Selamat Datang di Website resmi Forum Kerukunan Umat Beragama Provinsi Jawa Timur

Hari Suci Nyepi Untuk Dunia dan Alam

 Oleh I Gusti Putu Raka Arthama

Bidang Pemberdayaan FKUB Provinsi Jatwa Timur




Latar Belakang Hari Suci Nyepi

Hari Suci Nyepi merupakan salah satu hari peringatan keagamaan Hindu yang penting. Hari Suci Nyepi di Indonesia dilaksanakan sebagai peringatan pergantian tahun dalam sistem Penanggalan/Kalender Saka. Penanggalan Saka awal mulanya diciptakan di India pada Tahun 78 Masehi. Eksistensi Tahun Saka di India merupakan tonggak sejarah yang menutup permusuhan antar suku bangsa di India. Sebelum lahirnya Penanggalan Saka, suku bangsa di India dilanda permusuhan berkepanjangan. Adapun suku-suku bangsa tersebut antara lain: Pahlawa, Yuehchi, Yuwana, Malawa dan Saka. Suku-suku bangsa tersebut silih berganti naik tahta menundukkan suku-suku yang lain. Suku bangsa Saka pada akhirnya mengubah arah perjuangannya dari perjuangan politik dan militer untuk merebut kekuasaan menjadi perjuangan melalui penerapan ilmu pengetahuan, teknologi dan kebudayaan untuk menciptakan kesejahteraan bersama.

Pada Tahun 79 Masehi, Raja Kaniska I dari Dinasti Kushana dan Suku Bangsa Yuehchi menetapkan sistem Penanggalan/Kalender Saka menjadi Sistem Penanggalan/Kalender Kerajaan. Semenjak itu bangkitlah toleransi antar Suku Bangsa di India untuk bersatu padu membangun masyarakat  sejahtera. Akibat toleransi dan persatuan itu, Penanggalan Saka semakin berkembang mengikuti penyebaran Agama Hindu termasuk sampai di Indonesia, Penanggalan Saka merupakan salah satu sistem penanggalan tertua yang dipakai di Indonesia. Pada jaman Kerajaan bercorak Hindu Budha di Nusantara, mulai dari Kerajaan Kutai, Tarumanegara, Sriwijaya sampai era keemasan Majapahit, dalam prasasti-prasasti peninggalan kerajaan-kerajaan tersebut tercantum angka tahun Penanggalan Saka.

Hari Suci Nyepi sebenarnya memiliki sejarah yang Panjang. Kitab Negarakertagama yang ditulis oleh Empu Prapanca pada abad ke-14 sudah mencatat perihal adanya ritual pergantian Tahun Saka. Di Bali sendiri perayaan Hari Raya Nyepi didasarkan pada petunjuk lontar Sundarigama dan Sanghyang Aji Swamandala. Perayaan Hari Suci Nyepi dilaksanakan dalam beberapa tahapan upacara yang semuanya mempunyai makna dan nilai fiosofis yang dalam. Di Indonesia, peringatan pergantian Tahun Saka dikenal dengan Hari Suci Nyepi, diperingati oleh masyarakat Indonesia yang memeluk agama Hindu. Meskipun merupakan perayaan pergantian tahun, namun di Indonesia perayaan Tahun Baru Saka, Hari Suci Nyepi, adalah bagian dari ritual dan praktik keagamaan. Menariknya, sekalipun sistem kalender ini diadopsi dari India, namun Hari Suci Nyepi sebagai bentuk perayaan pergantian tahun, hanya dikenal di Indonesia.



Dari sisi filsafat agama (tatwa) Hari Suci Nyepi dalam makna “catur bratha penyepian” jelas bersifat wajib dilaksanakan umat Hindu. Ritual ini bukan hanya dipandang sebagai tradisi turun-temurun belaka tapi juga termaknai dalam kitab suci Weda. Dalam Yajur Weda XIX. 30 dinyatakan: “Pratena Diksam Apnoti, Diksaya Apnoti Daksina. Daksina Sradham Apnoti, Sraddhaya Satyam Apyate”.Artinya, bahwa saat seseorang menjalankan praktik bratha (asketisme), maka ia bisa mencapai Diksa, yaitu penyucian diri. Sementara dengan Diksa, seseorang akan mencapai Daksina, yaitu kehormatan. Dan dengan Daksina seseorang mencapai Sraddha, yaitu keyakinan. Dan melalui Sraddha, orang dapat mencapai kebenaran sejati.

