Prof Dr Philip K. Widjaja
Ketua Umum Permabudhi (Persatuan Umat Buddha Indonesia) dan Fungsionaris FKUB Jawa Timur
Suatu ketika saya sedang terkagum-kagum menikmati berbagai peninggalan sejarah Islam bercorak Eropa yang sangat indah. Saat itu, saya sedang dalam kegiatan kunjungan ke kota Kazan, kota ketiga terbesar di Rusia yang mayoritas penduduknya adalah Muslim. Turis disamping saya berbicara bahwa ini tidak ada apa-apanya bila dibandingkan yang ada di negaranya. Saya tanya negara Anda dimana. Dia dengan penuh kepercayaan diri menjawab: Turki. Kaget dengan jawaban itu, saya jadi membayangkan, sebuah negara yang banyak sekali dongeng-dongeng indah beredar di seluruh dunia.
Semenjak itu, saya ingin satu waktu bisa berkunjung ke Turki untuk membuktikannya. Saat yang ditunggu pun tiba, setelah sekian tahun kemudian. Saat itu saya berada di sebuah negara Eropa selatan. Rasanya, tidak terlalu jauh untuk mampir ke Turki, untuk pertama kalinya. Itu terjadi pada tahun 2004, persis setahun sebelum keluarnya mata uang Turki New Lira. Saat itu, 1 New Lira menggantikan 1 juta Lira (lama) di tahun 2005. Maka, ketika tukar uang dari bandara, kagetnya bukan main, angka nol banyak amat di uang kertasnya.
Mengenal Turki
Saya ingat waktu itu minum segelas kopi di bandara adalah 4 juta Lira lama. Celakanya, uang pecahan besar jarang ditemukan. Maka, sungguh tidak nyaman membawa banyak uang yang semuanya kumal dan kotor. Uang pecahan yang pernah saya lihat adalah 10 dan 20 juta Lira Lama. Tapi sangat jarang terlihat sehari-hari, maka ada gurauan di sana. Tatkala masuk restauran makan berapa piring makanan, akan dibayar dengan uang sebanyak berapa piring juga. Berikut sekilas peta negara Turki.
Turki adalah sebuah negara yang punya sejarah sangat Panjang. Wilayah Turki terbentang di ujung barat benua Asia, dan ditambah sedikit wilayah lagi di benua Eropa, yang luasnya hanya 3 % dari luas Turki. Kita sering mengenal Turki dengan kota besarnya: Istanbul, yang pada jaman dulu disebut Constantinople. Memang itu adalah kota yang sangat cantik dan besar dengan penduduk sekitar 15 juta saat ini. Jumlah ini lebih besar dari Jakarta yang hanya 10 juta penduduk. Sementara Ibu kota Turki adalah Ankara hanya berpenduduk 5 juta. Sayangnya, dua kali perjalanan saya ke Turki, belum pernah mengunjungi Ankara.
Istanbul sendiri adalah sebuah kota yang bagian timurnya berada di benua Asia dan sisanya di benua Eropa, terbelah oleh sebuah jalur laut sekitar 20 km panjangnya, yang menyambung antara Laut Hitam di utara dan Laut Mamara di Selatan. Ada tiga jembatan yang menghubungkan bagian Eropa dan Asia di kota Istanbul. Yang terkenal adalah Jembatan Fatih Sultan Mehmet yang panjangnya sekitar 1 km. Para touris sering berfoto di sana sebagai tanda berada di antara dua benua.
Saya menuju Istanbul terbang dari Itali menggunakan Turkish Airline. Bandara Atarturk Istanbul sebagai penghubung penerbangan Asia-Eropa tentu saja sangat strategis dan ramai, serta cukup mewah dan sering masuk dalam daftar Global Top Rank Airport. Sejak 2019, semua kegiatan sudah pindah ke Istanbul New Airpor. Bandara ini lebih besar, lebih modern, dan lebih mewah. Tapi sejujurnya saya belum pernah mencobanya.
