Selamat Datang di Website resmi Forum Kerukunan Umat Beragama Provinsi Jawa Timur

UPAYA GEREJA KATOLIK MEWUJUDKAN PERJUMPAAN ANTAR UMAT BERAGAMA

Romo Dr Agustinus Pratisto Trinarso S.S., Lic.Phil.

Pastor Gereja Katolik SMTB Ngagel, Dosen filsafat Universitas Widya Mandala, dan anggota Bidang Pemberdayaan FKUB Jawa Timur.


Perjumpaan antar umat beragama di Indonesia dewasa ini memiliki banyak tantangan. Tantangan itu terutama terkait semakin menguatnya sikap-sikap fundamentalis dalam beragama yang menimbulkan kondisi intoleran. Keprihatinan akan kondisi hidup bersama sebagai saudara sebangsa dan setanah air makin menguat karena hidup rukun dan harmonis antar umat makin melemah. Dibutuhkan upaya-upaya membangun perjumpaan antar umat beragama secara terencana dengan baik, selain dinamika natural yang ada secara budaya dalam masyarakat. Gereja Katolik memandang penting upaya perjumpaan antar umat beragama dibangun dan diperjuangkan demi kesatuan dan persatuan hidup sebagai sesama anak bangsa Indonesia di jaman millenial ini.


Perjumpaan Umat Beragama dalam Gereja Katolik

Dasar moderasi beragama melalui dialog berasal dari kitab suci Perjanjian Lama, yaitu Kitab Mazmur: "Sungguh, alangkah baiknya dan indahnya, apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun! Seperti minyak yang baik di atas kepala meleleh ke janggut, yang meleleh ke janggut Harun dan ke leher jubahnya. Seperti embun gunung Hermon yang turun ke atas gunung-gunung Sion. Sebab ke sanalah TUHAN memerintahkan berkat, kehidupan untuk selama-lamanya" (Mazmur 133:1-3). Hidup rukun sebagai saudara meskipun berbeda keyakinan menjadi hal yang diperjuangkan hadir karena menghadirkan berkat Tuhan bagi kesejahteraan hidup bersama.

Gereja Katolik sendiri selalu mengupayakan perjumpaan antar umat beragama untuk membangun kerukunan dan toleransi. Hal ini ditegaskan pada Konsili Vatikan II melalui Dokumen Gereja Nostra Aetate poin ke-5 yang menyatakan: "Kita tidak dapat menyerukan nama Allah, Bapa segala bangsa, bila kita tidak mau bersikap sebagai saudara terhadap orang-orang tertentu, yang diciptakan menurut citra Allah. Hubungan manusia dengan Allah Bapa dan dengan sesamanya begitu erat sehingga Allah berkata, “Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih” (1 Yoh 4:8). Gereja mengecam segala bentuk diskriminasi dan penganiayaan terhadap manusia berdasarkan keturunan, warna kulit, keadaan hidup, ataupun agama.

Oleh karena itu, mengikuti jejak rasul Petrus dan Paulus, Konsili meminta dengan sangat kepada umat Katolik: "Milikilah cara hidup yang baik di tengah-tengah bangsa-bangsa bukan Yahudi" (1Ptr 2:12), dan bila memungkinkan hidup berdamai dengan semua orang sehingga kita semua dapat menjadi anak-anak Allah di surga." Menurut perspektif Gereja Katolik, membangun toleransi dan kerukunan antarumat beragama dalam perjumpaan antar umat beragama bersifat penting untuk: (1) Menjalankan praktik hidup beragama secara benar, konsekuen, dan efektif; (2) Mencapai tujuan agama, yakni keselamatan/kebahagiaan di dunia dan akhirat yang dapat dicapai melalui cinta kasih, yang tidak lain adalah intimitas relasi antara manusia dengan Allah dalam intimitas relasi antara manusia dengan manusia; (3) Mewujudkan kebutuhan yang hakiki dan cita-cita setiap insan manusia, yaitu damai sejahtera lahir dan batin dalam “dunia” yang harmonis, rukun dan damai.

