Oleh Biyanto, Ainul, Aini, Yefta, Roziqin
Dalam kurun waktu Juni-Juli 2024, Forum Kerukunan Umat Beragama Jawa Timur (FKUB Jatim) menyelenggarakan agenda penguatan nilai-nilai wawasan kebangsaan sekaligus penyiapan pemilihan kepala daerah (pilkada) serentak 2024 yang guyub rukun. Penguatan nilai-nilai wawasan kebangsaan penting karena pada era digital ini kondisi negeri dihadapkan pada banyak persoalan. Diantaranya adalah pertentangan ideologi nasionalisme versus transnasionalisme. Persoalan lain yang juga menjadi perhatian adalah kehadiran era post truth. Di era post truth barometer persoalan kebenaran menjadi kian memudar. Seperti diketahui, selama era modern ukuran kebenaran merujuk pada data dan fakta. Sementara pada era post truth ukuran kebenaran bergantung pada opini yang terus-menerus diberitakan. Dalam alam pikiran sebagian orang dikatakan: “kebohongan yang terus-menerus diberitakan akan menjadi kebenaran”. Persoalan ini penting menjadi perhatian semua pihak. Sementara itu, seiring dengan akan diselenggarakannya pilkada serentak pada 27 November 2024, FKUB Jatim ingin berkontribusi positif. Caranya adalah melakukan usaha partisipatif untuk menyiapkan pilkada serentak dengan guyub rukun. Apalagi pilkada serentak di Jatim ini akan diselenggarakan di 38 kabupaten/kota dan provinsi. Berikut ini disampaikan laporan kegiatan penguatan wawasan kebangsaan dan pilkada serentak yang damai serta guyub rukun di lima wilayah kerja (wilker).
Wilker Jember
Kegiatan FKUB di Jember diselenggarakan pada Sabtu (8/6/2024), di Java Lotus Hotel. Dari FKUB hadir: Ainul Yaqin, I Gusti Putu Raka Artama, Lo Ferdy Loyelty, dam Khoirur Roziqin. Sementara peserta berasal dari tujuh kabupaten/kota yaitu: Kabupaten Banyuwangi, Kabupaten Bondowoso, Kabupaten Situbondo, Kabupaten Jember, Kabupaten Lumajang, Kabupaten Probolinggo, dan Kota Probolinggo. Acara ini juga dihadiri oleh utusan dari Bakesbangpol Jatim sebagai peninjau. Dari tujuh kabupaten/kota Semua delegasi FKUB dari tujuh kabupaten/kota tersebut juga hadir. Bahkan, semua Ketua FKUB-nya hadir, kecuali Bondowoso dan Jember. Ketua FKUB Bondowoso tidak bisa hadir karena sedang menjalankan ibadah haji, sehingga diwakili bedahara. Sedangkan Ketua FKUB Jember ada tugas kantor sehingga diwakilkan bendahara. Acara dibuka oleh Ainul Yaqin yang diberi mandat oleh Ketua FKUB Jatim. Dilanjutkan dengan diskusi dengan penyajian dua nara sumber. I Gusti Putu Raka Artama menyampaikan seputar pilkada damai. Kemudian Ainul Yaqin menyampaikan materi pentingnya penguatan wawasan kebangsaan. Acara dimoderatori oleh Lo Ferdy Loyelty. Pada saat diskusi peserta dari tujuh kabupaten/kota diberi kesempatan memberikan pandangannya. Diawali Ketua FKUB Banyuwangi, Dr. Nur Chozin. Ia menyampaikan, selama persiapan pilpres yang lalu FKUB Banyuwangi menjalin kerjasana dengan pihak-pihak terkait dalam penyelenggaraan pemilu, antara lain KPUD dan Bawaslu. Kerjasama ini untuk memberikan edukasi ke masyarakat khususnya terkait dengan larangan penggunaan rumah ibadah dan sarana pendidikan untuk kampanye. Namun kondisi di beberapa daerah bisa tidak sama, kadang ada pihak yang terkait dengan penyelenggaraan pemilu kurang responsif diajak kerjasama. Ia mengusulkan, “Akan lebih baik jika ada nota kesepahaman di tingkat provinsi antara FKUB dengan lembaga-lembaga penyelenggaraan pemilu”.
