak mencari peluang atau kepentingan apapun.

Bertoleransi juga berarti tidak mengejek, mencela atau menghina keyakinan, agama, ras ataupun budaya orang lain. Sikap rendah hati, jujur dan tulus harus menjadi bagian utama dalam berjalan dan membangun kebersamaan. Pluralisme merupakan sebuah fenomena yang tidak mungkin dihindari. Manusia hidup dalam keragaman dan merupakan bagian dari keragaman itu sendiri, tak terkecuali dalam hal beragama dan menjalankan kewajiban keagamaannya. Intoleransi dalam pluralisme keagamaan merupakan tantangan khusus yang dihadapi akhir-akhir ini. Untuk mencapai kondisi penyelesaian dan menemukan jalan keluar dari masalah yang sedang dihadapi, berdialog merupakan salah satu cara untuk mencapai kondisi yang baik dari semua pihak.

Kembali belajar pada Dokumen Gereja Nostra Aetate, di mana dalam dokumen ini mengajak gereja dan agama-agama lain untuk hadir sebagai saudara dalam gerak dan kerja sama untuk mencapai kehidupan bersama lebih baik. Dalam dokumen Gereja Nostra Aetate juga ada pengakuan bahwa ada banyak agama dan tradisi lain di luar Gereja. Deklarasi Nostra Aetate menggambarkan sikap dewasa yang perlu diambil dalam hubungannya dengan agama-agama lain, sikap dewasa ini ditunjukkan dengan saling menghargai serta mau berdialog secara terbuka dengan para pengikut agama lain.

Berdialog merupakan salah satu wujud keserasian dan keharmonisan, karena adanya niat dan keinginan untuk memadukan perbedaan pandangan dan melakukan pendekatan yang positif antara satu pihak dengan pihak lain. Dialog akan membuahkan keserasian atau keselarasan dan saling pengertian orientasi dialog bukan untuk saling menyalahkan dan mengalahkan, tetapi lebih untuk mau memahami dan menerima pandangan yang berbeda. Dialog juga berorientasi sebagai sarana komunikasi untuk menjembatani ketidaktahuan dan kesalahpahaman dalam budaya yang berbeda. Dialog bukan hanya berorientasi untuk hidup bersama secara damai dengan cara bertoleransi dengan pemeluk agama lain, melainkan juga berpartisipasi secara aktif terhadap keberadaan pemeluk agama lain.

Dialog tidak akan pernah menemukan kata sepakat, bila salah satu pihak tidak pernah mau mendengar dengan baik, entah itu masukan atau pemberian akan keterangan. Dalam hal orientasi mendengar membutuhkan kesabaran serta kerendahan hati, tidak memancing dan terpancing emosi, yang bisa ditimbulkan dan terlontar dari kata-kata serta hasutan dalam sebuah dialog. Bahkan Bapa Suci Paus Fransiskus dalam hari komunikasi sedunia yang ke-56 tahun 2022, mengambil dan menetapkan “Dengarkan” sebagai tema. Bapa Suci Paus Fransiskus, meminta dunia, dalam berkomunikasi hendaknya selalu belajar untuk mau mendengar. Mendengarkan juga merupakan dasar untuk informasi yang baik, serta pencarian kebenaran. 


PENUTUP 

Manusia terlahir, tidak bisa meminta dan menentukan, dilahirkan oleh siapa orang tuanya, dari suku apa, dari bangsa dan negara mana, bahkan apa agamanya. Manusia juga sebagai makhluk sosial yang tidak bisa hidup dan menjalani kehidupan tanpa dukungan dan bantuan orang lain, yang bisa jadi berbeda dalam hal agama ataupun suku. Maka, syukuri apa yang telah ditakdirkan dan dikendaki Tuhan untuk semua ini, Tuhan memang dengan sengaja mencipta dan membentuk kita berbeda satu dengan yang lain. Berbeda dan keragaman bukan hal yang harus dirisaukan apalagi sampai diperdebatkan. Kita harus mau memahami dan menerima semua kodrat yang ada, keragaman akan suku dan golongan bukanlah merupakan ancaman. Tetapi sebaliknya, merupakan sebuah kekuatan, sejarah telah membuktikan hal ini dalam peristiwa Sumpah Pemuda pada tahun 1928.

Berjalan bersama, tidak saja membawa kita menjadi guyub rukun, tetapi tanpa disadari, akan membangun sebuah benteng persatuan anak bangsa yang kuat dan kokoh. Dalam berjalan bersama tidak menutup kemungkinan akan adanya salah pengertian, salah sikap dan lain sebagainya. Orang bijak selalu mengatakan, tidak ada masalah yang tidak bisa diselesaikan. Berdialog dan saling mendengar merupakan sarana yang baik, untuk tetap menjadikan satu dengan yang lain, bersatu dan bergerak bersama.


Berjalan dan bergerak bersama bisa diwujudkan dalam berbagai bentuk tindakan serta dialog. Pertama, “Dialog Kehidupan”, dimana tanpa disadari dialog ini telah dipraktekkan dalam kehidupan nyata sehari-hari di tengah masyarakat. Kedua, “Dialog Karya”, yang terbangun atas panggilan hati nurani dan menjadi sebuah gerakan karya bersama, untuk membantu dan menolong orang lain. Ketiga, “Dialog Agama”, biasanya terjadi antar tokoh lintas agama dan kepercayaan, yang tentunya, buah dalam dialog ini akan menuntun umat masing-masing agama, pada keharmonisan dalam menjalankan kewajiban beragama dan kehidupan bersama. Pelangi itu menjadi indah karena adanya perbedaan warna.

Do you have any doubts? chat with us on WhatsApp
Hello, How can I help you? ...
Click me to start the chat...