Selamat Datang di Website resmi Forum Kerukunan Umat Beragama Provinsi Jawa Timur

Membangun Kerukunan Beragama Era Digital Perspektif Jean Baudrillard

Oleh Romo Dr. Agustinus Pratisto Trinarso, S.S., M.Phil.

Bidang Pemberdayaan FKUB Propinsi Jawa Timur dan
Dosen Pengajar Filsafat UKWMS Surabaya

Perkembangan teknologi digital di Indonesia sudah diikuti dengan cukup masif oleh masyarakat. Kekuatan jaringan internet dan penggunaan smartphone di semua kalangan menimbulkan dampak perubahan-perubahan dalam kehidupan, termasuk dalam kehidupan beragama dan kerukunan antar agama. Ruang-ruang publik baru bentuk menjadi melebar dan meluas, dari dunia nyata ke dunia maya.

Derasnya berbagai informasi menjadi tantangan kearifan untuk memilih dan memilah hal-hal yang berguna dan bermanfaat baik bagi perkembangan individu maupun masyarakat. Kehidupan bersama sebagai masyarakat Indonesia yang memiliki keanekaragaman adat, suku, budaya dan khususnya dalam hidup rukun beragama mengalami keguncangan (disrupsi) di era digital ini.

Kekuatan Dunia Maya

Dunia maya yang ada di dunia informasi dan telekomunikasi memiliki ruang-ruang yang menembus batas-batas materi dan waktu, menjadi dunia tersendiri yang tidak beraturan dan menjadi kancah dominasi bagi siapa pun dan apa pun yang bermain serta dimainkan di dalamnya. Segala informasi dan aplikasi tersedia, demikian juga berita dan fakta dari kejadian dunia nyata dapat diakses bahkan dapat ditafsir sedemikian rupa tergantung peminat dan penyajinya serta pengunggahnya.

Benarlah yang dikatakan oleh Derrida, seorang filsuf dekonstruksi, bahwa di era digital kita saat ini, semua mengalami dekonstruksi, baik dekonstruksi wacana, minat, kebiasaan, karakter hingga sampai ke iman dan kepercayaan. Kekuatan dunia maya di wilayah internet telah mendekonstruksi kebenaran dalam dunia nyata dan fakta yang objektif sehingga kebenaran-kebenaran yang ada ditentukan oleh kuatnya perulangan dan masifnya atas apa yang dikemukakan secara terus-menerus.

Pola pikir seseorang dalam menghadapi realitas menjadi ditentukan oleh apa yang sehari-hari dikonsumsi olehnya dan apa yang sering dikonsumsi secara informatif selama 24 jam. Pola perubahan perilaku secara tidak sadar teralami dan pada akhirnya menunjukkan adanya perubahan dalam beriman dan perubahan dalam mensikapi hidup dalam keberagaman agama di masyarakatnya sendiri, dalam masyarakatnya dan dalam lingkungannya.

Maraknya Manipulasi Wacana

Dunia digital yang sebenarnya bernilai netral dan amat berguna dalam pengembangan kehidupan manusia dalam membangun kemanusiaan, seperti yang ditekankan oleh Bapa Paus Fransiskus, ternyata juga memiliki potensi-potensi untuk menjadi ajang media manipulatif dan tindak kejahatan. Sudah banyak korban penipuan secara online dalam bentuknya yang semakin canggih. Yang lebih destruktif lagi bagi masyarakat adalah manipulasi wacana di era digital yang ditelan secara mentah oleh masyarakat.

Bangsa Indonesia yang senang disebut sebagai bangsa ter-kepo kedua sedunia, selalu saja menjadi sasaran yang strategis untuk dimanipulasi oleh pihak-pihak tertentu demi kepentingan tertentu. Manipulasi wacana politik di media sosial yang dapat mengubah sikap dan pandangan banyak orang terhadap pilihan politiknya, selanjutnya dikembangkan untuk mengubah wacana iman dan keagamaan seseorang melalui media sosial untuk agenda dan kepentingan sektarian.

Di Indonesia, media digital menjadi wahana yang paling strategis digunakan oleh kelompok-kelompok radikal intoleran untuk mengobrak wacana keagamaan generasi muda milenial. Survei tentang kerukunan umat beragama bagi kaum muda milenial menunjukkan bahwa mereka semakin intoleran karena pengaruh media sosial. Hal ini menjadi keprihatinan sekaligus ancaman bagi ketahanan kebhinekaan masyarakat Indonesia sehingga muncul pertanyaan: Sampai kapan kita dapat mempertahankan hidup rukun sebagai bangsa dalam ekosistem kebhinekaan kita?

Wacana Digital: Simulasi Kebenaran

Apa yang sering muncul dalam dunia digital dan media sosial akan diterima sebagai kebenaran, demikian pendapat Jean Baudrillard, seorang filsuf kontemporer dari Prancis. Apa yang berulang-ulang dikatakan dan dimunculkan serta dikemukakan, ataupun selalu dibahas akan menimbulkan residu dominasi informasi tertentu yang dapat mengacaukan kebenaran yang sesungguhnya, sehingga yang muncul adalah kebenaran semu. Akan adanya perulangan kebenaran semu yang masif, selanjutnya menimbulkan perubahan wacana yang akhirnya mengubah cara pandang dan keyakinan iman seseorang.

