Nur Aini
Bidang Pemeliharaan FKUB Jawa Timur
Problem sosial terkait persoalan kepereempuanan masih banyak dijumpai mulai dari tingkat elit sampai masyarakat bawah. Problem ini mensicayakan kerja-kerja besar bersama elemen masyarakat yang melintas batas. Kegiatan itu harus dilakukan untuk membangun kebersamaan sekaligus memperbesar peluang keberhasilan dalam menyelesaikan persoalan yang ada. Di balik kerja-kerja kemanusiaan yang dilakukan untuk memberdayakan kaum perempuan itulah ditemukan banyak cerita menarik, seru dan unik dari proses interaksi dan komunikasi dengan pihak lain yang berbeda. Di antara yang menarik itu adalah keterlibatan komunitas lintas iman dalam hampir semua kerja-kerja kemanusiaan. Berikut ini merupakan bagian dari kisah-kisah menarik di balik kiprah perempuan lintas iman dalam kerja-kerja kemanusiaan.
Jemaat Gereja Menyanyikan Mars ‘Aisyiyah
Ida Irawati salah satu warga desa Kalimanis, Kabupaten Blitar adalah jamaah gereja yang taat. Pada tahun 2015-2017, Ida turut menjadi relawan dalam program MAMPU, Maju Perempuan Indonesia. Sebuah program pemberdayaan kepemimpinan perempuan di tingkat grass root yang dilaksanakan oleh ‘Aisyiyah dengan dukungan pendanaan dariAUSAID. Pada awalnya Ida sempat mendapat teguran dari pendeta karena takut Ida akan menjadi mualaf. Itu karena dia terlibat secara intensif dengan kegiatan anggota ‘Aisyiyah, sebuah organisasi otonom Muhammadiyah. Ida sangat aktif dalam kegiatan-kegiatan di program MAMPU. Namun, Ida merasakan bahwa tidak pernah mendapat ajakan atau diarahkan untuk menjadi Muslim. Karena kegiatan yang dilakukan oleh ‘Aisyiyah fokus pada kegiatan pemberdayaan perempuan yang bisa diikuti oleh seluruh perempuan di desa Kalimanis. Bahkan, kegiatan ini sejak awal dirancang tanpa memandang agama, ras dan suku. Ida merasakan setelah menjadi kader program MAMPU, dia menjadi semakin berani dan percaya diri. Pada akhirnya, Ida bisa meyakinkan hal itu kepada pihak gereja sehingga dia tidak dilarang lagi untuk terlibat dalam kegiatan MAMPU.
Begitu seringnya terlibat dalam kegiatan ‘Aisyiyah melalui program MAMPU, Ida menjadi hafal Mars ‘Aisyiyah. Lagu ini wajib dinyanyikan saat ada kegiatan resmi yang dilaksanakan ‘Aisyiyah. Bahkan, sesekali dia menjadi “dirigen” saat ada kegiatan seremonial di program MAMPU. Pada saat ‘Aisyiyah se Jawa Timur berkumpul dalam salah satu kegiatan di Universitas Muhammadiyah Malang, Ida bersemangat ikut menghadiri acara tersebut. Karena memang saat itu kader MAMPU juga ikut diundang hadir. “Walau awalnya saya agak ragu, karena saya Nasrani dan tidak berjilbab saat acara tersebut, namun pada akhirnya saya beranikan hadir. Dan, tidak ada masalah, nyaman-nyaman saja,” ujarnya.
Karena Aku Mengasihimu
Penanggulangan penyakit TBC (Tuberkulosis) yang juga dikenal dengan TB menjadi salah satu program ‘Aisyiyah yang dilaksanakan di berbagai kota di Jawa Timur. Kegiatan lapangan berupa pendampingan PMO (Pengawasan Menelan Obat) banyak merekrut relawan dari berbagai kalangan. Kegiatan relawan PMO ini sangat krusial. Itu karena pada penderita TBC apabila mereka tidak meminum obat secara rutin, maka harus melakukan pengobatan mulai dari dosis awal kembali.