Masukan dan tanggapan berikutnya disampaikan Ketua FKUB Lumajang, Kota Probolinggo, Kabupaten Probolinggo, Bondowoso, Situbondo, dan Jember. Mereka menyampaikan jika kondisi di masing-masing daerahnya di tingkat bawah terkesan baik-baik saja. Penyalahgunaan rumah ibadah untuk kegiatan politik juga tidak terjadi. Potensi penyalahgunaan justru terjadi di tingkat elit. Di Jember, misalnya, suasana panas di tingkat elit cukup terasa. Demikian pula di wilayah kabupaten Probolinggo. Masyarakat di tingkat bawah sudah mengerti. “Mereka tidak mau ikut ribut”, kata bendahara FKUB Bondowoso. Tapi, ia memberi catatan bahwa politik sembako dan uang tak bisa dihindari, bahkan seakan sudah biasa. Meskipun tokoh agama sudah memberikan pengarahan bahwa yang demikian tidak diperbolehkan. Namun, masyarakat bawah cukup pintar menyikapinya. Pemberian itu diterima semua, hanya soal memilih dibagi di antara keluarga mereka. Tentu disesuaikan dengan nilai dari pemberiannya. Wayan, peserta dari Bondowoso menambahkan bahwa mencegah politik uang dan sembako suatu yang tidak mudah karena sudah mentradisi. Selama tingkat perekonomian rakyat yang masih rendah pemberian itu hal yang dinanti. Meski demikian, politik uang harus diwaspadai karena maraknya korupsi pejabat justru diawali dari praktik politik uang dan sembako ini.Wilker Jember
Wilker Malang
Kegiatan FKUB Jatim di Bakorwil Malang diselenggarakan pada Sabtu (8/6/2024). Kegiatan dilaksanakan di Harris Hotel Malang. Sama dengan di daerah lain, agenda di Bakorwil Malang membahas penguatan wawasan kebangsaan dan pilkada Serentak 2024 di Provinsi Jawa Timur. Hadir tim narasumber dan moderator dari FKUB Jatim, yakni: Dr. Udji Asiyah, Dr Agustinus Pratista, Nur Ainy, S.Pd, dan Prof Nyoman Sutantra. Paparan tentang pilkada damai disampaikan Dr Udji. Sementara paparan wawasan kebangsaan oleh Dr Agustinus. Sebagai moderator adalah Nur Ainy. Dan, Prof Nyoman sebagai pendamping tim FKUB Jatim.
Kegiatan di wilker Malang diikuti peserta dari Malang Raya, kabupaten Pasuruan, kota Pasuruan, Sidoarjo, Surabaya, serta kabupaten Blitar. Satu FKUB yang tidak hadir, yakni Kota Blitar. Dalam sesi tanya jawab, Wayan peserta dari Surabaya menanyakan terkait dengan situasi global saat ini. Pertanyaannya, “kita harus bersikap bagaimana, khususnya terhadap situasi politik saat ini?” Kita sudah melewati pilpres dengan baik dan aman. Situasi yang dihadapi adalah menunggu pelantikan presiden dan wakil presiden yang baru. Yang patut disyukuri, dalam pilpres kita tidak ditarik seperti masa cebong dan kampret. Selanjutnya persoalan era post-truth. Yakni, era apa yang viral terus-menerus dapat dipersepsi benar. Meskipun dalam realitasnya hal itu bukanlah kebenaran yang sesungguhnya. Sebagai tokoh umat kita perlu selalu kritis dan bijak dalam mensikapi media sosial. Pertanyaan lain adalah “Bagaimana menilai kemajuan bangsa dalam kerukunan di era global?” Kerukunan di Indonesia adalah kerukunan yang khas. Itu karena begitu beragam suku, agama dan bahasa. Karena itu, tidak dapat dibandingkan dengan negara lainnya. Demikian juga perkembangan masyarakatnya. Bangsa Indonesia sangat plural.Wilker Malang
Yang membanggakan, dengan local wisdom yang dimiliki, misalnya, gotong royong dan kepedulian bersama, bangsa ini tetap rukun damai. Sementara itu, Khalil dari Sidoarjo menanyakan; “Bagaimana menjadi pemeluk agama yang baik? Bagaimana menjadi umat yang terbaik sesuai ajaran agama masing-masing. Apalagi kita sedang menghadapi era society 5.0?” Pertanyaan ini dijawab narasumber bahwa untuk situasi saat ini, yang paling rawan dan ringkih adalah kelompok ibu-ibu dan anak-anak. Hal itu jika dibanding kelompok bapak-bapak. Sebab, kelompok ibu-ibu dan anak ini cenderung mudah mengedepankan emosi dan perasaan. Anak-anak cenderung ikut-ikutan, sehingga mudah terpapar radikalisme.
