Selamat Datang di Website resmi Forum Kerukunan Umat Beragama Provinsi Jawa Timur

Ekoteologi Katolik: Pandangan Gereja Katolik Terhadap Alam dan Lingkungan Hidup

 Oleh Agustinus Pratisto Trinarso

Anggota Bidang Pemberdayaan FKUB Jawa Timur

Apakah manusia dewasa ini memiliki kesadaran bahwa lingkungan alam semakin rusak? Kita sebagai umat manusia yang hidup dewasa ini ikut merasakan bumi yang suhunya semakin panas akibat global warming, banjir, pencemaran udara, air,dan tanah, yang telah menimbulkan banyak dampak negatif bagi manusia dan alam itu sendiri. Gaya hidup manusia yang tidak ramah terhadap lingkungan hidup dan adanya eksploitasi kekayaan alam yang berlebihan telah membuat lingkungan hidup menjadi terluka. Lingkungan hidup menjadi rusak akibat diperlakukan sebagai objek eksplorasi manusia. Hal ini menimbulkan apa yang disebut sebagai ketidakadilan ekologis.

Apa itu ketidakadilan ekologis? Mengapa lingkungan hidup menjadi rusak? Adakah cara pandang dan sikap manusia yang kurang tepat terhadap alam? Pemahaman dan cara pandang tertentu terhadap lingkungan hidup dan alam akan sangat mempengaruhi sikap manusia dalam memperlakukan alam. Misalnya ada pandangan atau paham yang menyatakan bahwa manusia adalah pusat dari alam semesta (anthroposentrisme). Dalam paham ini, manusia dan segala kepentingannya dianggap yang paling menentukan dalam tatanan ekosistem universal jagad raya.

Dalam paham ini, alam dan lingkungan hidup hanya dipandang sebagai objek, alat, dan sarana bagi pemenuhan kebutuhan dan kepentingan manusia saja. Alam hanya bernilai, diperhatikan, dihargai sejauh untuk menunjang kepentingan hidup manusia. Pandangan seperti itu menghasilkan sikap yang tidak peduli terhadap kondisi alam. Dalam gereja Katolik, salah satu nas dari Kitab Kejadian (Kej.1: 28) dapat disalahtafsirkan sebagai pondasi pandangan antroposentrisme yang radikal yang melihat alam harus dikuasai dan ditaklukkan demi kepentingan hidup manusia semata.



Pandangan Gereja Katolik


  1. Ajaran Sosial Gereja Katolik


Gereja Katolik memiliki kekhasan khusus tentang ajaran Gereja yang terkait dengan situasi sosial masyarakat dan dunia. Ajaran resmi Gereja yang menanggapi dan memfokuskan perhatian pada kondisi serta situasi sosial di seluruh dunia disebut sebagai Ajaran Sosial Gereja, atau biasa disingkat dengan ASG. ASG dibuat untuk menanggapi kondisi dan situasi sosial kemasyarakatan yang ditujukan bukan hanya untuk umat Katolik saja, tetapi juga untuk semua orang yang berkehendak baik. 

Gereja Katolik menyadari bahwa Gereja tidak terlepas dari kehidupan dunia secara menyeluruh dalam konteks hidup sosialnya. Artinya, Gereja sadar akan selalu bersinggungan dengan orang lain, yang bukan beragama Katolik. Gereja sadar dirinya merupakan bagian dari masyarakat luas yang hidup selalu berdampingan. ASG berusaha mempertegas posisi kekatolikan dalam rangka berdialog dengan dunia, sekaligus berniat tulus untuk berjumpa serta bekerja sama dengan orang-orang yang berkehendak baik. 

Dokumen ensiklik mengenai Ajaran Sosial Gereja awal mulanya diprakarsai oleh Bapa Paus Leo Ke XIII dengan menghasilkan ensiklik Rerum Novarum pada tahun 1891. Ensiklik tersebut menjadi prakarsa awal ASG. Paus-paus berikutnya melanjutkan dengan berbagai ensiklik yang dihasilkan, termasuk ensiklik tentang sikap gereja terhadap lingkungan hidup.


  1. Ekoteologi Gereja Katolik


Ensiklik Gereja yang terbaru mengenai Sikap dan Pandangan Gereja Katolik terhadap Lingkungan Hidup ialah ensiklik Laudato Si.  Ensiklik Laudato Si  dikeluarkan oleh Bapa Paus Fransiskus pada tahun 2015 berisi tentang perawatan Lingkungan Hidup sebagai rumah kita bersama. Ensiklik ini menyoroti kondisi alam yang dewasa ini semakin rusak dan perlu adanya gerakan kolektif secara masif untuk merawat serta memulihkannya. 