Makna dan Filosofi Hari Suci Nyepi

Nyepi berasal dari kata 'sepi' atau 'sipeng' yang berarti hening, yang secara teologis menyadarkan manusia supaya eling lan waspodo, sekaligus menyadarkan bahwa manusia mempunyai tanggung jawab besar terhadap kehidupan di alam semesta ini. Di samping itu, Nyepi pada hakikatnya adalah melaksanakan Mulat Sarira Anyekung Jnana Sudha Nirmala yaitu pengekangan nafsu guna mencapai tingkat spiritual. Nafsu dan pikiran tidak terkendali dapat menghambat berbagai aktivitas kehidupan, lebih-lebih aktivitas moral dan etika.



Terdapat beberapa tahapan penting dalam rangkaian Nyepi yaitu Upacara Melasti, Tawur Kesanga/Agung, Catur Brata Nyepi, Ngembak Geni dan Dharma Shanti. Setiap tahapan upacara memiliki arti dan makna filosofis tersendiri seperti di bawah:

  1. Upacara Melasti dilaksanakan beberapa hari sebelum Nyepi, dengan tujuan sebagaimana dijelaskan di dalam Lontar Sanghyang Aji Swamandala adalah untuk melenyapkan penderitaan manusia, melepaskan kepapaan dan kekotoran alam. Sedangkan dalam Lontar Sundarigama menyebutkan bahwa tujuan Melasti adalah mengambil sari-sari air kehidupan (Amerta Kamandalu) di tengah-tengah samudra.Jadi tujuan Melasti adalah untuk menghilangkan segala kekotoran diri dan alam serta mengambil sari-sari kehidupan di tengah Samudra. Samudra adalah lambang lautan kehidupan yang penuh gelombang suka-duka. Dalam gelombang samudra kehidupan itulah, kita mencari sari-sari kehidupan dunia.
  2. Selanjutnya adalah Upacara Tawur Agung atau Tawur Kesanga atau disebut juga Pengerupukan yang dilaksanakan sehari sebelum Hari Suci Nyepi. Upacara Tawur Kesanga juga berarti melepaskan sifat-sifat serakah yang melekat pada diri manusia. Pengertian ini dilontarkan mengingat kata "tawur" berarti mengembalikan atau membayar. Sebagai mahluk ciptaan Tuhan, manusia sebenarnya mempunyai hutang, baik hutang kepada sesama manusia, kepada alam semesta (Bhuana Agung), dan kepada Tuhan. Kepada Tuhan, kita punya hutang kehidupan, kepada manusia, kita dilahirkan oleh seorang ibu dan utang kepada alam semesta berupa, oksigen sandang, papan dan pangan serta berbagai kebutuhan kehidupan yang disediakan alam semesta. Apa yang kita ambil, yang kita miliki, sesungguhnya milik Tuhan. Maka, wajib sebagai umat untuk melaksanakan upacara Tawur yang pada prinsipnya mengharmoniskan alam dan kehidupan sesuai dengan dharmanya. Sebagaimana kita ketahui, manusia selalu mengambil sumber-sumber alam untuk mempertahankan hidupnya. Perbuatan mengambil akan mengendap dalam jiwa atau dalam karma wasana. Perbuatan mengambil perlu dimbangi dengan perbuatan memberi, yaitu berupa persembahan dengan tulus ikhlas. Mengambil dan memberi perlu selalu dilakukan agar karma wasana dalam jiwa menjadi seimbang. Pada Upacara Tawur Kesanga inilah Pawai Ogoh-ogoh berlangsung. Sebagai bagian kekayaan tradisi lokal Bali yang sudah berkembang ke seluruh pelosok Indoinesia, Ogoh-ogoh, biasanya berwujud seperti raksasa atau bentuk lainnya, secara simbolis merupakan manifestasi dari anasir Bhuta Kala, energi negatif dan anasir kegelapan lainnya. Upacara Tawur Kesanga juga bermakna menetralkan anasir-anasir negatif tadi sehingga akan terwujud alam semesta yang harmonis dan seimbang.
  3. Keesokan harinya, pada tanggal Apisan Sasih Kadasa adalah Hari Suci Nyepi yang dilaksanakan melalui pelaksanaan Catur Brata Nyepi. Catur Brata Nyepi ini dijelaskan dalam lontar Sundarigama sebagai berikut: "Nyepi, tidak menyalakan api, semua orang tidak boleh melakukan pekerjaan, berapi-api dan sejenisnya juga tak boleh, karenanya orang yang tahu hakikat agama melaksanakan samadhi tapa yoga menuju kesucian”. Pelaksanaan Hari Suci Nyepi dilakukan dengan tidak menyalakan api dan sejenisnya, tidak bekerja, tidak bepergian dan tidak melaksanakan kesenangan. Sangat dianjurkan untuk melakukan yoga, tapa dan samadhi. Parisada Hindu Dharma Indonesia telah mengembangkan menjadi Catur Brata Nyepi yaitu: amati geni (tidak menyalakan api), amati karya (tidak bekerja), amati lelungan (tidak bepergian) dan amati lelanguan (tidak bersenang-senang).