Madura Raya
Kegiatan FKUB Jatim di Madura Raya diselenggarakan pada Sabtu (8/6/2024), di Hotel Front One Madura, Pamekasan. Hadir sebagai narasumber: Drs. KH Jazuli Nur, LC, Dr Ongky Setio Kuncono, Pdt. Yefta Hadi Sugianto, M.Th, dan Wikrama Achmed. Turut hadir peserta mewakili FKUB Bangkalan, Sampang, Pamekasan dan Sumenep. Tim FKUB Jatim berbagi paparan materi. Untuk materi pilkada damai disampaikan KH Jazuli. Sementara paparan wawasan kebangsaan oleh Dr Ongky. Sebagai moderator adalah
Pdt. Yefta. Setelah paparan para narasumber, peserta banyak merespon soal pilkada damai. Dalam sesi diskusi, peserta bersepakat bahwa pilkada serentak di Jatim harus dijaga kesejukannya, kesatuannya, dan transparansinya. Untuk itu, penting diwujudkan pilkada yang jujur dan adil (jurdil). Peserta juga bersepakat dengan narasumber, bahwa rumah ibadah tidak boleh dijadikan ajang kampanye pasangan calon. Bahkan ada peserta yang masih ingat janji politik calon tatkala maju pilkada. Dan, janji itu disampaikan di rumah ibadah. Diceritakannya, “Dulu waktu membuat jembatan Suramadu ada janji bahwa di Madura akan disediakan kawasan Industri. Tetapi sampai sekarang tidak ada wujud kelanjutannya. Padahal, jika dunia industri berkembang di sini, maka perekonomian Masyarakat Madura akan semakin maju.” Di samping soal pilkada damai, peserta juga merespon materi wawasan webangsaan. “Sebenarya masalah ideologi bangsa, yakni Pancasila itu sudah final. Tidak perlu dibahas lagi. Yang paling penting adalah bekerja untuk kemajuan bangsa dan kesejahteraan rakyat,” ujar peserta dari FKUB Pamekasan. Ada juga peserta yang menyoroti soal media sosial. “Yang penting dilakukan saat ini adalah bijak dalam bermedsos,” tutur peserta dari FKUB Sumenep. Pada bagian akhir, peserta berharap agar pemerintah lebih peduli terhadap persoalan pendanaan kegiatan FKUB di Madura Raya. Narsum dari FKUB Jatim menyampaikan bahwa kata kuncinya terletak pada komunikasi dengan pemerintah. Sepanjang komunikasi baik, maka dukungan kegiatan pasti ada.
Wilker Bojonegoro
Kegiatan FKUB Jatim di Bakorwil Bojonegoro dilaksanakan pada Sabtu (29/6/2024), di Hotel Eastern, Bojonegoro. Tim narasumber dari FKUB Jatim terdiri atas: Prof Biyanto, KH Ahsanul Haq, FX. Rubbyjanto, dan Wikrama Achmed. Prof Biyanto menyampaikan materi wawasan kebangsaan. Sementara Kyai Ahsan memaparkan pilkada damai. Acara ini dipandu oleh FX Rubbyjanto sebagai moderator. Seluruh acara berlangsung dengan serius, santai dan gayeng. Prof Biyanto menyampaikan materi dengan santai disertai humor-humor segar. Sementara Kyai Ahsan dengan suara khasnya memaparkan materi dengan contoh-contoh persoalan dan tantangan mewujudkan pilkada damai.
