Selamat Datang di Website resmi Forum Kerukunan Umat Beragama Provinsi Jawa Timur

Melihat Kembali Moderasi Beragama

Prof Dr Philip K. Widjaja

Ketua Umum Permabudhi (Persatuan Umat Buddha Indonesia) dan Fungsionaris FKUB Jawa Timur

Minggu lalu tepatnya awal bulan Mei 2022, tepat pada hari raya Lebaran, ketika kita saling mengucapkan selamat satu sama lain, baik via voice atau video call, on line chat, dan banyak cara lain, membuat beberapa teman yang sudah lama tidak pernah saling sapa dan tukar informasi, tersambung kembali. Seorang diplomat senior yang sama-sama cukup lama bergelut bersama saya di bidang kerukunan antar kepercayaan, yang lazim di dunia disebut interfaith, menelpon saya. Setelah basa-basi pelepasan kangen, tiba-tiba beliau menanyakan sebuah pertanyaan, yang tidak saya duga.

Dia sangat paham bahwa di Indonesia terus digulirkan semangat moderasi beragama. Dia pun tahu persis hal ini sudah ada sejak dari saat Menteri Agama dijabat Lukman Hakim Saifuddin. Pertanyaan beliau adalah saat ini makin banyak orang tokoh agama bicara moderasi beragama, sebetulnya apakah kita memerlukan semangat moderasi beragama? Saya sendiri sering pula membahas moderasi beragama di berbagai forum. Namun, saya tahu penanya sendiri sudah sangat paham. Bahkan, lebih paham dari saya mengenai masalah ini. Kenapa dia menyodorkan pertanyaan itu kepada saya, membuat saya tidak menjawabnya seketika itu, dan saya pun renungkan kembali moderasi beragama kita. 7th WPF – Middle Path

Saya menarik renungan jauh ke bulan Agustus 2018. Saat itu, saya dan para tokoh agama yang bergabung dalam Centre for Dialogue and Cooperation among Civilisations (CDCC), menyelenggarakan sebuah acara The 7th World Peace Forum (WPF) di Hotel Sultan Jakarta. Acara ini dihadiri para petinggi negara, petinggi organisasi agama dan tokoh dengan berbagai latar belakang dari empat puluh tiga negara. Tema Acara itu adalah The Middle Path for the World Civilizations (Jalan Tengah untuk Peradaban Dunia).

Dalam acara itu, Middle Path (jalan tengah) yang dibahas meliputi tiga prespektif, yaitu: Agama, Ideologi dan Ekonomi. Khususnya jalan tengah dalam beragama, sudah mengarah ke aspek-aspek moderasi beragama. Acara WPF waktu itu menghasilkan pemahaman bersama untuk mengarusutamakan jalan tengah sebagai prinsip untuk perwujudan perdaban dunia, termasuk implementasi dalam kehidupan beragama. Sebagai pemuka agama, perlu menonjolkan keteladanan, mempromosikan dalam memimpin untuk dapat mengimpalemetaskan pelaksanaan jalan tengah, di dalam kehidupan beragama masyarakat.

Moderasi Beragama Kemenag

Pada Oktober 2019, buku berjudul Moderasi Beragama resmi diluncurkan oleh Kementerian Agama. Dalam peluncuran buku ini, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengundang Prof Komaruddin Hidayat sebagai pembicara. Menurut beliau, pengertian moderasi beragama muncul karena ada dua kutub ekstrem, yakni ekstrem kanan dan ekstrem kiri. Ekstrem kanan terlalu terpaku pada teks dan cenderung mengabaikan konteks. Sedangkan ekstrem kiri cenderung mengabaikan teks. Maka, moderasi beragama berada di tengah-tengah dari dua kutub ekstrem tersebut, yakni menghargai teks tetapi mendialogkannya dengan realitas kekinian.

Saat ini, dengan memperhatikan perkembangan situasi dalam dan luar negeri, yang mana polarisasi ke dua kutub makin melebar dan menjadikan kesenjangan dalam berbagai aspek beragama makin dalam, maka Menteri Agama Gus Yaqut Cholil Qoumas telah merumuskan rencana strategis yang harus diimplementasikan oleh unit-unit dalam bentuk program kerja konkret dan manfaat yang dihasilkan dapat terukur.

Yang diprioritaskan dan mendapatkan perhatian khusus adalah penguatan moderasi beragama, sebagai landasan utama pembangunan nasional yang telah tertuang dalam RPJMN 2020-2024. Bila dapat mengimplementasikan program ini secara sukses, maka Indonesia akan dapat dinilai oleh dunia sebagai negara yang mampu memiliki corak beragama yang mengambil jalan tengah, dengan indikator komitmen kebangsaan, anti kekerasan, toleransi, dan menghargai kearifan lokal. 

Waisak dan Jalan Tengah

Jalan Tengah Meneguhkan Keluhuran Bangsa, adalah ajakan yang indah dan ajakan dari Permabudhi untuk Waisak tahun 2022. Tema Waisak Nasional “Jalan Kebijaksanaan menuju kebahagiaan sejati” juga menggambarkan bagaimana sikap yang tidak berat kanan dan kiri adalah dasar mencapai kebahagiaan. Waisak merupakan sebuah peringatan besar Agama Buddha, yang tentu saja bukan hanya kita isi dengan ritual-ritual saja, namun juga kesempatan yang baik untuk me-review seberapa dalam pemahaman kita pada ajaran Sang Buddha, membersihkan batin, dan menimbangkan kembali seberapa jauh kita telah mengimplementasikan dalam kehidupan.

Komunikasi yang terbuka, bersosial yang tulus, kepedulian kepada yang lain, mau memahami yang lain, toleransi yang dapat dijaga, dan sikap menghormati yang lain adalah dasar-dasar untuk dapat membenahi cara beragama sesuai pemahaman moderasi beragama. Melaksanakan kebaikan yang diajarkan dalam agama merupakan bagian yang tidak dapat diabaikan dalam sikap beragama. Waisak telah tiba, marilah kita menggunakan kesempatan ini perkuatkan menjalankan Moderasi beragama sesuai dengan program pemerintah, untuk esok hari yang lebih baik dan bahagia bagi seluruh manusia.

Semoga semua makhluk hidup berbahagia.

Do you have any doubts? chat with us on WhatsApp
Hello, How can I help you? ...
Click me to start the chat...