Di Kota Tahu, Kota Kediri, pada awalnya ada tiga kader yang beragama Nasrani. Mereka berasal dari dua kecamatan yang berbeda. Namun, mereka kompak melebur menjadi satu dengan kader lain dalam membantu mendampingi pasien TBC. Pada saat ini yang masih aktif tinggal satu orang, yaitu Sumilah. Sedangnya dua orang kader lainnya tidak aktif karena mempunyai kesibukan lain. Berbagai aktifitas peningkatan kapasitas kader penanggulangan TBC membuat mereka sering berinteraksi. Sumilah tidak pernah merasa canggung meskipun sendirian beragama lain. Para kader fokus pada kegiatan kemanusiaan untuk membantu penderita TBC. “Saya sangat senang terlibat dalam program ini. Karena saya bisa menyalurkan rasa kasih saya kepada umat Tuhan yang membutuhkan,” ujar perempuan berusia 45 tahun tersebut.
Saling Membantu di Semeru
Semburan Semeru membuat ketenangan desa Penanggal terguncang. Desa yang memiliki penduduk multi agama ini terletak 25 KM dari kota Lumajang. Desa ini memiliki pemandangan indah dan suasana yang tenang. Seluruh aktivitas kegiatan warga berhenti total. Untuk memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat didirikanlah dapur umum oleh berbagai pihak. Yang seringkali luput dari perhatian adalah makanan untuk usia bayi dan lansia. Padahal, menu dan jenisnya memiliki spesifikasi khusus.
Untuk memenuhi kebutuhan dua golongan usia itu ‘Aisyiyah membuat menu khusus. Semua bayi dan lansia tanpa memandang agama dan golongan bisa menikmati makanan yang diberi titel ‘Massera’. Makanan sehat ‘Aisyiyah ini disambut hangat oleh para pengungsi karena anak balitanya tetap tercukupi gizinya walau dalam masa bencana. Hal ini disampaikan oleh salah seorang pemeluk agama Hindu di sana.
Pada saat kondisi bencana itu aktivitas lembaga pendidikan juga berhenti total. Lama kelamaan anak menjadi jenuh dan ingin kembali belajar dan bersosialisasi dengan teman sebayanya. Maka, hadirlah “Koriyah (Sekolah Ceria ‘Aisyiyah)” untuk memberikan pembelajaran dan pemulihan kesehatan mental bagi yang membutuhkan. “Pada saat aktivitas pembelajaran itu bisa diketahui anak yang membutuhkan pendampingan psikososial,” ujar Lilik Nurdiani M,Psi, perempuan purna tugas dari salah satu SMP Negeri di Lumajang. Selain itu, untuk menguatkan mental anak anak dilakukan juga penguatan spiritual berdasarkan agama dan keyakinan masing-masing. Untuk itulah dilakukan pemetaan kelompok supaya kegiatan tersebut bisa berjalan dengan optimal.
Untuk melakukan berbagai aktivitas tersebut selain dilakukan oleh ibu-ibu ‘Aisyiyah dari Lumajang juga didukung tim lintas sektoral dari kota-kota yang ada di Jawa Timur. Bahkan, ada yang dari luar Jawa Timur. Tim ini berposko di rumah salah satu pemeluk agama Hindu yang ada di desa Sumber Mujur, yang terletak berdekatan dengan desa Penanggal. Pemilik rumah tidak hanya menyediakan tempat tinggalnya sebagai posko tim, tapi juga ikut membantu tim supaya bisa melaksanakan tugasnya dengan baik. “Beliau senang sekali dengan aktivitas tim relawan karena sangat membantu korban bencana,” tutur ketua Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah (PDA) Lumajang.