Menurut Jean Baudrillard dalam Simulacra and Simulation (1995), bahwa apa yang sering viral belum tentu kebenaran yang sesungguhnya. Yang muncul dapat berupa kebenaran parsial, atau kebenaran manipulatif. Kekuatan adalah keseringan viral, sehingga menimbulkan paradigma baru dan keyakinan baru. Inilah yang dimaksudkan oleh Baudrillard sebagai simulasi wacana yang semakin membesar menjadi simulacrum, yakni manusia akan membangun konsep kebenaran dunianya sendiri dengan menghidu nilai-nilai yang diyakininya karena perulangan wacana yang terus menerus di media sosial.

Berita intoleransi yang diviralkan terus menerus akan membawa dampak bahwa hal itu, yakni intoleran semakin lama dianggap menjadi wajar dan lumrah. Apabila intoleran dianggap sudah lumrah maka selanjutnya akan muncul kebenaran semu yang menyatakan bahwa nilai bersikap toleran terhadap yang berbeda dengan dirinya adalah salah. Yang diyakini benar adalah manusia harus sama, seragam, sejalan, seagama, sekepercayaan, dll. Yang berbeda iman yang tidak sejalan paham kepercayaan adalah salah dan harus dimusnahkan.

Rasanya itulah bahaya simulacrum dalam era digital bagi kerukunan hidup beragama di Indonesia. Semakin viral sikap intoleran, maka akan semakin cepat dan semakin luas dampak jangkauan simulacrum intoleran akan semakin cepat dan semakin luas. Simulasi wacana di era digital yang merusak kerukunan masyarakat Indonesia dewasa ini perlu disikapi dengan cerdas dan smart demi keutuhan ekosistem kebhinekaan masyarakat Indonesia.

Wacana Digital untuk Kerukunan Umat

Simulacrum dunia maya perlu dihadapi dengan dialektika, yakni membangun simulacrum yang sama mengenai kerukunan umat beragama dan tema-tema moderasi beragama. Kaum muda milenial yang sadar dan kompeten, dapat diajak untuk mengcounter simulasi wacana intoleran di media sosial dengan membuat konten-konten bertema kerukunan dan hidup kebhinekaan yang seharusnya digencarkan dan diviralkan di dunia maya.

Counter wacana digital kerukunan perlu dibuat secara elegan, menarik dan menyentuh kaum muda millenial sehingga mampu menghadirkan dan menguatkan kembali national wisdom yang sudah dimiliki oleh bangsa Indonesia yakni nilai-nilai hidup rukun sebagai saudara dalam keberagaman iman. Masyarakat juga perlu dididik secara kritis dengan melalui konten di medsos untuk turut ambil bagian dalam perjuangan membangun kerukunan di era millenial ini.

Sikap-sikap yang tegas atas gerakan intoleran perlu diperjuangkan dalam dunia media sosial, misalnya dengan tidak ikut-ikutan latah menyebarkan dan membesar-besarkan berita intoleran hanya sebagai konsumsi informasi bangsa kepo. Kekuatan para buzzer intoleran yang terus memviralkan kebenaran semu atas nama agama tertentu dapat dicounter dengan memberi respon dan tanggapan kritis yang terus menerus disuarakan oleh berbagai pihak di dunia medsos.

Di era digital dewasa ini, perjuangan membangun kerukunan dalam hidup keberagaman menjadi panggilan kerasulan dan kemartiran bagi siapapun. Pertempuran memperjuangkan nilai-nilai kebenaran hidup bersama, yakni kerukunan, toleransi, moderasi dan perdamaian, kedepannya akan semakin keras dalam berhadapan dengan upaya-upaya jahat simulacrum yang sedang berusaha merusak tatanan kerukunan dan ekosistem kebhinekaan bangsa Indonesia.

Penutup

Dunia maya sebagai wilayah abu-abu yang menyimpan potensi merusak anak bangsa perlu disikapi dengan kritis dan tegas oleh semua elemen masyarakat. Jangan sampai kita memiliki generasi millenial yang nantinya membenarkan hidup intoleran dan merendahkan sesamanya yang berbeda paham demi kepentingan individu dan kelompok tertentu saja. Kaum muda millenial juga butuh untuk dibantu dan difasilitasi dalam pertempuran di dunia digital ini.

Pemerintah, kaum agamawan dan para pemimpin masyarakat dapat mengambil peran untuk menggerakkan kaum muda millenial dan membantu memfasilitasi mereka dalam perjuangan membangun kerukunan ini melalui berbagai kebijakan, kesempatan, pelatihan dan bantuan finansial yang nyata. Semakin banyak konten-konten kerukunan dibuat dan diviralkan di dunia media sosial, semakin kuat nilai-nilai kerukunan diserap dan dihidup oleh masyarakat kita, sehingga akan semakin terpinggirkan simulacrum intoleran di dunia maya dan dunia nyata.

Do you have any doubts? chat with us on WhatsApp
Hello, How can I help you? ...
Click me to start the chat...