Oleh I Gusti Putu Raka Arthama
Anggota Bidang Pemberdayaan FKUB Provinsi Jawa Timur
Teo Ekologi adalah perpaduan dua disiplin ilmu yaitu teologi dan ekologi. Pengertian teologi adalah pengetahuan adi-kodrati yang metodis, sistematis dan koheren tentang apa yang diamati sebagai wahyu Tuhan atau berkaitan dengan wahyu itu (Donder, 2009). Ekologi merupakan cabang ilmu biologi yang mempelajari hubungan timbal balik antara organisme dengan lingkungannya. Ekologi mengkaji interaksi organisme atau kelompok organisme dengan lingkungannya yaitu semua faktor eksternal yang berdampak langsung pada kehidupan organisme baik yang bersifat biologis maupun fisika. Aspek-aspek lingkungan tidak dibahas secara terpisah namun dipandang sebagai satu ekosistem yang disusun oleh berbagai komponen. Dengan demikian teo-ekologi adalah disiplin ilmu yang membahas tentang eksistensi Tuhan dan makhluk hidup beserta lingkungannya.
Teo Ekologi merujuk pada cabang teologi yang berfokus pada hubungan antara agama, lingkungan, dan keadilan. Teologi ekologi juga dapat diartikan sebagai studi teologis tentang isu-isu kerusakan lingkungan dan upaya penanganannya dari perspektif teologis. Teo Ekologi menggabungkan perspektif teologis dengan isu lingkungan, mengkaji hubungan antara keyakinan agama, nilai-nilai, dan masalah lingkungan. Teo Ekologi menekankan pentingnya hubungan timbal balik antara manusia dan lingkungan, serta bagaimana pandangan teologis dapat memengaruhi perilaku manusia terhadap lingkungan.
Teo Ekologi Hindu
Teo Ekologi dalam perspektif agama Hindu pada dasarnya merupakan konsepsi ketuhanan pantheisme. Paham pantheisme merupakan paham yang mempercayai bahwa Tuhan identik dengan dunia nyata atau dengan kata lain, eksistensi Tuhan imanen dalam realitas (Donder, 2009). Dari pemaparan tersebut dapat dinyatakan bahwa teo-ekologi Hindu memandang bahwa Tuhan adalah realitas alam semesta. Teo-ekologi Hindu adalah disiplin ilmu teologi Hindu yang mempelajari sistem kepercayaan terhadap Tuhan dan eksistensi-Nya dalam setiap organisme dan lingkungannya.
Teo-ekologi Hindu menghadirkan Tuhan dalam setiap unsur alam dan segala aktifitasnya. Unsur alam yang dimaksud adalah unsur biotic (makhluk hidup) dan abiotic (benda mati). Sedangkan aktifitas mengarah pada tindakan organisme baik secara individu maupun kelompok dalam berinteraksi dengan lingkungan alam maupun sosialnya. Konsep tersebut ditegaskan oleh petikan sloka dalam Chāndogya Upaniṣad III.14.1 yaitu: ‘Sarvaṁ khalv idaṁ brahma’ yang berarti ‘Segalanya adalah Tuhan Yang Maha Esa’ dan pada Maitrī Upaniṣad IV.6 menyebutkan ’brahma khalv idaṁ vā va sarvaṁ’ yang berarti ‘sesungguhnya seluruh jagat ini adalah Brahman (Tuhan Yang Maha Esa)’.
Dari pemaparan tersebut, Teo Ekologi Hindu dapat diartikan bahwa salah satu jalan untuk melakukan bakti dan pemujaan terhadap Tuhan adalah melalui pelestarian ekosistem alam, dimana alam tidak hanya dipandang sebagai ciptaan Tuhan, namun alam itu sendiri adalah Tuhan, karena Tuhan meresapi seluruh ciptaan-Nya. Interaksi yang positif dengan lingkungan adalah interaksi yang fungsional artinya memberikan dampak positif kepada semua pihak yang terlibat seperti memberikan dorongan, kesempatan, kemudahan, perkembangan dan sebagainya.
Teo Ekologi Hindu memberikan kesempatan untuk menjaga dan mengembangkan kelestarian alam lingkungan, sekaligus melakukan pelayanan dan pengabdian terhadap Tuhan bagi kehidupan religius manusia Hindu.