PDA Lumajang tampak sangat aktif pada saat bencana erupsi Semeru melakukan kegiatan kerelawanan dalam penanggulangan kebencanaan bersama seluruh majelis/bidang yang ada di ‘Aisyiyah. Untuk mendukung kebangkitan ekonomi, maka dilaksanakan pelatihan keterampilan untuk kalangan perempuan. Kegiatan yang bertajuk SWA (Sekolah Wirausaha ‘Aisyiyah) melahirkan 10 kelompok usaha berdasarkan jenis produknya. “Ada dua orang beragama Kristen yang ikut dalam kelompok usaha rajut,” terang perempuan berusia 64 tahun tersebut. Untuk melancarkan pemasaran produksi dari kerajinan, maka ‘Aisyiyah memfasilitasi dengan menawarkan produk ke berbagai pihak dan juga melakukan kegiatan bazar.
Hadiah dari Sang Tetua
Kisah ini dituturkan oleh Etik Siswati, salah satu anggota tim media 'Aisyiyah yang mengajar di Universitas Muhammadiyah Papua. Mayoritas mahasiswa di sana adalah non-Muslim. Selain itu, masyarakatnya masih sangat erat memegang tradisi budaya. Ada seorang anak kepala suku yang menjadi mahasiswa di sana. Sebelumnya, dia beberapa kali belum menemukan tempat dan jurusan yang cocok. Hingga pada akhirnya dia telah menemukan jurusan yang sesuai sehingga mempunyai semangat belajar tinggi.
Orangtuanya sangat senang dengan perubahan yang terjadi pada anaknya. Sebagai rasa sukacita kepala suku menghadiahkan seekor babi kepada kampus. Sebuah hadiah yang mempunyai arti istimewa bagi mereka. Secara sosial akan menimbulkan ketidakharmonisan bila menolak pemberian tersebut, meskipun pihak kampus tidak mungkin mengkonsumsi babi. Untuk menghormati pemberian ini pihak kampus merawat babi di salah satu area kampus yang agak jauh dari tempat aktivitas. Pada saatnya babi ini kemudian akan diberikan kepada karyawan yang berasal dari penduduk asli apabila ada perayaan tertentu.
Terima Kasih Saudaraku
Kisah pengeboman gereja beberapa tahun yang lalu, tepatnya pada pertengahan bulan Mei 2018, terasa masih menyimpan kenangan pahit bagi jemaat tiga gereja di Surabaya yang menjadi sasaran aksi terorisme. Pada saat itu Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur langsung berkunjung sekaligus menyampaikan empati pada para korban. Di antaranya dilakukan dengan menyampaikan ucapan duka yang mendalam untuk jamaah gereja dan juga memberikan bantuan kemanusiaan. Hal ini menjadi kenangan yang tak terlupakan bagi pihak gereja karena mendapat perhatian dari saudara lintas iman.
Pada kesempatan selanjutnya, bulan Mei 2022, pihak gereja melakukan kunjungan ke kantor Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur. Pimpinan 'Aisyiyah Wilayah Jawa Timur juga turut menerima tamu tersebut. "Kegiatan ini dimaksudkan untuk menyampaikan terima kasih atas perhatian yang sudah diberikan oleh Muhammadiyah saat bencana bom aksi terorisme terjadi pada beberapa tahun lalu," tutur pendeta Natael selaku ketua rombongan saat itu. "Kegiatan ini baru bisa dilakukan karena pasca pengeboman pihak gereja masih fokus dalam kegiatan pemulihan. Selanjutnya, semua pihak sibuk dalam penanganan kondisi pandemi Covid 19," ujarnya.
Pertemuan berlangsung gayeng dalam suasana cair, diselingi dengan joke-joke segar hadirin. "Saat menolong orang tenggelam tidak mungkin kita menanyakan agama yang dianutnya," canda Dr KH Saad Ibrahim MA, ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur. Candaan Kyai Saad pun disambut gelak tawa hadirin yang memenuhi ruangan rapat kantor Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur. Pada saat peringatan mengenang pengeboman, pihak gereja juga mengundang 'Aisyiyah untuk hadir dalam kegiatan tersebut. Sehingga hal ini menjadi kunjungan balasan serta rasa perhatian terhadap 'Aisyiyah terhadap rasa duka yang dialami jemaat gereja.