    • Amati Geni, tidak menyalakan api dan sejenisnya termasuk bentuk energi lainnya seperti listrik. Secara harfiah dapat dimaknai bahwa dengan Amati Geni tidak ada api yang dinyalakan untuk semua kepentingan termasuk memasak, merokok, menyalakan segala bentuk peralatan yang memakai listrik dan lainnya. Secara filosofis dapat dimaknai agar manusia melatih diri untuk memadamkan api amarah, permusuhan, mengendalikan hawa nafsu dan kesombongan yang ada dalam diri. Bagi dunia dan alam semesta, tidak menyalakan api dan menggunakan energi lainnya, apalagi yang dibangkitkan dengan pembakaran bahan bakar fosil, dalam waktu sehari akan sangat berarti dalam upaya mengurangi emisi karbon dan emisi ikutan lainnya. Dunia dapat berhenti sejenak menerima segala akibat adanya proses pembakaran yang berakibat merusak, meracuni dan sekaligus memberi waktu kepada alam untuk memulihkan kemurniannya.
    • Amati Karya, tidak bekerja, dimaknai tidak melaksanakan seluruh kegiatan seperti biasanya yang digunakan tdk ke sawah dan lainnya. Pada saat Nyepi, kegiatan bekerja diganti dengan mengintrospeksi diri, mengevaluasi kinerja yang kita lakukan dalam kehidupan selama setahun ini, sekaligus membulatkan tekad untuk melakukan perbaikan agar menjadi insan yang lebih baik. Bagi dunia dan alam semesta kegiatan ini tentu saja akan sangat berdampak baik. Dunia memiliki kesempatan istirahat sejenak dari hiruk pikuk manusia yang mengeksploitasi alam dalam rangka memenuhi kebutuhannya. Alam semesta memiliki waktu memulihkan kerusakan yang timbul akibat kegiatan manusia mencukupi kebutuhan hidupnya.
    • Amati Lelungan, tidak bepergian atau melakukan perjalanan. Tidak bepergian keluar rumah secara hakikat adalah melakukan pemujaan, mengidungkan nama Tuhan dengan melakukan Japa Mantra dan meditasi. “Anyekung Jnana Sudha Nirmala” melakukan pengendalian diri dengan mengontrol berbagai pikiran, perkataan, dan perbuatan, dengan harapan dapat hidup yang baik berdasarkan dharmaning kehidupan. Dalam tatanan filosofis, Amati Lelungan juga dimaknai sebagai pengendalian alam pikiran manusia, melatih pikiran manusia agar tidak liar dan fokus kepada hal-hal yang bersifat kebaikan dan kesucian. Dalam prakteknya pada hari ini seluruh moda transportasi tidak melaksanakan kegiatan sebagaimana biasanya, berhenti total. Manusia dan alam semesta memperoleh kesempatan beristirahat dalam arti luas. Manusia mengistirahatkan tubuhnya, alam semesta berhenti menerima polusi udara dan keduanya memiliki kesempatan memulihkan kondisi raga dan jiwanya.
    • Amati Lelanguan, tidak bersenang-senang atau menikmati hiburan, menjauhkan diri dari kesenangan duniawi. Manusia diharapkan dapat memusatkan pikirannya kepada keagungan Tuhan dengan segala ciptaannya. Pelaksanaannya dapat dilakukan dengan berbagai cara seperti melakukan meditasi, kirtanam, melantunkan kidung-kidung suci dan lainnya.
    • Catur Brata Nyepi hendaknya diimplementasikan dalam kehidupan nyata, sesuai dengan Tri Kaya Parisudha, pikiran yang bersih dan suci, perkataan yang baik, dan jujur mengutamakan kebenaran dan perbuatan baik dan dapat dipertanggungjawabkan secara agama. Hari Suci Nyepi merupakan kesadaran batin dalam memasuki Tahun Baru Saka yang lebih baik dan harmonis. Nyepi menghentikan tindakan dan perbuatan keduniawian secara total setiap tahun, guna mengevaluasi segala tindakan baik dan buruk (subha asubha karma).
  4. Sehari setelah Hari Suci Nyepi adalah Hari Ngembak Geni. Ngembak Geni berasal dari kata ngembak artinya 'bebas' dan geni artinya 'api'. Jadi Ngembak Geni ini memiliki makna bebas menyalakan api atau beraktivitas kembali seperti sedia kala. Pada upacara ini juga diiringi dengan rasa syukur dan terima kasih kepada Tuhan, Ida Sang Hyang Widhi karena sudah memberikan limpahan berkah yang begitu luar biasa dan bisa melaksanakan prosesi Hari Suci Nyepi dengan melaksanakan Catur Brata Nyepi.
  5. Rangkaian Hari Suci Nyepi yang terakhir adalah Dharma Santi yang memiliki makna sebagai upaya untuk menjalin harmonisasi antar umat manusia. Pada hari Ngembak Geni ini Umat Hindu akan saling mengunjungi keluarga, kerabat, teman dekat, teman profesi, dan lainnya, untuk saling memaafkan atas segala kesalahan yang telah terjadi sebelumnya. Dharma Shanti dapat juga diselenggarakan di dalam suatu wilayah secara berjenjang mulai tingkat desa, kecamatan, kabupaten provinsi dan nasional, yang dihadiri oleh seluruh Umat Hindu di wilayah masing-masing.

