Selamat Datang di Website resmi Forum Kerukunan Umat Beragama Provinsi Jawa Timur

Ekoteologi dan Peran Ajaran Buddha

Oleh Philip K. Widjaja 

Koordinator Bidang Pemberdayaan FKUB Jawa Timur


    Perubahan iklim, kerusakan ekosistem, dan bencana alam yang terjadinya makin lama makin kerap, menjadi tantangan global yang memerlukan solusi segera dan holistik, termasuk pendekatan spiritual. Agama Buddha, dengan filosofinya tentang kesalingterhubungan (interdependensi) dan welas asih dalam Buddha Dharma, menekankan bahwa manusia bukan entitas yang terpisah dari alam. Lebih dari itu, manusia merupakan bagian dari ekosistem yang harus dirawat dengan penuh kesadaran. Maka, Agama Buddha mebawakan perspektif unik tentang relasi manusia-alam. Eco-teologi Buddhisme tidak hanya berbicara tentang perlindungan lingkungan, tetapi juga tentang transformasi kesadaran manusia sebagai akar masalah krisis ekologis. Sekarang kita coba lebih dalam melihat bagaimana Agama Buddha memandang alam, peranannya dalam konservasi lingkungan, tanggap terhadap bencana alam, serta praktik keagamaan sehari-hari yang mendukung keberlanjutan ekologi, termasuk menganalisis prinsip eco-teologi Buddhisme dan relevansinya dalam isu lingkungan kontemporer.

