Selamat Datang di Website resmi Forum Kerukunan Umat Beragama Provinsi Jawa Timur

Moderasi Beragama Bergema di Madura

Oleh Nur Aini, S.Pd

Bidang Pemeliharaan FKUB Jawa Timur 

Pagi itu suasana aula Hotel Azana, Pamekasan, Madura, penuh dengan peserta kegiatan yang digelar oleh FKUB Provinsi Jawa Timur. Kegiatan ini bekerjasama dengan Forpelita (Forum perempuan lintas agama) Jatim. Walaupun acara ini bertajuk sosialisasi moderasi beragama untuk perempuan lintas agama, namun ada empat peserta yang berjenis kelamin laki-laki. Mereka berasal dari pengurus FKUB masing-masing kabupaten yang ada di Madura yang turut mendampingi peserta.

Acara dimulai pukul 09.30 dengan dipandu pembawa acara Yudhi Dharma Santoso. Acara diawali dengan menyanyikan bersama lagu kebangsaan Indonesia Raya yang dipimpin dirigen Magfiroh, S.Pd. Ia adalah salah seorang peserta dari Pamekasan. Kemudian dilanjutkan dengan sambutan sekaligus membuka acara secara resmi oleh Drs. KH. Jazuli Nur, Lc. Beliau mewakili ketua FKUB Jatim yang tidak bisa hadir karena mengikuti kegiatan yang sama di Bakorwil Jember.

Dalam sambutannya koordinator bidang pemeliharaan FKUB Jatim ini menyampaikan pentingnya moderasi beragama untuk mengantisipasi penganut agama yang radikal dan bisa mengganggu keharmonisan kehidupan berbangsa yang Bhinneka Tunggal Ika. Walaupun hadir dengan kondisi kurang fit dengan berjalan dibantu tongkat, namun Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Amanah Bangkalan ini tetap bersemangat hadir pada kegiatan tanggal 15 Juli 2023 tersebut.


Indikator Moderasi Beragama

Materi pertama tentang sosialisasi moderasi beragama disampaikan oleh Nur Ainy, S.Pd. Ia mengawali materi dengan menyampaikan pesan pentingnya peran perempuan untuk memahami tentang moderasi beragama. "Perempuan pada umumnya detil dan peka melihat perubahan yang ada di lingkungan sekitarnya," ujar Sekretaris Forpelita ini. "Bila melihat indikator yang tidak wajar pada salah satu umat maka kaum perempuan akan lebih cepat mengetahui dan harus segera meresponnya," imbuh anggota bidang pemeliharaan FKUB Jatim ini.

Dilanjutkan dengan menguraikan masing-masing indikator moderasi beragama. Menurut Nur Ainy, indikator moderasi beragama adalah:

  • Komitmen kebangsaan

  • Toleransi

  • Anti kekerasan

  • Akomodasi budaya lokal

  • Eksklusif dan inklusif

Pemeluk agama bisa disebut moderat bila mempunyai komitmen yang baik sebagai warganegara, menghargai perbedaan, tidak mengambil tindakan kekerasan bila ada permasalahan, bisa mengaplikasikan ajaran agama tanpa menafikan budaya lokal, serta eksklusif dalam menjalankan keyakinannya namun inklusif dalam melakukan kerjasama dengan umat agama lain.

Materi kedua tentang implementasi moderasi beragama disampaikan oleh DR. Hana Amalia Vandayani, D. Min. Dalam pemaparannya, Presiden Yayasan Pondok Kasih ini banyak memaparkan aktivitas riil kerjasama dengan beragam umat lain dalam kegiatan sosial. Bentuk komitmen kebangsaan ditunjukkan dengan membantu umat yang membutuhkan bantuan untuk pemenuhan hak sipil dalam mengurus pernikahan di beberapa kota di Indonesia. Dilanjutkan dengan uraian detil tentang ruang lingkup implementasi moderasi beragama melalui keluarga, lembaga pendidikan, tempat ibadah dan masyarakat.

Suasana Dialogis

Dalam sesi dialog Magfiroh, S.Pd, menyampaikan bahwa di Kota Pamekasan sudah tercipta hubungan yang baik dengan penganut agama lain dengan melakukan kerjasama antar perempuan lintas agama. Masalah malah terjadi antar golongan dalam agama tertentu. Selain itu perempuan yang aktif di Fatayat ini mengungkap kegembiraannya karena wawasannya semakin terbuka dengan adanya pemaparan tentang implementasi moderasi beragama.

Clara, peserta dari kota tuan rumah menyatakan ketertarikannya dengan kegiatan Yayasan Pondok Kasih. Sabila, peserta dari Bangkalan menanyakan bagaimana meningkatkan peran perempuan di bawah dominasi kaum lelaki di FKUB. Sedangkan Eva peserta dari Sumenep menyampaikan keprihatinannya pada masyarakat pesisir yang kaum perempuannya berpendidikan rendah dan bagaimana peran moderasi beragama dalam mengentaskan masalah tersebut.

Dalam sesi tanggapan dari narasumber, Nur Ainy, S.Pd dan DR. Hana Amalia Vandayani, D. Min merespon beragam pertanyaan dari peserta dengan antusias. Bahwa perempuan bisa melakukan implementasi moderasi beragama melalui beragam kegiatan di berbagai komunitas yang diikutinya, tidak hanya melalui wadah FKUB saja. Pada masyarakat Madura yang mempunyai pengaruh kuat adalah tokoh agama, sehingga pencerahan tentang pendidikan bagi kaum perempuan akan efektif bila yang menyampaikan tokoh agama.

Selanjutnya, Mama Hana melanjutkan bahwa Pondok Kasih sangat terbuka untuk bekerjasama dengan berbagai pihak untuk membumikan moderasi beragama. Acara ditutup dengan pembacaan bersama salam moderasi dengan seru dibarengi dengan gerakan tangan yang ekspresif. Serta pemberian bingkisan spesial dari Mama Hana, panggilan akrab founder Yayasan Pondok Kasih kepada Magfiroh, S.Pd sebagai salah seorang peserta terakhir dalam kegiatan ini.

Do you have any doubts? chat with us on WhatsApp
Hello, How can I help you? ...
Click me to start the chat...