Jadi Hari Raya Nyepi disamping adalah perayaan pergantian Tahun Saka, juga merupakan momen sakral yang dilaksanakan dengan “Tapa-Yadnya”, sebuah momen refleksi, kontemplasi, asketisme, meditasi dan Hari Hening bukan hura-hura, pesta, dan aktivitas sejenis itu lainnya. Menarik dicatat melalui Hari Suci Nyepi Umat Hindu di Indonesia sebenarnya telah turut berperan aktif dalam upaya pelestarian alam paling tidak dalam mengurangi dampak global warming. Dengan menghentikan segala aktifitas selama 24 jam, alam berkesempatan memulihkan dirinya dari eksploitasi manusia.Hari Suci Nyepi merupakan saat yang penting dan terbaik untuk merenungkan kembali hakikat sebagai manusia sekaligus meningkatkan kesadaran diri untuk menjadi insan yang lebih baik. Kesucian, kebersihan, keharmonisan, keserasian hidup, kelestarian alam, manusia dan hubungannya dengan Tuhan, merupakan prasyarat untuk meningkatkan kualitas hidup, bersama-sama dengan pelaksanaan introsfeksi diri dan mendengarkan bisikan hati nurani, diri pribadi yang jujur dan murni, bersih dari berbagai sifat negatif, seperti permusuhan, dengki, keserakahan dan kesombongan. Rahayu!


Do you have any doubts? chat with us on WhatsApp
Hello, How can I help you? ...
Click me to start the chat...