Di Turki, hampir kemanapun mata memandang akan menjumpai nuansa agama Islam sangat kental. Maklum, selain sejarah Islam yang panjang, survey terakhir pada tahun 2016 juga menunjukkan komposisi penduduk beragama Islam sebanyak 82 %, terdiri atas 64 % Sunni, 4 % Syi’ah dan 14 % yang tidak terafiliasi dengan aliran/mazhab Sunni-Syi’ah. Sementara 18 % yang lain terdiri atas macam-macam, termasuk 2 % Kristiani dan 7 % tidak beragama.
Menikmati Indahnya Turki
Pada waktu itu saya tidak sedang menjalankan kunjungan kerja. Maka, saya hanya sempat jalan-jalan di Istanbul dan kota kuno Bursa. Bursa merupakan sebuah kota dataran tinggi yang sejuk dan hijau. Di kota ini banyak masjid dan bangunan bersejarah peninggalan jaman kerajaan Ottoman, yang berjaya sekitar 6 abad sebelum Turki merdeka. Di kedua kota itu banyak sekali bangunan yang tergolong superwah dan indah, terutama istana, museum dan tempat ibadah.
Ada Istana Bosphorus yang sangat besar dan mewah. Istana ini sungguh mencerminkan kejayaan yang gemilang pada masanya. Juga ada gereja Hagia Sophia, yang belakangan ini menjadi museum. Sebelumnya sempat menjadi masjid juga. Semua pengunjung dapat melihat bentangan dan tingginya kubahnya yang membuat decak kagum. Masih ada beberapa yang sempat saya kunjungi seperti Istana Topkapi, tempat tinggal Sultan, Gereja Basilica Cistern yang ada di bawah tanah. Juga Masjid Raya Sulaimaniah yang ada di belakang makam beliau, dan banyak lagi. Jangan lupa mampir Grand Bazaar Istanbul untuk membeli oleh-oleh khas Turki yang penuh warna dan seni abad pertengahan.
Demikian juga di kota Bursa. Walaupun waktunya tergesa-gesa, tidak mengurangi kekaguman saya ketika dihadirkan pada beberapa kunjungan. Seperti Yesil Camii dari abad ke-14 yang penuh kaligrafi termasuk ada yang setinggi 15 meter. Ada juga Ulu Camii yang mempunyai 20 kubah; ada Bursa Turkish and Islamic Art Museum yang membawa kita memahami perkembangan kesenian agama Islam di Turki; dan Green Tomb yang unik karena menjadi tempat makam beberapa Sultan. Sayang saya tidak sempat mengunjungi tempat Ski di Uludag di atas gunung yang selalu bersalju. Mungkin hal itu karena saya tidak bisa main ski.
Kedamaian Di Turki
Kedamaian dan keramaian turis di Turki tidak berarti tidak ada konflik di negeri dongeng itu. Masalah yang paling besar adalah tuntutan kemerdekaan Suku Kurdi (sebagai Kurdistan, tapi kadang minta otonomi). Mereka berjumlah cukup banyak, sekitar 20 juta orang atau seperlima dari penduduk Turki. Mereka berada di bagian tenggara Turki, menyambung ada sebagian berada di negara tetangga yang terdekat yaitu Syria, Irak dan Iran. Sesekali mereka mendapat dukungan senjata dari kekuatan besar yang selalu menciptakan kegaduhan regional Timur Tengah. Di saat Rusia melakukan invasi Ukraina tahun ini, Turki sempat menggunakan pesawat tempur membombardir wilayah Kurdi, sampai melintasi batas negara melakukan pengeboman di zona Syria dan Irak.
Di Turki, ukhuwah Islamiah menghadapi masalah karena banyaknya mazhab. Ada beberapa dari berbagai stream besar, juga beberapa dari Eropa, dan banyak lagi yang kecil-kecil, dengan pemahaman filosofi yang tidak seragam. Hal itu juga yang menjadi salah satu sebab di Turki masih ada 14 % Umat Islam yang tidak berafiliasi mazhab. Untuk menciptakan kerukunan terutama di kalangan intern umat Islam, maka pemerintah Turki mengambil kebijaksanaan merangkul semua pihak untuk diajak menjaga kedamaian bersama. Langkah ini seperti yang terjadi dalam sejarah dahulu kejayaan Islam, sebelum berkembang menjadi berbagai mazhab saat ini. Semoga Turki makin indah dan damai. Saya akan kembali menjumpaimu!