Implementasi Teo Ekologi Hindu
Dalam Weda Smerti VII.14 dinyatakan bahwa setelah Tuhan menciptakan alam semesta dengan segala isi termasuk manusia, Tuhan menurunkan Rta serta Dharma. Rta merupakan ajaran pemikiran tentang bagaimana alam semesta bekerja berdasarkan hukum yang pasti. Manusia pada setiap tahap dalam kehidupannya dikuasai oleh fenomena dan hukum alam, bahwa semua yang ada ini tunduk pada alam semesta, tidak ada sesuatu apapun yang luput dari hukum yang berlaku dalam dirinya. Matahari terbit di timur dan tengelam di barat, air mengalir ketempat yang lebih rendah, api membakar, angin berhembus, manusia lapar, haus dan akhirnya mati, karena memang demikianlah hukum yang berlaku pada dirinya. Rta merupakan norma untuk mengatur alam semesta dan dharma untuk menuntun kehidupan manusia. Hal ini merupakan filosofi dasar kehidupan yaitu memelihara serta menjaga dinamika kehidupan alam semesta agar selalu sesuai dengan Rta dan kehidupan manusia yang sesuai dengan Dharma.
Ajaran Weda Smerti di atas kembali dituangkan dalam ajaran Tri Parartha yaitu Asih, Punia dan Bhakti. Asih bermakna pelestarian alam dan kebersihan lingkungan, Punia memiliki arti hidup bersama sesama manusia dan Bhakti yang memiliki arti bakti manusia terhadap Tuhan. Bhakti tersebut akan terwujud jika Asih dan Punia telah diaplikasikan oleh umat manusia.
Ajaran Teo-Ekologi Hindu termuat dalam beberapa teks yang menjadi pedoman dan penuntun bagi Umat Hindu dalam menjalankan praktek ketuhanan yang berhubungan dengan lingkungan. Di antaranya termuat dalam ajaran Lontar Sri Purana Tattwa, Tri Hita Karana, dan Sad Kerti.
Lontar Sri Purana Tattwa
Lontar Sri Purana Tattwa merupakan sumber sastra yang memuat tentang praktik pertanian tradisional Hindu yang berlandaskan sosio-religius. Lontar Sri Purana Tattwa menuntun umat Hindu untuk senantiasa mengabdikan diri kepada Tuhan melalui aktifitas kerja (karma) dan ritual (bhakti). Petani adalah pekerjaan yang mulia, selain secara langsung mengolah alam untuk kesediaan pangan umat manusia, para petani secara tidak langsung menjaga dan melestarikan alam. Semua aktifitas pertanian Hindu mulai dari awal mengolah lahan sampai berakhirnya panen tidak dapat lepas dari ritual.
Teo-ekologi dalam Lontar Sri Purana Tattwa berusaha untuk membangun segi spiritual dan moralitas masarakat Hindu. Spiritual dibangun melalui kepercayaan terhadap eksistensi Tuhan di alam dan pelaksanaan ritual. Sedangkan segi moralitas dibangun melalui etika dalam berinteraksi antara organisme dengan alam dan lingkungannya. Rasa hormat dan syukur umat manusia diwujudkan dengan karma melalui pemeliharaan lingkungan dan bhakti melalui puja serta ritual. Bumi atau tanah dipuja sebagai Ibu Pertiwi. Selayaknya seorang ibu, bumi selalu memberikan perlindungan dan kehidupan berupa sumber pangan kepada manusia. Selayaknya menjaga seorang ibu, manusia hendaknya tidak menyakiti bumi dengan mencemari dan mengekploitasinya secara berlebihan.
Tri Hita Karana
Tri Hita Karana adalah konsep kehidupan yang berasal dari ajaran Hindu yang berarti "tiga penyebab kebahagiaan". Tri mempunyai arti ‘tiga’, Hita berarti ‘kebahagiaan’ dan Karana artinya ‘penyebab’. Tri Hita Karana adalah konsep keseimbangan yang dinamis terhadap lingkungan dalam ajaran Agama Hindu yang merupakan konsep universal yang dinamis serta merupakan landasan dasar hidup manusia menuju kebahagiaan lahir dan bathin, sesuai dengan ajaran agama masing-masing.
Konsep ini menekankan pentingnya menjaga keseimbangan dan harmoni dalam tiga hubungan utama: hubungan manusia dengan Tuhan (Parahyangan), hubungan manusia dengan sesama manusia (Pawongan), dan hubungan manusia dengan alam lingkungan (Palemahan). Tri Hita Karana adalah filsafat hidup umat Hindu dalam membangun sikap hidup yang benar menurut ajaran Agama Hindu. Sikap hidup yang benar menurut ajaran Hindu adalah bersikap yang seimbang antara percaya dan bhakti pada Tuhan dengan mengabdi pada sesama manusia dan menyayangi alam.
