Selamat Datang di Website resmi Forum Kerukunan Umat Beragama Provinsi Jawa Timur

Praktik Ekoteologi dalam Konservasi Lingkungan di Baladaun Konservatif, Desa Tosari, Kabupaten Pasuruan

 Oleh Nurul Lathifah

Bendahara FKUB Jawa Timur

        Krisis ekologis global menuntut pendekatan integratif yang memadukan aspek spiritual dan ekologis. Artikel ini membahas praktik ekoteologi di Baladaun Konservatif, Desa Tosari, Kabupaten Pasuruan, sebagai bentuk penerapan teologi lingkungan berbasis kearifan lokal. Masyarakat Baladaun menerapkan prinsip ekoteologi melalui budidaya edelweis konservatif, program pembayaran jasa lingkungan (PJLH), dakwah konservasi lintas agama, dan edukasi ekologi kepada generasi muda. Pelestarian alam di Baladaun tidak hanya berlandaskan instrumen kebijakan, tetapi juga dimaknai sebagai tanggung jawab spiritual. Model ini dapat direplikasi sebagai alternatif penguatan konservasi berbasis iman dan budaya.

Meningkatnya Kesadaran

            Degradasi lingkungan merupakan permasalahan global yang memerlukan pendekatan holistik. Salah satu pendekatan yang semakin relevan adalah ekoteologi, yakni integrasi ajaran keagamaan dengan kesadaran ekologis (Nasr, 1997; Santmire, 2000). Di Indonesia, ekoteologi berkembang seiring dengan meningkatnya kesadaran masyarakat adat dan keagamaan terhadap pentingnya pelestarian alam. Desa Tosari, Kabupaten Pasuruan, sebagai wilayah penyangga Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), menghadapi tantangan kerusakan ekosistem akibat pariwisata massal dan eksploitasi sumber daya alam. Di tengah kondisi tersebut, komunitas Baladaun Konservatif menunjukkan inisiatif pelestarian berbasis ekoteologi yang menarik untuk dikaji.


                Ekoteologi berangkat dari pemahaman bahwa alam adalah bagian integral dari ciptaan Tuhan yang harus dijaga kelestariannya. Dalam perspektif ekoteologi:

  • Manusia sebagai Khalifah: Manusia memiliki tanggung jawab moral untuk mengelola alam, bukan mengeksploitasinya (QS. Al-A'raf: 56).
  • Sakralitas Alam: Semua agama memandang alam sebagai ciptaan suci yang memiliki nilai spiritual (White, 1967).
  • Relasi Mutualistik: Ekoteologi menolak dominasi manusia atas alam dan mendorong hubungan saling menghidupi
  • Tanggung Jawab Spiritual : Kerusakan lingkungan dipandang sebagai bentuk pelanggaran terhadap kehendak ilahi (Nasr, 1997).

Simbol Bunga Edelweis


        Bunga edelweis, yang memiliki nilai simbolik dalam tradisi masyarakat Tengger, dahulu sering diambil secara liar, mengancam kelestariannya. Di Baladaun, masyarakat mengembangkan budidaya edelweis di pekarangan dan jalur desa, dilengkapi sistem barcode untuk monitoring. Praktik ini selaras dengan konsep ekoteologi karena menjaga keberlanjutan ekosistem sekaligus memenuhi kebutuhan ritual keagamaan. Melalui skema PJLH, masyarakat memperoleh insentif atas upaya menjaga kawasan hutan dan resapan air. Program ini tidak hanya meningkatkan ekonomi lokal, tetapi juga memperkuat kesadaran bahwa menjaga alam adalah bagian dari ibadah dan tanggung jawab spiritual. Baladaun Konservatif mengintegrasikan pesan pelestarian lingkungan dalam kegiatan keagamaan. Dakwah lintas agama yang melibatkan tokoh Hindu, Islam, dan Kristen menegaskan pentingnya menjaga alam sebagai manifestasi keimanan dan toleransi. Sekolah-sekolah di Desa Tosari mulai memasukkan muatan lokal bertema lingkungan. Anak-anak diajarkan pentingnya menjaga Edelweis dan ekosistem hutan sejak dini, memperkuat internalisasi nilai ekoteologi dalam pendidikan formal. Praktik ekoteologi di Baladaun Konservatif menunjukkan bahwa pelestarian lingkungan dapat terwujud melalui integrasi ajaran keagamaan, kearifan lokal, dan inovasi konservasi. Budidaya Edelweis, PJLH, dakwah lintas agama, dan edukasi lingkungan menjadi wujud nyata relasi harmonis antara manusia, alam, dan spiritualitas. Model ini relevan direplikasi di kawasan penyangga konservasi lain di Indonesia.


Do you have any doubts? chat with us on WhatsApp
Hello, How can I help you? ...
Click me to start the chat...