Untuk mewujudkan perjumpaan antar umat beragama, Gereja Katolik mengacu pada prinsip-prinsip ajaran sosial Gereja Katolik:

1. Martabat pribadi manusia, yakni setiap umat beragama memiliki martabat yang harus dihormati.

2. Prinsip kesejahteraan umum, yakni setiap umat beragama berhak mendapatkan perlindungan dan bantuan hukum saat diusik akibat agama yang dianutnya.

3. Tujuan universal harta benda, yakni Gereja Katolik hendaknya membantu siapapun yang membutuhkan pertolongan sesuai dengan semangat mengasihi Kristus.

4. Prinsip subsidiaritas, yakni saat umat Katolik sudah tidak mampu mengatasi masalah intoleransi, hendaknya Gereja Katolik ikut campur.

5. Keterlibatan

6. Prinsip solidaritas

Dasar-dasar ajaran Gereja Katolik dalam memperjuangkan perjumpaan antar umat beragama lain bukanlah dasar untuk misi dan pewartaan seperti yang sering dijadikan stigma kristenisasi pada gereja Katolik saat melaksanakan upaya dialog dan amal kasih. Dasarnya adalah hidup rukun dan harmonis untuk saling membangun kualitas iman yang nyata dalam hidup sehari-hari di tengah masyarakat. Prinsip-prinsip yang digunakan adalah prinsip martabat manusia, yang menghargai dan menjunjung tinggi para pemeluk iman yang berbeda.


Upaya Gereja Katolik Membangun Perjumpaan

Gereja Katolik tidak punya cabang, tidak punya aliran, tetapi satu, utuh dan terstruktur dari pusat (Vatikan/kepausan), Keuskupan, Paroki, hingga sampai lingkungan-lingkungan (RT/RW). Di bawah kepemimpinan Sri Paus, para uskup dan para imam, Gereja Katolik memiliki satu kesatuan yg utuh dan integral di seluruh dunia. Gerakan untuk membangun perjumpaan antarumat beragama merupakan gerakan Gereja Katolik di seluruh dunia, mulai dari tingkat pusat Gereja di Roma, hingga sampai ke akar rumput, di tingkat paroki dan lingkungan. Dewan Kepausan di Vatikan memiliki Dewan Kepausan untuk Dialog Antaragama (DKDA), salah satu departemen dalam Kuria Romawi. Departemen ini didirikan oleh Paus Paulus VI pada tanggal 19 Mei 1964 dengan nama Sekretariat bagi Umat Non-Kristiani.

Nama tersebut kemudian diubah oleh Paus Yohanes Paulus II pada tanggal 28 Juni 1988 menjadi Dewan Kepausan untuk Dialog Antaragama. Pemimpin Dewan saat ini adalah Kardinal Jean-Louis Tauran, yang secara resmi menduduki posisinya sejak tanggal 1 September 2007. Dewan inilah yang memperjuangkan dialog dan perjumpaan antar umat beragama di seluruh dunia. kantor pusat Gereja Katolik untuk urusan memajukan dialog antaragama sesuai dengan semangat Konsili Vatikan II, terutama deklarasi Nostra Aetate. Dewan ini memiliki tanggung-jawab: (1) Untuk memajukan sikap saling pengertian, saling menghormati dan kerjasama antara umat Katolik dan umat beragama lainnya; (2) Untuk mendorong pembelajaran mengenai berbagai agama; (3) Untuk memajukan pembentukan manusia-manusia yang berdedikasi pada dialog.

Salah satu kegiatannya adalah perjumpaan antar tokoh pemimpin agama. Perjumpaan Paus Fransiskus dan Imam Besar al-Azhar Doktor Ahmad al-Tayyib telah membuat gebrakan baru dengan mengajak umat Katolik dan umat Islam untuk saling menyapa sebagai saudara. Tentu saja adalah saudara dalam kemanusiaan, dalam nasib sejarah, dalam kewarganegaraan, tetapi lebih dari itu dalam kemanusiaan, sekalipun berbeda agama. Sebagai saudara, tidak cukup hanya saling mentolerir, tetapi harus saling mengasihi. Toleransi saja belumlah mencukupi. Untuk di Indonesia, perlu memulai sebuah era baru, dalam spirit Abu Dhabi, untuk saling mengasihi satu sama lain sebagai saudara.

