Selamat Datang di Website resmi Forum Kerukunan Umat Beragama Provinsi Jawa Timur

Pendekatan Feng Shui dalam Menanggulangi Bencana

 Oleh Ongky Setio Kuncono

Anggota Bidang Pemeliharaan FKUB Jawa Timur

            Manusia merupakan makhluk yang diciptakan Tuhan paling mulia dan yang membedakan dengan makhluk lainnya karena berkat tiang ming (Tengah Sempurna, Bab Utama: 1). Dengan tian ming yang berupa xing (watak sejati) menjadikan manusia mampu menanggulangi masalah dalam kehidupannya termasuk menghindar dari bahaya bencana yang akan menimpanya. Manusia tidak boleh diam dan pasrah dengan keadaan, melainkan harus menggunakan akal, pikiran ,dan kemampuannya untuk melakukan tindakan agar jauh dari bencana. Untuk itulah ada beberapa upaya yang dilakukan manusia sesuai dengan ajaran Khonghucu dengan pendekatan Feng Shui dalam menanggulangi bencana.

        



Mengharmoniskan Tian Di Ren 

        Ada hubungan yang sangat signifikan antara Tian Di Ren dengan keharmonisan serta kaitannya dengan bencana alam. Hubungan tersebut menunjukkan apabila hubungan Tian Di Ren berjalan dengan baik, maka akan menjauhkan pada datangnya bencana. Begitu pula sebaliknya jika hubungan dalam Tian Di Ren memiliki kendala, maka akan jauh dari keharmonisan alam yang  akhirnya berdampak pada datangnya bencana. Untuk itulah tugas utama manusia tidak lain menjaga keharmonisan Tian Di Ren.  

        Dalam ajaran Yin Yang menjadikan pola pikir bukan sekedar hitam dan putih, melainkan berpikir secara luas dan menyeluruh, tidak berdasarkan kacamata kuda, tidak yes or not, tetapi berpikir terbuka, pertimbangan matang dan berdasarkan kebenaran, berpikir kedepan, cepat dalam mengambil tindakan. Dalam hal ini seorang berpikir Yin Yang mampu memprediksi kedepan, artinya bahwa  “Bila orang tidak mau berpikir tentang kemungkinan yang masih jauh, kesusahan itu tentu berada di dekatnya” (Lun Yu XV : 12).

        Berpikir Yin Yang juga mampu berpikir dan menyadari bahwa setiap tindakan manusia pasti ada dampak negatif dan positifnya. Apa yang dilakukan manusia saat sekarang, pasti berdampak pada masa mendatang. Sebab akibat itu selalu ada dalam kehidupan manusia. Maka manusia dalam hal ini harus memperhitungkan setiap tingkah laku dan tindakannya dengan sebaiknya berdasarkan kebajikan agar apa yang dilakukan pada saat sekarang tidak membawa keburukan bahkan bencana di masa mendatang. 

        Melalui berpikir Yin Yang, manusia harus menata kehidupan disaat sekarang dengan sebaiknya, termasuk berbuat berdasarkan kebajikan yang bisa menjadikan dunia dalam keharmonisan. Bagi ajaran Khonghucu keharmonisan hanya bisa diciptakan bukan sekedar jalinan hubungan mikro antar manusia saja, melainkan jalinan hubungan makro melalui hubungan harmonis manusia dengan Tuhan (Tian Yang Maha Esa), hubungan harmonis manusia dengan sesamanya dan hubungan harmonis manusia dengan alam semesta. Hubungan ketiganya disebut dengan Tian Di Ren.