Beliau menyatakan bahwa alam merupakan rumah bersama seluruh makhluk hidup, termasuk manusia yang tinggal di dalamnya. Ensiklik Laudato Si memuat perlunya kesadaran untuk merawat dan menjaga alam sebagai rumah bersama demi keberlangsungan semua makhluk. Ebsiklik Laudato Si merupakan seruan kenabian di tengah krisis lingkungan hidup dewasa ini. Krisis lingkungan hidup merupakan ancaman bagi kelangsungan ekosistem bumi dan masa depan peradaban manusia. 

Pada Laudato Si paragraph 101, Bapa Paus Fransiskus menyatakan secara tegas bahwa hampir tidak ada gunanya “menggambarkan gejala-gejala krisis ekologis tanpa mengakui akarnya dalam manusia.” Jika akar masalahnya adalah manusia, maka kunci solusinya juga ada pada manusia.  Bapa Paus mau mengajak seluruh orang yang berkehendak baik untuk bersama-sama merawat lingkungan hidup sebagai rumah kita bersama. 

Paus Fransiskus menyampaikan harapannya dalam Laudato Si paragraf 14: “Saya mengundang dengan mendesak agar diadakan dialog baru tentang bagaimana kita membentuk masa depan planet kita. Kita memerlukan percakapan yang melibatkan semua orang, karena tantangan lingkungan yang kita alami, dan akar manusianya, menyangkut dan menjadi keprihatinan kita semua.”

Landasan iman Katolik yang mendasari prinsip merawat bumi sebagai rumah bersama (prinsip ekologis) bertolak dari Kitab Kejadian 2:15: “Tuhan Allah menempatkan manusia di taman Eden, untuk mengusahakan dan memelihara taman itu”. Ayat Kitab Suci tersebut menekankan bahwa kita sebagai manusia memiliki tugas untuk “menjaga” dan “merawat” bumi sebagai bentuk tanggungjawab moral terhadap bumi sebagai rumah. 

Penerapan prinsip merawat bumi sebagai rumah bersama memerlukan partisipasi seluruh umat manusia. Partisipasi ini hanya dapat terwujud jika ada gerakan kolektif yang secara massif dilakukan terus menerus, sehingga makin banyak orang yang tergerak untuk melakukannya. 

Bapa Paus Fransiskus melalui ensiklik Laudato Si, mengajak semua umat manusia untuk bisa mencintai dan mengasihi alam ini sebagai saudara dan rumah kita bersama. Sebagai rumah bersama, maka patutlah kita untuk menjaga dan melestarikan alam ini agar bisa menjadi rumah dan saudara yang aman untuk menopang kehidupan manusia. Paus Fransiskus hendak mengajak umat manusia untuk bertobat dari kesalahan yang dibuat selama ini dalam memperlakukan alam secara semena-mena. 

Beliau mengajak seluruh umat manusia untuk berdamai dengan bumi ini sebagai rumah kita bersama. Manusia sesungguhnya hanya diberikan tanggung jawab oleh Allah untuk mengolah dan melestarikannya dan bukan berlaku sebagai tuan atau pemilik yang dengan bebas semau-maunya merusak alam ini demi kepentingan egoismenya. Menjaga dan melestarikan alam merupakan bukti kepedulian manusia terhadap ciptaan Allah yang dipercayakan kepada mereka. 

Kehadiran ensiklik Laudato Si merupakan tanda-tanda jaman dan kontribusi gereja katolik dalam menjaga, memelihara, merawat dan kelestarian lingkungan hidup. Gereja Katolik tidak hanya hadir dalam bentuk seruan atau ajaran saja, namun Gereja Katolik dengan aktif ikut mengambil bagian dalam usaha menjaga, merawat, dan melestarikan lingkungan hidup dengan upaya-upaya yang nyata.


  1. Spiritualitas Ekoteologi


Spiritualitas ekoteologi dibangun dengan dasar penghayatan iman bahwa semua ciptaan adalah saudara yang diselamatkan dan dibaharui oleh Tuhan. Spiritualitas ekoteologi mengambil sumber semangatnya dari teladan Santo Fransiskus Asisi, santo pelindung Lingkungan Hidup. Spiritualitas ini mengarahkan semua mahluk ciptaan kepada kehidupan yang harmonis. 