Di Indonesia, perjuangan Gereja Katolik membangun perjumpaan dialog dan perjumpaan diupayakan dalam Konferensi WaliGereja Indonesia (KWI) dengan membentuk Komisi

 Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Konferensi Waligereja Indonesia (HAK KWI), dan ditindaklanjuti di tingkat Keuskupan dan paroki-paroki hingga wilayah dan lingkungan. Oleh karena itu, di tingkat Keuskupan Surabaya dan Malang, Gereja memiliki Komisi HAK (Hubungan antar Agama dan Kepercayaan), dan di tingkat Paroki memiliki Seksi HAK dan Kerawam untuk mewujudkan upaya-upaya baik dan besar yang dicanangkan oleh Pemimpin Gereja Katolik dalam membangun perjumpaan antar umat beragama.

Secara formal dan informal, umat Gerja Katolik turut berupaya terlibat aktif dalam membangun perjumpaan antar umat beragama secara nyata. Perjumpaan yang sering terwujud adalah pada saat kegiatan aksi kemanusiaan bersama seperti penanggulangan bencana alam. Juga pada saat merayakan perayaan Hari-hari besar keagamaan. Gerakan moderasi beragama yang dicanangkan pemerintah juga banyak ditindak lanjuti dengan gerakan perjumpaan antar umat beragama ditingkat akar rumput. Perayaan tradisi budaya setempat juga menjadi momen indah untuk membangun perjumpaan, juga gerakan sadar lingkungan, bersih desa dan lainnya.

Salah satu contoh perjumpaan antar umat yang nyata, dilakukan oleh Pastor Fajar Tejo di wilayah Jajag, Kabupaten Banyuwangi. Romo Fajar bersama tokoh dan umat lintas agama melakukan gerakan bersama dalam kerja bakti sadar lingkungan, silaturahmi antar umat dalam merayakan hari besar keagamaan dan merayakan hari tradisi setempat. Dimasa Pandemi Covid, Romo Hartoyo bersama umat lintas agama di wilayah Resapombo, Blitar Utara melakukan penyemprotan sterilisasi rumah-rumah warga di desa. Demikian hal tersebut juga dilakukan oleh umat paroki Tandes bersama Romo Siga. Masih banyak contoh nyata bagaimana gereja Katolik membangun perjumpaan antar umat yang dapat dicontoh dan diwujudkan bersama untuk membangun persaudaraan sesama anak bangsa.

Refleksi Perjumpaan Antar Umat Beragama 

Kebutuhan membangun perjumpaan antar umat beragama nampaknya perlu dibangun secara masif disegala lini perjumpaan, mengingat semakin berkurangnya perjumpaan secara natural sosial kemasyarakatan di Indonesia dan menguatnya paham intoleran yang merebak disuarakan melalui media sosial dewasa ini. Apabila hanya mengandalkan momen tradisi budaya saja, kita akan kehilangan momen dan kesempatan, karena tradisi paseduluran makin berkurang akibat globalisasi dan kekuatan internet serta media sosial (medsos).

Perjumpaan antar umat beragama dapat dibangun melalui trobosan membuat ekonomi kreatif, pertanian bersama, home industri bersama, perayaan hari-hari nasional bersama dan lainnya ditingkat akar rumput. Kegiatan-kegiatan perjumpaan ini untuk mengurai gerakan-gerakan eksklusif kelompok radikal yang membangun jejaring dan saling memenuhi kebutuhannya sendiri secara intern dan nampak enggan terlibat membangun kerukunan bersama.

Gereja Katolik beserta seluruh umatnya juga perlu untuk menyadari hidup imannya dari konteks hidup berbangsa dan bernegara di Indonesia. Keberanian membangun perjumpaan lintas agama perlu diupayakan terus menerus tanpa tergantung pada hirarki dan perangkat parokinya. Kesejatian sebagai umat beriman akan nampak dalam keterbukaan membangun perjumpaan antar umat beriman sebagai saudara.

Do you have any doubts? chat with us on WhatsApp
Hello, How can I help you? ...
Click me to start the chat...