Tri Hita Karana menjadi landasan etis dan moral bagi masyarakat Hindu, yang mengintegrasikan nilai-nilai spiritual, sosial, dan ekologis dalam kehidupan sehari-hari. Konsep ini tidak hanya membentuk identitas budaya, tetapi juga menjadi panduan bagi pembangunan yang berkelanjutan dan harmonis. Tri Hita Karana, sebagai filosofi hidup masyarakat Hindu menekankan keseimbangan dan harmoni antara manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan lingkungan, memiliki relevansi yang besar dalam konteks pembangunan masyarakat.
Sad Kerti
Dalam ajaran Agama Hindu, yang memiliki substansi untuk senantiasa memberikan jalan bagi umatnya agar tetap memiliki rasa cinta pada alam dan manusia mampu tetap melaksanakan punia yang merupakan bentuk bhakti ke hadapan Tuhan, hal tersebut terdapat dalam Lontar Purana Bali yang disebut dengan Sad Kerti.
Dengan filosofi yang membangun asih dan punia sebagai sebuah bentuk dalam bhakti kepada Tuhan, ini yang dituangkan menjadi Sad Kerti dalam Lontar Purana Bali. Sad Kerti memiliki arti enam perilaku mulia yang diwujudkan dalam membangun tatanan kehidupan yaitu Atma Kerti, Samudra Kerti, Wana Kerti, Danu Kerti, Jagat Kerti dan Jana Kerti.
Atma Kerti yaitu suatu upaya untuk melakukan pelestarian segala usaha untuk menyucikan Sang Hyang Atma (roh) dari belenggu tri guna.
Samudra Kerti, yaitu upaya untuk menjaga kelestarian samudra sebagai sumber alam yang memiliki fungsi yang sangat kompleks dalam kehidupan umat manusia.
Wana Kerti, yaitu upaya untuk menjaga kelestarian hutan.
Danu Kerti, yaitu upaya untuk menjaga kelestarian sumber-sumber air tawar di dataran seperti mata air, danau, Sungai.
Jagat Kerti, yaitu upaya untuk melestarikan keharmonisan sosial yang dinamis.
Jana Kerti merupakan upaya untuk menegakkan kesucian serta keseimbangan dalam diri kita sendiri atau dalam diri manusia itu sendiri agar berkualitas secara individual.
Dengan suatu harapan bahwa terjaga nya ekosistem dengan baik, hubungan antara manusia dengan alam semesta, hubungan manusia dengan manusia, maka selain Tri Hita Karana terdapat ajaran Sad Kerti yang menjadi sebuah pedoman untuk tatanan kehidupan manusia. Selanjutnya harus diatur sedemikian rupa dengan sebuah dasar tata titi ajaran agama untuk memperkuat landasan pemikiran umat manusia untuk tetap menjaga kelestarian lingkungan. Dalam kemajuan teknologi serta era yang semakin modern tentu ajaran Sad Kerti akan menjadi tonggak kehidupan bagi Umat Hindu khususnya agar tidak hanya menjaga alam semesta namun juga tetap menjaga eksistensinya dengan baik. Memahami Sad Kerti dan diaktualisasi dalam kehidupan sehari-hari sangat penting untuk mewujudkan kehidupan yang harmonis.
Penutup
Berdasarkan ajaran Teo Ekologi Hindu, alam beserta isinya tidak hanya merupakan ciptaan, namun merupakan bagian dari Tuhan itu sendiri. Tuhan meresapi seluruh ciptaannya, seperti dalam Chāndogya Upaniṣad yaitu: “Sarvaṁ khalvidaṁ Brahman”, yang artinya semua yang ada adalah Tuhan. Dengan konsep tersebut, manusia tidak hanya diajarkan untuk menghormati alam, namun menjadikan alam sebagai sarana pemujaan Tuhan. Kehidupan manusia tidak dapat lepas dari alam lingkungan, begitu pula kehidupan spiritualnya.
Alam senantiasa mendukung kehidupan manusia dengan menyediakan segala kebutuhannya, sudah selayaknya terjalin interaksi yang saling mendukung antara manusia dengan alam lingkungan. Dalam Bhagawad Gita V.25 dinyatakan bahwa: ‘Labhante brahma-nirvanam Rsayah ksina-kalmasah Chinna-dvaidha yatatmanah Sarva-bhuta-hite ratah’. Artinya: Siapapun yang senatiasa sibuk menjaga kesejahteraan alam itu dijanjikan akan mencapai Brahma Nirvana (moksa).