Spiritualitas ekologis mempunyai dasar pada pengalaman manusiawi yang berhadapan dengan kehancuran lingkungan hidup, semangat pertobatan yang terus menerus dan sekaligus berhadapan dengan pengalaman akan Allah Mahakuasa yang memelihara dan menghidupkan semuanya. Dalam spiritualitas ini, semua manusia dipanggil secara aktif untuk memelihara kehidupan dan kesejahteraan bersama dengan seluruh alam. 

Perwujudan dari spiritualitas ekologis nampak dalam berbagai aneka tindakan etis sebagai wujud tanggung jawab terhadap lingkungan hidup dan alam sebagai saudara-saudarinya. Hal tersebut dapat diwujudkan antara lain:

Pertama, Pembinaan tentang Kesadaran Ekologi: Merupakan upaya gereja untuk menyadarkan anggotanya bahwa alam adalah bagian dari keluarga yang harus dirawat, diperhatian, dipelihara, diperjuangkan keutuhannya. Hal ini dapat disuarakan dalam setiap moment kegiatan gerejani, baik yang formal maupun informal. Secara serius dalam materi retret dan rekoleksi pendampingan umat.

Kedua, Perayaan Lingkungan Hidup dalam Liturgi: Menyelenggarakan Misa dan Perayaan liturgi khusus untuk merayakan Hari Lingkungan Hidup dan Laudato Si. Dalam perayaan ini dapat disertakan upacara tobat dan pengakuan dosa atas apa saja yang telah dilakukan terhadap alam semesta. Keuskupan Surabaya melalui beberapa paroki secara rutin mengadakan acara Ritual Unduh-Unduh, Berkatan Benih, Hari Pangan Sedunia (HPS), dan lainnya.

Ketiga, Menyuarakan Suara Kenabian terhadap Kerusakan Lingkungan Hidup: Gereja  menyuarakan kritik atau memberikan masukan-masukan bagi masyarakat ataupun pemerintah terkait dengan upaya melestarikan lingkungan hidup. Sikap tegas gereja terhadap kebijakan pemerintah tentang eksplorasi alam yang berlebihan terus diperjuangkan oleh para imam dan umat katolik dan tidak jarang menjadi konflik sosial dan hukum.

Keempat, Menata Lingkungan Gereja dengan Kesadaran Ekologis: Membangun lingkungan gereja yang hijau dan asri dengan memperhatikan kontur tanah dan bangunan dengan bijak, penyediaan tempat sampah dan pemasangan pamflet anjuran cinta lingkungan hidup. Sasana Krida Jatijejer Mojokerto dan tempat ziarah Gua Maria Poh sarang Kediri, merupakan contoh asset Gereja yang dibangun dengan memperhatikan kontur tanah dan lingkungan alam.

Kelima, Gerakan Penanaman Pohon bagi Seluruh Warga Gereja: Upaya reboisasi dan penanaman kembali tanah terbuka dimanapun yang memungkinkan.

Keenam, Mengajak Anggota Gereja Membudayakan Gaya Hidup yang Ramah dan akrab dengan Alam: Gaya hidup yang meninggalkan kebiasaan penggunaan kantong dan botol plastik, beralih ke bahan yang ramah lingkungan, dan lainnya.

Ketujuh, Membangun Kerja Sama dengan Lembaga yang peduli Lingkungan Hidup: Gereja mengupayakan kerjasama yang intensif dengan Lembaga-lembaga lain, baik Lembaga pemerintah dan swasta, Lembaga lintas agama, dan lainnya yang memiliki kepedulian akan kelestarian alam untuk dapat mengupayakan program Bersama baik dalam upaya preventif kerusakan alam, maupun kuratif, termasuk juga penanganan bagi para korban bencana alam.


Penutup


Kekuatan manusia beriman adalah mampu membaharui hidupnya dan lingkungan hidupnya karena merasa selalu bagian dari karya penciptaan Allah yang takkunjung putus. Cara Pandang yang melibatkan Allah dan Alam sebagai bagian hidup beriman menunjukkan kerendahan hati manusia sebagai bagian ciptaan dan bukan penguasa bumi. Kesadaran pertobatan dengan memandang alam sebagai saudara dan rumah bersama merupakan pandangan ekoteologi Gereja Katolik yang diharapkan dapat menggerakkan semua manusia untuk peduli pada alam dan lingkungan hidup, memulihkan, menjaga, memelihara dan merawatnya. 


Do you have any doubts? chat with us on WhatsApp
Hello, How can I help you? ...
Click me to start the chat...