Pandangan Agama Buddha     Adanya konsep interdependensi (Pratītyasamutpāda atau Paticca Samuppada) yang ada dalam ajaran Buddha menekankan bahwa semua fenomena saling bergantung. Kerusakan alam adalah akibat dari ketidakharmonisan hubungan manusia dengan lingkungan, yang bersumber pada keserakahan (lobha), kebencian (dosa), dan kebodohan batin (moha). Umpama ketidak pahaman akibat kerusakan hutan, atau paham tapi ingin membuka hutan untuk lahan tanam lain yang menguntungkan diri, atau keserakahan yang berlebihan tidak puas dengan untung kecil namun ingin keuntungan yang tanpa batas. Alam dapat sebagai Cermin Dharma, dalam aliran Buddha Theravada dan Buddha Mahayana, dimana alam dianggap sebagai "guru" yang mengajarkan ketidakkekalan (anicca) dan penderitaan (dukkha). Kita bisa menganbil contoh seperti adanya banjir dan kekeringan, ini mencerminkan ketidakseimbangan akibat eksploitasi berlebihan. Konsep Welas Asih (Karuna) terhadap Semua Makhluk : Sikap metta (cinta kasih) dan karuna (welas asih) mencakup semua makhluk, termasuk hewan dan tumbuhan. Hal ini mendorong vegetarianisme dan perlindungan habitat. Hal ini tercermin dengan jelas pada setiap doa penutup, yaitu Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta, yang artinya Semoga semua makhluk hidup berbahagia. Buddhisme dan Konservasi Alam     Praktik Konservasi dalam Vinaya (Aturan Monastik, atau tata tertib kehidupan didalam tempat ibadah) antara lain: Larangan menebang pohon bagi biksu/biksuni untuk tidak merusak tumbuhan tanpa alasan yang vital (Vinaya Pitaka), Penggunaan sumber daya secara minimal dengan Hidup sederhana ala monastik untuk mengurangi jejak ekologis, Gerakan "Buddhisme Hijau", penanaman pohon secara luas, dan hemat air, yang mana ada Ritual pemberkatan sungai di Myanmar untuk meningkatkan kesadaran polusi.     PERMABUDHI (Persatuan Umat Buddha Indonesia) juga telah beberapa kali membersihkan sungai Jakarta dengan Eco Enzyme, yang kemudian ditiru beberapa daerah lain. Pendidikan Lingkungan berbasis Dharma perlu dilaksanakan secara berkesinambungan, umpama dengan mengajarkan tentang "Hak Asasi Alam" dalam tradisi Engaged Buddhism (Thich Nhat Hanh), atau Program "Sekolah Hutan" di Sri Lanka dan Thailand, dikenal juga sebagai vihara hutan, yang menggabungkan meditasi dengan edukasi ekologi.     Di Indonesia, cukup banyak Bhante/Bikkhu yang lulusan Vihara-vihara hutan disana. Contoh Vihara Mendut -Jateng dan Vihara Bodhigiri -Bali yang menggabungkan meditasi dengan penanaman pohon, atau Kampanye "Satu Orang, Satu Pohon" oleh komunitas Buddhis di Sumatera untuk memulihkan lahan kritis.     Dalam ajaran Buddha ada Ajaran Anicca, bencana disebut sebagai wujud Anicca. Buddhisme melihat bencana sebagai bagian dari siklus alam yang diperparah oleh karma kolektif manusia (misalnya, eksploitasi sumber daya). Dan oleh karena makin hari keperdulian manusia makin kurang, maka karma kolektif pun makin besar, terasa alam makin tidak bersahabat dengan kita. Di mana ada bencana, biasanya selalu ada Komunitas Buddha yang hadir untuk membantu.     Relief bencana diwujudkan berbagai organisasi, antara lain seperti Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia yang aktif dalam distribusi bantuan dan rehabilitasi pasca-bencana di seluruh tanah air. Organisasi ini bahkan membangun kembali sarana yang layak buat masyarakat korban bencana. Juga ada berbagai bantuan lain, umpama organisasi yang aktif melalui kegiatan Meditasi untuk trauma, yaitu Teknik mindfulness membantu korban mengatasi stres pasca-bencana. Praktek Sehari-hari Umat Buddha     Praktek umat Buddha untuk lingkungan dapat dilihat dari berbagai ritual dan simbolisme ekologi. Puja bakti alam Ritual penghormatan kepada dewa pohon atau sungai dalam masyarakat Buddhis, Festival Waisak juga selalu menyerukan pengurangan penggunaan plastik selama perayaan. Gaya Hidup yang berkelanjutanpun mencerminkan kepedulian pada lingkungan dan alam sekitar.     Adanya umat yang mempraktekkan vegetarianisme diharapkan dapat mengurangi dampak industri daging terhadap deforestasi dan kurangi jejak karbon. Ada juga dalam penanganan sampah, dengan prinsip zero-waste, mengurangi sebisa mungkin pembuangan sampah, memilah sampah untuk dapat didaur ulang, membuang sampah pada tempatnya, mendayagunakan sampah seperti jadikan Eco-Enzyme, tidak berlebihan adakan makanan sehingga tidak ada yang dibuang secara sia-sia, dan sebagainya.     Kesadaran Ekologis juga dibangun melalui meditasi, dengan latihan vipassana (perhatian penuh) mendorong refleksi tentang konsumsi berlebihan dan hubungan dengan alam. Bhikkhu Thailand Pelindung Hutan, aktivis seperti Phrakhu Sangkom Thongyoi memimpin protes melawan deforestasi ilegal. Vihara Ramah Lingkungan banyak bermunculan di Taiwan, dengan Penggunaan panel surya dan sistem daur ulang air di vihara modern.     Banyak vihara di wilayah Asia Tenggara memiliki kawasan hutan yang dijaga sebagai tempat meditasi dan perlindungan flora serta fauna, adalah bentuk mengaitkan pelestarian hutan dan tempat suci. Bahkan, ada yang disebut Hutan Sangha, di mana para Bhiksu di Thailand dan Sri Lanka mengikat jubah mereka pada pohon untuk melindunginya dari pembalakan liar. Pohon yang telah dijadikan "bhiksu" dianggap sakral dan tidak boleh ditebang. PERMABUDHI di Indonesia juga bersama para tokoh agama lain mendirikan IRI (Interfaith Rainforest Initiative). Keberadaan IRI penting untuk melindungi hutan, baik melalui kerjasama dengan organisasi perduli lingkungan maupun masyarakat adat dalam hutan. IRI juga terus mengingatkan pada pemerintah untuk perhatian pada hutan dan mengajak masyarakat luas ikut serta melalui pembangunan mindset. Memandang ke Depan     Jaman terus maju dan perkembangan pengetahuan kadang meninggalkan perkembangan keperdulian, teknologi selalu berubah dengan kecepatan eksponensial, membuat gap antara tradisi dan modern juga makin lebar. Pada konteks inilah perlu pemahaman-pemahaman baru dan bagaimana kesadaran akan lingkungan diterapkan dalam kehidupan modern.     Di samping itu, integrasi eco-Dharma dalam kurikulum pendidikan agama perlu lebih berbobot. Juga kolaborasi antar umat agama untuk melakukan aksi lingkungan global harus terus ditingkatkan. Hal itu merupakan wujud tanggung jawab pada lingkungan, tanggung jawab sosial, sekaligus tanggung jawab perjalanan spiritual.

Do you have any doubts? chat with us on WhatsApp
Hello, How can I help you? ...
Click me to start the chat...