Oleh Roziqin
FKUB Jawa Timur
Pada Jum'at (21/6/2024), FKUB Jawa Timur menerima rombongan Indonesian Consortium for Religious Studies (ICRS). ICRS merupakan konsorsium tiga universitas di Yogyakarta, yaitu: Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, dan Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW). Rombongan ICRS hadir di kantor FKUB Jatim untuk bersilaturahmi dan berdiskusi terkait situasi wawasan keagamaan di Jatim. ICRS juga ingin memperoleh gambaran aktivitas yang dilakukan oleh FKUB Jatim serta tantangan keberagaman dan potensi polarisasi.
Rombongan ICRS dipimpin Wakil Direktur, Prof. Fatimah Husein. Turut hadir dalam kegiatan silaturahmi dan diskusi ini: Core Doctoral Faculty (Dr. Dicky Sofjan), Peneliti dan Dosen UIN Sunan Ampel (Dr. Akhmad Siddiq). Mereka didampingi dua mahasiswa S3 ICRS, yakni Titi Fitriana dan Imanuel Geovasky. Rombongan ICRS diterima langsung oleh Ketua FKUB Jatim, Drs. H. A. Hamid Syarif, MH. Turut mendampingi, pertemuan ini Ir. H. Tamhid Masyhudi (Sekretaris), didampingi anggota dari beberapa Majelis Agama.Pertemuan dimulai pada pukul 09.00 WIB. Diawali sambutan pengantar oleh Sekretaris FKUB Jatim, Pak Tamhid, begitu sapaan akrab Tamhid Masyhudi, sekaligus bertindak sebagai pengatur dialog. Pak Tamhid mempersilahkan terlebih dahulu rombongan dari ICRS Konsorsium Yogyakarta untuk menyampaikan maksud kedatangan dan sekaligus memperkenalkan anggota rombongan. Suasana dialog berlangsung sangat hangat diselingi tawa kecil sebagai bumbu penyedap menambah antusiasme.
Selanjutnya, ketua FKUB Jatim sebagai tuan rumah menyampaikan ucapan terima kasih atas kunjungan ICRS. Juga permohonan maaf sekiranya terdapat kekurangan dalam penyambutan. Acara dilanjutkan tanggapan terkait banyak hal, khususnya dinamika yang ada di Jatim. Yakni, tentang kerukunan dan tantangan yang dihadapi FKUB sebagai wadah tokoh agama dan tokoh masyarakat dalam mendampingi umat untuk menjalin toleransi dan kerukunan di era teknologi digital saat ini.
Pada akhir pertemuan seluruh hadirin berkomitmen untuk tetap silaturahim dan sharing kegiatan. Untuk menindaklanjuti komitmen ini tokoh agama dan tokoh masyarakat sangat diperlukan. Terutama untuk mendampingi umat guna terwujudnya kehidupan yang harmonis dan guyub. Kondisi ini penting sebagai cikal bakal terwujudnya toleransi dan suasana saling menghargai antar umat dalam perbedaan.
Penting disadari bahwa perbedaan merupakan sebuah keniscayaan (sunnatullah). Selanjutnya, sekitar pukul 11.00 pertemuan diakhiri dan ditutup dengan saling tukar buah tangan dari masing-masing Lembaga. Dan, tidak lupa hadirin mengabadikan pertemuan dengan foto bersama.