Usai paparan dua narasumber, peserta memperoleh kesempatan bertanya, klarifikasi atau sharing. Di antara persoalan yang paling banyak mengemuka adalah: “Bagaimana pilkada damai bisa terwujud jika sesama pasangan calon melakukan money politics,” begitu pertanyaan peserta dari FKUB Lamongan. Prof Biyanto menjelaskan bahwa kalau money politics terus terjadi, maka ajang demokrasi lima tahunan sulit menghasilkan pemimpin yang berkualitas dan berintegritas. Repotnya lagi, ada kelompok masyarakat yang menyatakan bahwa yang dilakukan pasangan calon itu bukan money politics, melainkan “sedekah politik”. Istilah ini tentu sangat mengganggu. Karena dapat membuat elit politik dan masyarakat semakin permisif dan acuh terhadap fenomena politik uang. Di akhir kegiatan, peserta dari luar Bojonegoro sangat berharap agar kegiatan serupa dilakukan di daerah yang berada di posisi tengah sehingga lebih mudah terjangkau. Harapan ini disampaikan jika pada tahun depan ada kegiatan serupa. Di samping itu, juga bisa bergantian menjadi tuan rumah. Narasumber dari FKUB Jatim pun setuju. Dan, berjanji akan mengusulkan pada rapat FKUB. Terutama tatkala menentukan tempat kegiatan di lima wilker pada tahun mendatang.Wilker Bojonegoro
Wilker Madiun
Kegiatan FKUB Jatim di Bakorwil Madiun dilaksanakan pada 6 Juli 2024. Hadir dalam kegiatan ini Kyai Hamid Syarif, MH (Ketua), Tamhid Masyhudi (Sekretaris), DR. Kasno Sudariyanto, M.Ag (Koordinator Pendirian Rumah Ibadah), dan Rozikin (staf sekretariat). Kegiatan diikuti 9 FKUB kabupaten/kota. Setiap delegasi mengirimkan enam orang pengurus dari Kota Madiun, Kabupaten Madiun, Ngawi, Magetan, Ponorogo, Pacitan, Trenggalek, Tulungagung dan Nganjuk. Jumlah peserta kegiatan 60 orang.
Kegiatan ini penting karena menjelang pilkada serentak 38 kota kabupaten/kota se-Jatim. Dalam perhelatan lima tahunan seringkali terjadi perebutan dukungan pemilih. Tidak jarang para kontestan memanfaatkan tokoh masyarakat dan elit agama mencari dukungan umatnya. Ironinya, tempat ibadah menjadi pusat kegiatan untuk mendekati pemilih. FKUB sebagai wadah pimpinan majelis agama juga menjadi sasaran untuk minta dukungan. Untuk itu, penting membekali pengurus FKUB supaya menjaga dampak dari pilkada dengan bersikap netral dalam kontestasi pilkada serentak di Jatim.
Kegiatan diselenggarakan di Hotel Aston Kota Madiun. Ketua FKUB Jatim Kyai Hamid Syarif menyampaikan bahwa kerukunan di Jatim menjadi barometer kerukunan nasional. Maka, pemerintah Jatim berkepentingan agar pelaksanaan pilkada serentak berlangsung lancar dan damai. Pemilu adalah pesta lima tahunan, sebagai wujud demokrasi. Pemilu juga ajang pesta rakyat. Kyai Hamid juga berpesan dua hal. Pertama, pentingnya menjaga kondosivitas sebelum dan selama pelaksanaan pilkada. Pengurus FKUB berkewajiban menyampaikan pesan damai dalam setiap pertemuan dengan umat. Tarik-menarik untuk meraih simpati pemilih pasti mempengaruhi pilihan ummat karna memiliki pilihan berbeda.
Kedua, Kyai Hamid berpesan agar menjaga rumah ibadah sebagai tempat yang bebas dari pengaruh dan ajang kontestasi. Untuk itu, majelis agama harus ikut menjaga netralitas dan tidak menggunakan rumah ibadah sebagai ajang kampanye. Sebagai pengalaman yang terjadi selama ini ada calon yang mendekati pengurus masjid, gereja, pure, vihara, dan klenteng. Mereka memberikan bantuan seraya berharap dukungan dan memenangkan pilkada. Tetapi tatkala tidak terpilih, maka bantuannya diminta Kembali. Sementara DR. Kasno memaparkan materi penguatan wawasan kebangsaan. Menurut Kasno, Indonesia adalah negara bangsa yang penduduknya multikutural. Negeri ini menjamin dan melindungi keberadaan beragam etnis, ras, suku, budaya, dan agama. Keragaman itu terdiri dari enam agama yang resmi dan aliran kepercayaan, 714 etnik, 300 budaya. dan 1.100 bahasa daerah. Secara sosial budaya, masyarakat Jatim juga dibagi dalam tiga katagori utama, yaitu: Mataraman (45%), yang berada dikawasan bagian barat. Kedua, Arek (20%), tersebar di Sidoarjo, Surabaya, Lamongan, Gresik, Jombang, Mojokerto, dan Malang Raya. Ketiga, Madura (30%), yang berada di kawasan tapal kuda. Keempat, Oseng (5%), berada di Banyuwangi dan jember.