        Agama Khonghucu merupakan agama yang sangat menjunjung tinggi keharmonisan hidup termasuk didalamnya adalah upaya manusia untuk menjaga dan melestarikan lingkungan hidup dengan sebaik baiknya. Ajaran Khonghucu yang dimulai dari Raja Suci Fuxi sebagai pondasi keagamaan sekaligus ilmu pengetahuan, etika moral, budaya menjadi dasar pokok bagaimana hidup didunia ini tidak bisa lepas dari kontek Tian Di Ren. Keseimbangan dan keselarasan kehidupan manusia akan terganggu, termasuk hancurnya ekosistem akan terjadi jika manusia tidak memperhatikan hubungan makro Tian Di Ren

         Bagi Khonghucu, Tuhan telah menjadikan hubungan harmonis Tian Di Ren sebagai keharmonisan agung yang menjadikan dunia dan seisinya bisa lestari dan berkesinambungan. Kehancuran dan ketidakseimbangan Tian Di Ren akan menjadikan manusia hidup dalam kesengsaraan yang berakhir pada bencana.  Tian Di Ren adalah hubungan besar yang bersifat antropokosmis. Manusia adalah bagian dari lingkungan makro yang hidup dalam lingkungan besar yang tidak bisa dipisahkan dan saling kait mengait. Maka hidup didunia ini ini harus mengharmoniskan dirinya dengan lingkungan hidupnya melalui upaya menjaga lingkungannya tetap harmonis.

Melalui Ajaran Feng Shui


            Feng Shui terdiri dari dua kata, yakni kata ‘Feng‘ (风) yang berarti angin dan kata ‘Shui‘ (æ°´) yang berarti air. Fengshui adalah sebuah ilmu yang mempelajari bagaimana cara manusia untuk hidup selaras dengan alam dan lingkungan sekitar. Khususnya bagaimana mengatur air dan angin agar mendapatkan Qi æ°” (hawa positif) yang bisa mempengaruhi keseluruhan kehidupannya termasuk keberuntungan dan kesehatan.  Feng Shui memiliki fungsi (1) untuk mempertahankan Qiæ°” (energi intrinsik atau kekuatan hidup) menguntungkan dari suatu tempat, (2) upaya membawa Qi/chi baik dari luar ke tempat dalam, (3) untuk memetakan garis energi di rumah untuk mencapai penyebaran Qi yang seimbang dan harmonis yang bisa memberi efek menguntungkan bagi penghuni. Inilah yang akan memberikan kesehatan dan keberuntungan keluarga (Victor L, DY, 1993). 




            Tentu saja jika Feng Shui-nya ditata dengan baik, setidaknya menghindari bencana yang terjadi. Hal ini masuk akal karena prinsip-prinsip Feng Shui sangan menjauhi tindakan yang berakibat pada terjadinya naas dan juga bencana baik secara mikro maupun makro. Secara mikro apabila manusia menata Feng Shui dalam membangun rumah yang tidak tusuk sate, secara logika menghindar dari kendaraan yang bisa nyelonong dan menabrak rumah yang ditempati. Juga bangunan kamar yang dibawahnya adalah dapur, secara logika pula akan terhindar dari bencana kebakaran yang membahayakan. Pada tataran makro jika  seseorang membangun rumah yang berhadapan dengan aliran sungai, secara logika akan membahayakan terkena banjir dan terbawa arus. Juga bangunan yang di bawah bukit, akan bisa tertimbun longsor yang semuanya itu membawa naas dan bencana.


            Penelitian Rezky, Anwar, Usman ( 2022) mengatakan bahwa “Makna Feng Shui yaitu suatu ilmu yang mempelajari mengenai mengharmonisasikan antara manusia dan alam semesta. Di dunia ini yang paling penting hanya dua, yaitu ‘air’ dan ‘udara,’ jika keduanya tidak ada maka kita akan meninggal dan tidak memiliki arti. Fengshui bermakna untuk menyelaraskan, menyeimbangkan, dan mengharmonisasikan antara manusia dan alam semesta. Ibarat angin dan air yang memiliki peran sangat penting bagi kelangsungan hidup manusia, jika keduanya tidak ada maka makhluk hidup akan musnah. Mengacu pada hal di atas tentunya Feng Shui merupakan seni hidup dalam keharmonisan dengan alam, sehingga orang yang menerapkan tatanan ini mendapatkan keuntungan, ketenangan, dan kemakmuran dari keseimbangan yang sempurna dengan alam (Kristihartini & Darmawan, 2022).  


               Selain itu, Feng Shui juga bermakna sebagai energi atau (Qi) yang membawa kemakmuran dan kedamaian bagi orang yang menerapkannya. Berdasarkan hasil wawancara dengan informan lain, mengatakan bahwa “Fungsi dari Feng Shui adalah untuk melancarkan hoki, keluarga menjadi bahagia, nyaman, dan memiliki keberuntungan yang baik”. Fengshui bagi masyarakat Tionghoa berfungsi sebagai patokan untuk mengatur tata bangunan baik itu rumah pribadi atau tempat usaha agar terciptanya energi atau Qi yang baik dan seimbang sehingga dapat mendatangkan hoki atau keberuntungan bagi orang yang menerapkannya. Secara logika Feng Shui berfungsi untuk menata bangunan agar penempatan bangunan dan ruang dalam bangunan tidak salah tempat atau posisi dalam pembangunannya. Hal ini dapat menghindarkan rumah dari kerusakan dan ketidaknyamanan bagi pemiliknya (Wen Chuang, 2022).  


                Keharmonisan dan keseimbangan alam dengan manusia menjadikan pokok ajaran Khonghucu dimana manusia hidup didunia ini harus bisa serasi dengan alam. Hubungan alam dan manusia juga tidak lepas dari hubungan manusia dengan Langit dalam konteks Tian Di Ren. Alam yang dijaga dengan baik akan memberikan keberkahan bagi manusia dan jauh dari bencana. Dalam berkaitan dengan tempat tinggal yang harmonis  bagi yang masih hidup dan makam bagi yang telah meninggal, maka peran Feng Shui sangat penting dalam mengatur dalam perhatian khusus terhadap perwujudan Chi/Qi atau nafas kehidupan di lokasi tersebut (rumah dan pemakaman). Peranan Feng Shui sebagai seni hidup selaras dengan tanah, dan memperoleh manfaat, kedamaian, dan kemakmuran terbesar jika berada di tempat dan waktu yang tepat ( Skinner,1982, hal 4, Guo, 2017). 

                Feng Shui menekankan hubungan harmonis antara manusia dan lingkungan alam, oleh karena itu manusia hendaknya menggunakan pengetahuan dan keterampilan Feng Shui untuk menelusuri dan mengkaji tempat yang hendak dibangun rumah, kuburan, peternakan, perkantoran, peribadatan. Hal ini menuntut manusia untuk beradaptasi , menemukan cara untuk menyesuaikan diri, namun tidak merubah atau berjuang dengan lingkungan alam ( Kau,1992, Guo,2017). Feng Shui mengajarkan manusia bagaimana mengembangkan keharmonisan dan mencegah konflik dengan alam melalui adaptasi terhadap lingkungan alam.  Dengan jelas bahwa tujuan utama Feng Shui adalah menyelaraskan dengan lingkungan guna memaksimalkan rejeki, kesuksesan, dan kebahagiaan serta menjauhkan dari bencana.  Tentu saja kelima rahmat dan bahagia  (Wu Fu) akan terwujud.

Penutup 

            Menjaga hubungan dalam konsep Tian Di Ren akan tercipta keharmonisan yang berdampak pada kehidupan manusia sehingga lebih harmonis dan jauh dari bencana yang menimpa. Dari uraian diatas dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa manusia melalui De (Kebajikan) dan menerapkan De (kebajikan) serta berbakti akan mendorong manusia untuk mencintai lingkungan hidup sehingga bertindak secara harmonis yang menjauhkan diri dari bencana. Tatanan Feng Shui menjaga keseimbangan dan keharmonisan alam yang menjadikan manusia hidup bahagia, sejahtera, serta menjauhkan diri dari bencana yang menimpa.
Do you have any doubts? chat with us on WhatsApp
Hello, How can I help you? ...
Click me to start the chat...